Situasi kawasan Timur Tengah kembali memanas akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Iran melancarkan serangan udara balasan ke sejumlah pangkalan militer AS, termasuk yang berada di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Pangkalan militer AS di Abu Dhabi berjarak sekitar 20 km dari asrama putri mahasiswa RI yang menempuh pendidikan di Mohamed Bin Zayed University for Humanities. Salah seorang mahasiswa, Syabina Hardiansyah, menceritakan suasana menegangkan saat eskalasi konflik meningkat. Dentuman rudal Iran terdengar jelas.
"Ketegangan ini terasa nyata bagi saya karena asrama tempat saya tinggal hanya berjarak sekitar 20 km dari Al Dhafra US Base, sehingga suara dentuman saat rudal ditangkis terdengar sangat jelas," cerita Syabina saat dihubungi detikHikmah, Selasa (3/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syabina tinggal di sebuah asrama yang disediakan kampus Mohamed Bin Zayed University for Humanities. Ada delapan WNI lainnya di sana. Sementara mahasiswa lain berasal dari Turki, Filipina, Uzbekistan, dan Ethiopia. Teman-teman Syabina dari Emirat sedang pulang ke rumah masing-masing.
Selain mendengar dentuman rudal, Syabina juga merasakan getaran dari jendela kamarnya. Meski demikian, suasana tetap tenang karena ada pemberitahuan terkait aktivitas militer yang tengah berlangsung.
"Tetap tenang karena memang ada pemberitahuan notifikasi dari ponsel bahwa itu tangkisan rudal dan kalau situasi sudah terkendali juga ada notifikasi," ujarnya.
KBRI Abu Dhabi, kata Syabina, telah menetapkan status siaga III akibat konflik Timur Tengah. Mereka mengimbau WNI menyiapkan tas darurat dokumen penting dan logistik untuk 72 jam sebagai langkah kesiapsiagaan.
Di tengah suasana siaga, Syabina tetap menjalankan ibadah Tarawih pada malam Ramadan. Untuk alasan keamanan, dia dan teman-temannya memilih Tarawih di asrama dan rumah masing-masing.
"Sebelum serangan terjadi, saya rutin melaksanakan salat Tarawih di masjid dekat asrama yang hanya berjarak 3 menit dengan berjalan kaki. Jemaah dari berbagai negara seperti India, Mesir, dan Suriah senantiasa mengisi penuh barisan masjid. Namun, setelah serangan terjadi dan dentuman mulai terdengar, suasana sedikit berubah," ujarnya.
"Demi keamanan diri dan sesuai arahan untuk berjaga-jaga, saya dan beberapa warga lainnya memilih untuk melaksanakan salat Tarawih di rumah masing-masing," sambung WNI asal Jakarta Timur itu.
Bagi Syabina, pengalaman Ramadan di tengah situasi konflik menyadarkan betapa berharganya ketenangan. "Dan kami berharap suasana damai segera kembali menyelimuti seluruh negeri di sisa bulan suci ini," pungkasnya.
(kri/erd)












































Komentar Terbanyak
PBNU Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran: Brutal dan Merusak Tatanan
Lebaran Muhammadiyah 2026, Ini Tanggal dan Penetapan Resminya
Rusia: AS-Israel Sengaja Tabur Perpecahan di Dunia Islam Selama Ramadan