Wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari

Wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari

Tia Kamilla - detikHikmah
Kamis, 26 Feb 2026 05:15 WIB
Wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari
Foto: Vector_Corp/Freepik
Jakarta -

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang penuh kasih dan bijaksana dalam memberi nasihat kepada para sahabatnya. Salah satu sahabat yang mendapat wasiat langsung dari beliau adalah Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat yang dikenal zuhud dan tegas dalam memperjuangkan kebenaran.

Wasiat tersebut berisi pesan-pesan penting tentang ketakwaan, kejujuran, kesederhanaan, hingga kepedulian terhadap sesama. Lantas, apa saja isi wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari dan apa maknanya bagi kehidupan umat Islam saat ini? Berikut ulasan lengkapnya.

Siapa Itu Abu Dzar Al Ghifari?

Abu Dzar Al Ghifari dikenal sebagai salah satu sahabat Rasulullah SAW yang hidup dalam kesederhanaan. Nama aslinya adalah Jundub bin Junadah. Ia berasal dari suku Ghifar yang terkenal tangguh dan terbiasa menempuh perjalanan jauh di padang pasir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam buku The Great Sahaba oleh Rizem Aizid, diceritakan bahwa suku Ghifar ini dikenal sebagai segerombolan perampok. Mereka berjiwa pemberani dan senang berperang. Di antara orang-orang dari suku Ghifar yang paling buruk perilakunya adalah Abu Dzar Al-Ghifari RA.

Hal ini karena ia tumbuh di lingkungan yang penuh kekerasan dan teror. Namun, Allah SWT pun memberikannya hidayah sehingga ia bisa insaf dan bertaubat.

ADVERTISEMENT

Abu Dzar Al-Ghifari pun juga mengajak teman-temannya untuk bertaubat, namun mereka semua menentang ajakan tersebut. Akhirnya, Abu Dzar Al-Ghifari beserta ibu dan saudara laki-lakinya pergi untuk berhijrah. Saat itu, ia mendengar tentang kedatangan rasul di Makkah Bernama Muhammad.

Mengutip buku 365 Hari Bersama Sahabat Nabi Muhammad susunan Biru Tosca, perjalanan Abu Dzar untuk memeluk Islam bukanlah hal mudah. Saat hendak menyatakan keislamannya, ia harus menempuh perjalanan berat menuju Makkah.

Setibanya di sana, ia menyamar sebagai orang yang hendak melakukan thawaf dan berpura-pura menjadi musafir yang tersesat agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Pada masa itu, kaum Quraisy sangat memusuhi Nabi Muhammad SAW. Jika mereka mengetahui tujuan Abu Dzar datang untuk mencari Rasulullah SAW, nyawanya bisa terancam. Oleh karena itu, ia berhati-hati dan diam-diam mengumpulkan informasi setiap kali mendengar orang menyebut nama Nabi Muhammad.

Abu Dzar dikenal berani, kuat, dan tegas dalam memegang prinsip. Ketika akhirnya bertemu dengan Rasulullah SAW, ia langsung mengucapkan syahadat tanpa ragu dan menyatakan keislamannya secara terbuka.

Menjelang wafatnya, Rasulullah SAW pun menyampaikan wasiat khusus kepada Abu Dzar Al Ghifari sebagai bekal hidupnya.

Wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al Ghifari

Berikut isi wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al Ghifari sebagaimana dinukil dari buku The Great Sahaba karya Rizem Aizid.

1. Mencintai Orang Miskin

Wasiat pertama adalah mencintai kaum fakir dan miskin, yaitu mereka yang hidup dalam kekurangan namun tetap menjaga kehormatan diri dan memilih untuk tidak meminta-minta. Selain itu, ada pula asnaf atau orang yang berhak menerima zakat. Asnaf sendiri terbagi menjadi 8 golongan, yaitu:

  • Kaum fakir, yaitu orang yang sengsara hidupnya
  • Kaum miskin, yaitu orang yang serba kekurangan
  • Amil, yaitu orang yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat umat Islam
  • Mualaf, yaitu orang yang baru memeluk agama Islam
  • Riqab, yaitu budak yang ingin memerdekakan dirinya
  • Gharim, yaitu orang yang tidak mampu membayar utang-utangnya
  • Fi sabilillah, yaitu orang-orang yang berjuang di jalan Allah SWT
  • Ibnu as-sabil, yaitu orang yang kehabisan bekal di perjalanan

Dalam Islam, kepedulian kepada orang miskin diwujudkan melalui sedekah dan zakat. Sedekah dapat dilakukan kapan saja tanpa batasan tertentu, sedangkan zakat memiliki ketentuan dan waktu yang telah diatur, umumnya dikeluarkan setahun sekali.

2. Melihat kepada yang Lebih Rendah dalam Urusan Dunia

Rasulullah SAW juga berpesan agar umat Islam melihat kepada orang yang berada di bawah dalam hal materi dan penghidupan. Sikap ini bertujuan agar seseorang lebih mudah bersyukur dan tidak merasa kurang.

Beliau bersabda,

"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan," (HR Bukhari)

Jika seseorang selalu membandingkan diri dengan yang lebih kaya, dikhawatirkan akan muncul rasa iri dan kurang bersyukur atas nikmat Allah SWT.

3. Menjaga dan Menyambung Tali Silaturahim

Wasiat berikutnya adalah menjaga hubungan kekeluargaan atau silaturahim. Dalam Islam, menjaga silaturahim memiliki kedudukan yang sangat penting karena dapat mempererat ukhuwah dan memperkuat persaudaraan.

Allah SWT berfirman dalam surah An Nisaa ayat 1,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Arab latin: Yā ayyuhan-nāsuttaqū rabbakumul-lażī khalaqakum min nafsiw wāḥidatiw wa khalaqa minhā zaujahā wa baṡṡa minhumā rijālan kaṡīraw wa nisā'ā(n), wattaqullāhal-lażī tasā'alūna bihī wal-arḥām(a), innallāha kāna 'alaikum raqībā(n).

Artinya: "Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

4. Memperbanyak Membaca Hauqalah

Rasulullah SAW juga berpesan agar memperbanyak membaca kalimat hauqalah: Laa haula walaa quwwata illa billah.

Kalimat ini berarti, "Tidak ada daya dan upaya kecuali dari pertolongan Allah." Ucapan tersebut mengingatkan manusia bahwa segala kekuatan dan kemampuan hakikatnya berasal dari Allah SWT.

5. Berani Mengatakan Kebenaran Meskipun Pahit

Wasiat lainnya adalah keberanian untuk berkata benar, meskipun terasa pahit. Kejujuran lebih utama daripada kebohongan, apa pun risikonya.

Nabi Muhammad SAW bersabda,

"Jihad yang paling utama adalah mengatakan kalimat yang hak (benar) kepada penguasa yang zalim," (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

6. Tidak Takut Celaan dalam Berdakwah

Rasulullah SAW juga mengingatkan agar tidak takut terhadap celaan ketika menyampaikan kebenaran.

Allah SWT berfirman dalam surah Al Ahzab ayat 39,

الَّذِيْنَ يُبَلِّغُوْنَ رِسٰلٰتِ اللّٰهِ وَيَخْشَوْنَهٗ وَلَا يَخْشَوْنَ اَحَدًا اِلَّا اللّٰهَ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ حَسِيْبًا

Arab latin: Allażīna yuballigūna risālātillāhi wa yakhsyaunahū wa lā yakhsyauna aḥadan illallāh(a), wa kafā billāhi ḥasībā(n).

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, dan takut kepada-Nya serta tidak merasa takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan."

7. Tidak Meminta-minta kepada Orang Lain

Wasiat terakhir adalah larangan untuk mengemis atau meminta-minta demi kepentingan pribadi. Seberat apa pun kondisi hidup, seorang muslim dianjurkan menjaga kehormatan diri.

Namun, meminta bantuan diperbolehkan jika bertujuan untuk kemaslahatan umat, seperti pembangunan masjid, sarana pendidikan, atau membantu anak yatim dan fakir miskin. Yang dilarang adalah meminta-minta untuk kepentingan pribadi tanpa kebutuhan mendesak.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads