Gaza Sambut Ramadan di Tengah Gencatan Senjata Rapuh dan Bayang-bayang Perang

Gaza Sambut Ramadan di Tengah Gencatan Senjata Rapuh dan Bayang-bayang Perang

Lusiana Mustinda - detikHikmah
Kamis, 19 Feb 2026 14:45 WIB
Gaza Menyambut Ramadan di Tengah Gencatan Senjata
Gaza Menyambut Ramadan di Tengah Gencatan Senjata yang rapuh. Foto: Foto: Al Jazeera/Abdelhakim Abu Riash
Jakarta -

Di tengah kondisi pengungsian dan ketidakpastian, keluarga-keluarga di Gaza berusaha tetap menghadirkan kebahagiaan saat Ramadan tiba. Di kamp pengungsi Bureij, Gaza tengah, Maisoon al-Barbarawi menyambut bulan suci bukan di rumah, melainkan di dalam tenda sederhana yang telah menjadi tempat tinggal sementaranya.

Di langit-langit tenda yang mulai usang, tergantung dekorasi seadanya. Dinding kain dihiasi gambar warna-warni buatan warga kamp untuk menyambut Ramadan. Dengan senyum lelah namun hangat, Maisoon menunjukkan lentera kecil kepada putranya yang berusia sembilan tahun, Hasan. Meski harus berhemat, ia tetap berusaha membelinya.

"Sumber daya saya terbatas, tapi yang penting anak-anak merasa bahagia," ujar Maisoon dilansir Al Jazeera, Rabu (18/2/2026). Ia berharap hiasan sederhana itu bisa menjadi pelipur lara setelah dua tahun penuh kesedihan akibat perang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perempuan 52 tahun yang akrab disapa Umm Mohammed itu memiliki dua anak lelaki usia 15 dan 9 tahun yang ia sebut sebagai harta paling berharga. Baginya, setiap hari ketika mereka masih selamat adalah alasan untuk bersyukur, sekaligus sumber kecemasan yang tak pernah benar-benar hilang sejak konflik berkecamuk.

ADVERTISEMENT

Ramadan tahun ini terasa berbeda bagi banyak warga Gaza karena adanya ketenangan relatif berkat gencatan senjata. Namun menurut Maisoon, situasinya belum sepenuhnya aman. Tembakan masih sesekali terdengar, dan semua orang sadar perang bisa kembali kapan saja. Meski begitu, dibanding masa puncak konflik yang menewaskan puluhan ribu warga Palestina, keadaan sekarang terasa sedikit lebih ringan.

Di kamp, Maisoon aktif membantu kegiatan bersama menyiapkan roti, membagi kurma, dan membagikan air menjelang azan Magrib di hari pertama puasa. Ramadan kali ini adalah yang ketiga baginya dalam pengungsian. Ia dan keluarganya kehilangan rumah di Gaza tenggara pada awal perang dan harus berpindah-pindah sebelum akhirnya menetap di Bureij dalam kondisi yang ia gambarkan sangat memprihatinkan.

"Kami mencoba menciptakan kehidupan dan kebahagiaan dari ketiadaan," katanya pelan. Ramadan dan Idul Fitri datang silih berganti, tetapi keadaan mereka nyaris tak berubah.

Meski hatinya dipenuhi campuran harapan dan ketakutan, Maisoon tetap memandang Ramadan sebagai berkah. Ia bahkan belum tahu menu berbuka untuk keluarganya karena keterbatasan dana. Yang sudah pasti ia siapkan hanyalah doa: agar perang tidak kembali dan keadaan benar-benar damai.

Ketakutan itu bukan miliknya seorang. Banyak warga Gaza cemas konflik akan meletus lagi, seperti tahun lalu ketika pertempuran kembali terjadi pada minggu kedua Ramadan. Saat itu perbatasan ditutup dan bantuan makanan terhenti, memicu krisis pangan parah berbulan-bulan.

Kini warga saling mengingatkan untuk menimbun persediaan-tepung, makanan kering, apa pun yang bisa disimpan. Trauma kelaparan masih membekas. Maisoon bahkan mengenang saat putranya pernah berdoa ingin mati karena tak tahan menahan lapar.

Gaza memasuki Ramadan tahun ini di bawah gencatan senjata yang dimulai 10 Oktober 2025. Laporan lembaga kemanusiaan menunjukkan ketersediaan sebagian bahan makanan mulai membaik dibanding masa eskalasi sebelumnya. Aktivitas perdagangan juga perlahan kembali, meski distribusi bantuan masih tidak stabil dan sering terhambat.

Pasar memang kembali menjual berbagai barang, tetapi harga tetap tinggi sementara daya beli warga sangat lemah. Akibatnya, sebagian besar penduduk masih bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.

Bagi warga seperti Maisoon dan ribuan keluarga lain, Ramadan bukan hanya bulan ibadah melainkan ujian kesabaran, harapan, dan ketahanan hati. Di balik tenda-tenda pengungsian, mereka terus menyalakan lentera kecil harapan, menunggu hari ketika damai benar-benar datang.



(lus/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads