Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menyampaikan pesan menjelang pelaksanaan Tarawih perdana Ramadan 1447 H, Rabu (18/2). Ia menegaskan bahwa tahun ini Istiqlal mengusung tema "Ramadan Hijau", sejalan dengan gagasan besar yang tengah dikembangkan di Kementerian Agama Republik Indonesia, yakni konsep eko-teologi atau Teologi Hijau.
Ramadan kali ini menjadi momentum untuk memperkenalkan cara pandang keagamaan yang lebih ramah terhadap alam dan kehidupan.
Memaknai Eko-Teologi
Menurut Nasaruddin Umar, eko-teologi memiliki makna yang sangat fundamental. Ia menjelaskan bahwa Tuhan dalam ajaran Islam lebih menonjol sebagai nurture, yakni lembut, mendidik, mengasuh, dan membina, bukan sebagai sosok yang keras dan penuh kemarahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita perhatikan, Tuhan itu lebih menonjol sebagai feminin God, lebih pada sifat kelembutan dan kasih sayang. Nabi juga tampil sebagai figur jamaliah, penuh keindahan dan kelembutan. Bahkan kitab suci kita pun sarat dengan pesan-pesan yang meneduhkan," ujarnya.
Namun, ia mengkritisi realitas umat yang kerap menampilkan wajah keagamaan yang terlalu maskulin-keras, formalistik, dan penuh nuansa perjuangan yang konfrontatif. Teologi, menurutnya, sering kali dipahami dalam kerangka formal logic dan simbolisme yang kaku, bukan sebagai kekuatan yang melembutkan hati dan mencerahkan jiwa.
"Tujuan agama sesungguhnya adalah melembutkan hati, jiwa, dan pikiran manusia. Masjid seharusnya menjadi ruang yang menenangkan, bukan ruang yang menegangkan," tegasnya.
Agama dan Tanggung Jawab terhadap Alam
Hubungan manusia dengan alam menjadi perhatian utama. Menurut Nasaruddin, manusia tidak mungkin menjadi hamba Allah SWT yang baik tanpa lingkungan yang sehat. Demikian pula, peran manusia sebagai khalifah di bumi mensyaratkan tanggung jawab menjaga kelestarian alam.
"Alam ini punya hak sebagaimana manusia punya hak. Jika hak-hak alam diabaikan, maka alam bisa 'marah'," ujarnya, seraya mengingatkan berbagai bencana seperti banjir, longsor, dan tsunami sebagai tanda ketidakseimbangan relasi manusia dengan lingkungan.
Karena itu, ia mengajak umat untuk mengubah cara pandang terhadap alam. Alam tidak boleh lagi diposisikan semata sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra kehidupan yang harus dijaga dan diperkuat secara bersama-sama.
Tema "Ramadan Hijau" di Masjid Istiqlal menjadi langkah konkret untuk membumikan gagasan Teologi Hijau tersebut. Tidak hanya sebatas wacana, konsep ini diharapkan melahirkan perubahan nyata dalam pola pikir dan perilaku keberagamaan.
"Kalau ini terwujud, kita akan menyaksikan pemandangan dunia yang sangat indah," tutupnya.
(dvs/inf)












































Komentar Terbanyak
MUI Desak RI Keluar dari Board of Peace Buntut Serangan AS-Israel ke Iran
Pernyataan Soal Zakat Picu Polemik, Menag Sampaikan Klarifikasi
PBNU Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran: Brutal dan Merusak Tatanan