Kain Kafan Rasulullah SAW, Sederhana dengan Tiga Lembar Kain Putih

Kain Kafan Rasulullah SAW, Sederhana dengan Tiga Lembar Kain Putih

Tia Kamilla - detikHikmah
Sabtu, 07 Feb 2026 05:00 WIB
Ilustrasi kain kafan
Ilustrasi kain kafan. Foto: Getty Images/iStockphoto/idizimage
Jakarta -

Rasulullah SAW wafat pada Senin, 12 Rabiul Awal 11 H, atau 8 Juni 632 M. Beliau meninggal di kota Madinah pada usia 63 tahun. Jasad Nabi Muhammad SAW dibungkus dengan kain kafan putih.

Kain kafan itu terdiri dari tiga lembar dan terbuat dari bahan kapas putih yang bersih dan sederhana. Kain kafan bukan sekadar penutup tubuh, tapi juga teladan bagi umat Islam. Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian mengkafani mayat saudara kalian, kafanilah sebaik-baiknya." (HR Muslim)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari hadits tersebut, dijelaskan bahwa setiap jenazah muslim dianjurkan dikafani dengan baik dan benar. Pengafanan Nabi SAW menjadi contoh paling mulia bagi umat Islam.

Lalu, bagaimana kain kafan Nabi SAW dan hikmah yang bisa kita ambil untuk kehidupan sehari-hari? Berikut penjelasannya.

ADVERTISEMENT

Kain Kafan Rasulullah SAW Hanya Tiga Lembar Kain Putih

Setelah wafat, Rasulullah SAW dimandikan dan diurus seperti jenazah pada umumnya. Jasad beliau kemudian dikeringkan sebelum dibungkus dengan kain kafan.

Banyak riwayat dari sahabat dan ulama menjelaskan bagaimana jasad Nabi SAW dikafani. Riwayat-riwayat ini memberikan gambaran tentang jumlah, bahan, dan cara pengafanan Rasulullah SAW.

Menurut riwayat Ibnu Abbas dalam Al-Wafa, dijelaskan, "Setelah mereka memandikan jasad Rasulullah SAW, mereka pun mengeringkannya lalu memperlakukannya seperti jenazah pada umumnya. Kemudian jasad beliau dibungkus dengan dua kain kafan berwarna putih dan selendang yang terbuat dari bahan katun." (HR Ahmad)

Dalam Sunan an-Nasai Jilid 2, Ishaq mengabarkan bahwa Abdu Razaq mengatakan dari Ma'mar dari Zuhri dari Urwah dari Aisyah RA, "Nabi SAW dikafani dengan tiga lapis kain yang terbuat dari kapas berwarna putih."

Qutaibah juga mengabarkan dari Malik dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah RA, "Sesungguhnya Rasulullah SAW dikafani dengan tiga lapis kain putih yang terbuat dari kapas tanpa baju dan sorban."

Hafs menambahkan dari Hisyam dari bapaknya dari Aisyah RA, "Rasulullah SAW dikafani dengan tiga lapis kain putih buatan Yaman yang terbuat dari kapas tanpa baju dan sorban."

Ketika ditanya mengenai perkataan orang yang mengatakan bahwa Nabi SAW dikafani dalam dua lapis kain dan satu selimut hibarah (buatan Yaman), Aisyah RA menjawab, "Selimut itu sudah diberikan tetapi sahabat-sahabat Rasulullah menolaknya dan tidak mengafaninya dengan selimut itu."

Kain Kafan yang Paling Baik Menurut Islam

Dalam Islam, memilih kain kafan yang baik merupakan bagian dari sunnah dalam memuliakan jenazah. Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW kain berwarna putih adalah kain kafan yang terbaik menurut Islam.

Warna putih dipilih karena dianggap lebih suci dan lebih baik. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Amr bin Ali, "Pakailah pakaian kalian yang berwarna putih karena sesungguhnya warna putih itu lebih suci dan lebih baik. Kafanilah orang-orang yang mati dari kalian dengan kain warna putih." (HR Ibnu Majah)

Hadits ini menegaskan pentingnya warna putih tidak hanya dalam berpakaian sehari-hari, tetapi juga dalam mempersiapkan jenazah, sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Perintah Memperbagus Kain Kafan

Dalam Islam, mengurus jenazah termasuk tanggung jawab dan bentuk penghormatan terakhir untuknya. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah memberikan kain kafan yang rapi, bersih dan layak digunakan.

Mengacu sumber sebelumnya, Abdurrahman bin Khalid ar-Raqqi al-Qatthan dan Yusuf bin Sa'id mengabarkan bahwa Hajjaj berkata dari Ibnu Juraij dari Abu Zubair dari Jabir RA:

"Rasulullah SAW pernah berkhutbah dan di dalam khutbahnya beliau menceritakan tentang salah seorang sahabatnya yang meninggal lalu dikubur pada malam hari dan dikafani dengan kain kafan yang jelek. Tidak bisa menutupi semua tubuhnya. Karena hal itu, maka Rasulullah kemudian melarang mengubur siapa pun pada malam hari kecuali kalau terpaksa melakukan penguburan pada malam hari."

Kisah ini mengingatkan kain kafan yang baik dan rapi sangat penting sebagai bentuk penghormatan terhadap jenazah. Rasulullah SAW bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian dipercayakan untuk mengurus pemakaman saudaranya, maka hendaklah ia memperbagus kain kafannya (dan membungkusnya dengan baik)." (HR Ibnu Majah dan Muslim)

Dari hadits di atas, dijelaskan bahwa apabila seseorang dipercaya untuk mengurus jenazah, hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan. Jenazah harus dibungkus dengan kain yang bersih, rapi, dan pantas. Hal ini merupakan bentuk penghormatan terakhir sekaligus meneladani sunnah Nabi Muhammad SAW.

Hikmah Kain Kafan Rasulullah SAW

Kain kafan Rasulullah SAW terdiri dari tiga lembar kapas putih yang sederhana. Kesederhanaan ini mengajarkan umat Islam untuk menghormati jenazah tanpa kemewahan. Teladan ini menunjukkan nilai kesederhanaan lebih penting daripada harta atau barang mewah.

Kain kafan yang bersih dan rapi menunjukkan penghormatan terakhir kepada jenazah. Rasulullah SAW menekankan agar setiap jenazah dikafani dengan baik dan pantas.

Warna putih pada kain kafan melambangkan kesucian dan kebaikan. Pemilihan warna ini bukan hanya untuk jenazah, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mengajarkan umat Islam menjaga kesucian dan kebersihan dalam setiap tindakan.

Mengurus jenazah dengan kain kafan yang layak adalah tanggung jawab setiap muslim. Rasulullah SAW bersabda agar kain kafan dibuat sebaik mungkin. Ini menunjukkan penghormatan terhadap jenazah harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh rasa hormat.

Pengafanan Nabi SAW menjadi contoh paling mulia bagi umat Islam. Hikmah dari kain kafan beliau dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesederhanaan, kebersihan, dan penghormatan menjadi nilai yang bisa diteladani semua umat.



(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads