- Syarat Puasa dalam Islam
- Syarat Sah Puasa 1. Beragama Islam 2. Suci dari Haid dan Nifas bagi Perempuan 3. Berakal 4. Dilaksanakan pada Waktu Tertentu
- Syarat Wajib Puasa 1. Beragama Islam 2. Baligh 3. Berakal 4. Sehat 5. Mampu 6. Tidak Sedang dalam Perjalanan 7. Suci dari Haid dan Nifas bagi Perempuan
Puasa merupakan salah satu ibadah pokok dalam ajaran Islam yang wajib dilaksanakan oleh umat Muslim pada waktu dan ketentuan tertentu. Agar ibadah puasa bernilai sah dan dapat diterima secara syariat, pelaksanaannya harus memenuhi sejumlah persyaratan yang telah ditetapkan dalam hukum Islam.
Secara umum, syarat puasa terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu syarat sah puasa dan syarat wajib puasa.
Syarat Puasa dalam Islam
Dalam Islam, syarat puasa mencakup ketentuan-ketentuan yang menentukan apakah seseorang diwajibkan berpuasa dan apakah pelaksanaan puasanya dinilai sah. Mengacu pada buku Puasa: Syarat dan Rukun yang Membatalkan karya Saiyid Mahadhir, Lc., MA, syarat puasa dibedakan menjadi syarat sah dan syarat wajib.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syarat Sah Puasa
Syarat sah puasa adalah ketentuan yang harus dipenuhi agar pelaksanaan puasa seseorang dinilai sah secara syariat. Dalam buku Menjaga Puasa Ramadhan karya Dr. Mansur Chadi Mursid, M.M, dijelaskan bahwa syarat sah puasa meliputi:
1. Beragama Islam
Puasa hanya sah apabila dilakukan oleh seorang Muslim. Puasa orang kafir atau orang yang murtad tidak dinilai sah menurut syariat Islam.
2. Suci dari Haid dan Nifas bagi Perempuan
Perempuan yang sedang mengalami haid atau nifas tidak sah menjalankan puasa dan diharamkan berpuasa dalam keadaan tersebut berdasarkan kesepakatan para ulama.
3. Berakal
Puasa tidak sah bagi orang yang tidak berakal, seperti orang yang mengalami gangguan jiwa atau gila.
4. Dilaksanakan pada Waktu Tertentu
Puasa dinilai sah apabila dilakukan pada waktu yang telah ditetapkan secara syariat. Sebaliknya, puasa menjadi tidak sah jika dilakukan pada hari-hari yang dilarang untuk berpuasa.
Dengan terpenuhinya syarat-syarat tersebut, pelaksanaan puasa dapat dinilai sah menurut ketentuan hukum Islam.
Baca juga: Hukum Puasa dalam Keadaan Junub, Apakah Sah? |
Syarat Wajib Puasa
Syarat wajib puasa adalah ketentuan yang menjadikan seseorang berkewajiban untuk melaksanakan puasa, khususnya puasa wajib seperti puasa Ramadan. Apabila salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka kewajiban puasa tidak berlaku baginya. Dalam kitab-kitab fikih, para ulama sepakat bahwa syarat wajib puasa meliputi:
1. Beragama Islam
Puasa hanya diwajibkan bagi umat Islam. Orang yang tidak beragama Islam tidak memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa.
2. Baligh
Puasa wajib hanya diwajibkan bagi mereka yang telah mencapai usia baligh. Anak-anak belum diwajibkan berpuasa, namun orang tua dianjurkan untuk melatih mereka berpuasa sejak usia dini.
3. Berakal
Kewajiban puasa hanya berlaku bagi orang yang berakal. Orang yang tidak berakal, seperti orang gila, tidak dibebani kewajiban puasa.
4. Sehat
Orang yang sedang sakit tidak diwajibkan menjalankan puasa Ramadhan, tetapi diwajibkan menggantinya di hari lain. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Latin: Syahru ramaḍānal-lażī unzila fīhil-qur'ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān(i), faman syahida minkumusy-syahra falyaṣumh(u) wa man kāna marīḍan au 'alā safarin fa 'iddatum min ayyāmin ukhar(a), yurīdullāhu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-'usr(a), wa litukmilul-'iddata wa litukabbirullāha 'alā mā hadākum wa la'allakum tasykurūn(a).
Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. (QS Al-Baqarah: 185)
Berdasarkan Tafsir Kementerian Agama RI, ayat tersebut menjelaskan bahwa orang sakit atau dalam perjalanan dapat mengganti puasa di hari lain dan hukumnya adalah wajib.
5. Mampu
Puasa diwajibkan bagi mereka yang secara fisik mampu melaksanakannya. Orang yang sudah lanjut usia atau memiliki kondisi fisik yang sangat lemah sehingga tidak memungkinkan untuk berpuasa, tidak diwajibkan berpuasa dan dapat menggantinya dengan membayar fidyah, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 184,
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗوَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Latin: Ayyāmam ma'dūdāt(in), faman kāna minkum marīḍan au 'alā safarin fa 'iddatum min ayyāmin ukhar(a), wa 'alal-lażīna yuṭīqūnahū fidyatun ṭa'āmu miskīn(in), faman taṭawwa'a khairan fahuwa khairul lah(ū), wa an taṣūmū khairul lakum in kuntum ta'lamūn(a).
Artinya: (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan,51) itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah: 184)
6. Tidak Sedang dalam Perjalanan
Orang yang sedang melakukan perjalanan tertentu diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain. Namun, perjalanan yang dimaksud harus memenuhi syarat-syarat tertentu.
7. Suci dari Haid dan Nifas bagi Perempuan
Perempuan yang sedang haid atau nifas tidak diwajibkan berpuasa. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Aisyah RA yang menyebutkan bahwa perempuan haid atau nifas diperintahkan untuk mengganti puasa, namun tidak diwajibkan mengganti salat.
Baca juga: Mengapa Nabi Muhammad Melakukan Puasa Senin? |
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Kecam Israel Atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, MUI Minta RI Ambil Langkah Diplomatik
Dubes Saudi: Serangan Iran ke Negara Teluk Berdampak pada Solidaritas Umat Islam
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Pemerintah Lakukan Investigasi