Sholat dhuha merupakan ibadah sunnah yang sangat istimewa. Selain menjadi pembuka pintu rezeki, sholat yang dikerjakan pada pagi hari ini juga menjadi pengganti sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia.
Namun, di tengah kesibukan aktivitas pagi, sering kali muncul pertanyaan di benak umat Islam terkait batas waktu sholat dhuha. Memahami batas waktu pelaksanaan ibadah ini sangat krusial agar tidak mengerjakannya pada waktu yang terlarang.
Lantas, kapan batas waktu sholat dhuha? Berikut penjelasan berdasarkan hadits dan ulama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Waktu Sholat Dhuha
Dijelaskan dalam buku Penuntun Mengerjakan Shalat Dhuha oleh Huriyah Huwaida, waktu pelaksanaan sholat dhuha dimulai ketika matahari naik sepenggalah. Waktu tersebut dianggap tepat dan menjadi pegangan dalam pelaksanaan sholat dhuha.
Namun, terdapat waktu yang paling utama dalam pelaksanaan sholat dhuha, yaitu ketika hari sudah terasa panas. Hal ini dijelaskan dalam hadits berikut:
"Rasulullah keluar menuju tempat ahli Quba. Ketika itu mereka sedang melakukan sholat dhuha, kemudian bersabda: 'Ini adalah sholatnya orang-orang yang kembali kepada Allah di waktu anak-anak unta telah bangkit karena kepanasan di waktu dhuha'." (HR Ahmad, Muslim dan Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, Zaid bin Arqam RA menceritakan melihat orang mengerjakan sholat dhuha pada waktu belum begitu siang. Lantas, ia berkata, "Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa sholat dhuha pada selain saat-saat seperti itu adalah lebih utama. Sebab, Rasulullah SAW pernah bersabda 'Sholatnya orang-orang yang kembali kepada Allah adalah pada waktu anak-anak unta sudah bangun dari pembaringannya karena panasnya matahari yang telah menyengat'." (HR Muslim)
Hadits di atas dinukil dari buku Sholat Dhuha Dulu, Yuk karya Imron Mustofa.
Batas Waktu Sholat Dhuha
Menurut hadits dalam Shahih al-Jami, Abu Darda' RA dan Abu Dzar RA mengisahkan bahwa Rasulullah SAW, bersabda, "Allah SWT berfirman, 'Wahai anak Adam, rukulah (sholatlah) untuk-Ku empat rakaat dari awal siang, niscaya Aku akan mencukupimu pada akhir siangmu."
Berdasarkan hadits tersebut, sholat dhuha dapat dilaksanakan ketika matahari menampakkan sinar. Jika dicermati, batas waktu sholat dhuha antara pukul 07.00 hingga menjelang tengah hari, yakni sekitar pukul 11.30.
Terkait waktu sholat dhuha, para ulama menjelaskan posisi matahari yang telah naik setinggi kurang lebih satu tombak setara dengan seperempat hingga sepertiga jam sejak matahari terbit. Hal ini dijelaskan dalam Al-Fiqh Al-Muyassar yang dinukil dari laman MUI sebagai berikut:
مِنْ طُلُوعِ الشَّمْسِ حَتَّى تَرْتَفِعَ قَدْرَ رُمْحٍ فِي رَأْيِ الْعَيْنِ. وَهُوَ قَدْرُ مِثْرٍ تَقْرِيبًا ، وَيُقَدَّرُ بِالْوَقْتِ بِحَوَالِي رُبْعِ السَّاعَةِ أَوْ ثُلُثِهَا
Artinya: "Yaitu sejak terbitnya matahari hingga matahari naik setinggi satu tombak menurut pandangan mata, yang kira-kira setara dengan satu meter. Jika diukur berdasarkan waktu, hal itu sekitar seperempat jam atau sepertiganya."
Hal ini sejalan dengan penjelasan Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu, yang menguraikan secara rinci ukuran ketinggian matahari berdasarkan riwayat hadits, berikut penjelasannya:
بَيَّنَ حَدِيثُ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ قَدْرَ ارْتِفَاعِهَا بِلَفْظِ : وَتَرْتَفِعُ قِيسَ - أَيْ قَدْرَ - رُمْحٍ أَوْ رُمْحَيْنِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِي، وَطُولُ الرَّمْحِ: م أَوْ سَبْعَةُ أَذْرُعٍ فِي رَأْيِ الْعَيْنِ تَقْرِيبًا ، وَقَالَ الْمَالِكِيَّةُ: اثْنَا عَشَرَ شبرا
Artinya: "Hadits 'Amr bin 'Abasah menjelaskan kadar naiknya matahari dengan lafaz: hingga ia naik setinggi yakni kira-kira satu tombak atau dua tombak. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan An-Nasa'i. Panjang satu tombak kira-kira 2,5 meter atau sekitar tujuh hasta menurut perkiraan pandangan mata. Sementara itu, ulama Malikiyah berpendapat bahwa panjangnya adalah dua belas jengkal."
Para ulama juga menjelaskan penetapan waktu sholat dhuha mengandung hikmah agar setiap seperempat siang tidak kosong dari ibadah sholat.
Seperempat pertama diisi sholat Subuh, seperempat kedua sholat dhuha, seperempat ketiga sholat Dzuhur, dan seperempat terakhir sholat Ashar. Sebagaimana dijelaskan dalam Mirqah Al-Mafatih Misykah Al-Masabih berikut ini:
وَالْحَاصِلُ أَنَّ أَوَّلَهُ حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ وَآخِرَهُ قُرْبَ الاِسْتِوَاءِ ، وَأَفْضَلُهُ أَوْسَطُهُ، وَهُوَ رُبْعُ النَّهَارِ، لِئَلَّا يَخْلُوَ كُلُّ رُبْعٍ مِنَ النَّهَارِ عَنِ الصَّلَاةِ
Artinya: "Kesimpulannya, awal waktu sholat dhuha adalah ketika matahari terbit, dan akhir waktunya adalah menjelang istiwa' (matahari tepat di tengah langit). Adapun waktu yang paling utama adalah pertengahannya, yaitu pada seperempat hari, agar setiap seperempat waktu siang tidak kosong dari pelaksanaan sholat."
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026