15 Kriteria Memilih Teman yang Baik dalam Islam

15 Kriteria Memilih Teman yang Baik dalam Islam

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Minggu, 25 Jan 2026 11:00 WIB
15 Kriteria Memilih Teman yang Baik dalam Islam
Ilustrasi berbicara dengan teman. Foto: Getty Images/iStockphoto/Neda Krstic
Jakarta -

Memilih teman dalam Islam bukan sekadar urusan sosial, melainkan berkaitan erat dengan penjagaan akhlak dan keimanan. Al-Qur'an dan hadis banyak menegaskan bahwa lingkungan pergaulan sangat memengaruhi perilaku seseorang, karena manusia cenderung meniru sikap dan kebiasaan orang-orang terdekatnya.

Oleh karena itu, Islam memberikan panduan dalam memilih teman agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Berikut ini beberapa kriteria memilih teman dalam Islam yang dirangkum dari Al-Qur'an, hadis, dan pandangan para ulama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

15 Kriteria Memilih Teman dalam Islam

Memilih teman dalam Islam bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga berdampak pada agama dan kehidupan seseorang. Berikut ini kriteria memilih teman dalam Islam yang disusun oleh tim detikHikmah:

1. Teman yang Berakal (Akal Sehat)

فإذا طلبت رفيقا ليكون شريكك في التعلم، وصاحبك في أمر دينك ودنيا فراع فيه خمس خصال: الأولى: العقل فلا خير في صحبة الأحمق، فإلى الوحشة والقطيعة يرجع آخرها، وأحسن أحواله أن يضرك وهو يريد أن ينفعك والعدو العاقل خير من الصديق الأحمق

ADVERTISEMENT

Artinya: Bila kau ingin mencari sahabat yang menemanimu dalam belajar atau dalam urusan agama dan dunia, maka perhatikan lima hal. Pertama, akalnya. Tidak ada kebaikan dalam bersahabat dengan orang bodoh. Persahabatan itu biasanya berakhir dengan kerenggangan dan perpisahan. Bahkan, dalam kondisi terbaiknya, ia bisa mencelakakanmu meski bermaksud menolongmu. Musuh yang cerdas lebih baik daripada sahabat yang bodoh. (Imam Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, hlm. 90)

Imam Al-Ghazali menempatkan akal sebagai kriteria utama karena kebodohan sering menimbulkan mudarat, meskipun dilakukan dengan niat baik.

2. Teman yang Berakhlak Terpuji

الثانية: حسن الخلق فلا تصحب من ساء خلقه، وهو الذي لا يملك نفسه عند الغضب والشهوة

Artinya: Kedua, akhlak yang baik. Jangan bersahabat dengan orang yang berakhlak buruk, yaitu orang yang tidak mampu mengendalikan dirinya ketika marah dan mengikuti hawa nafsu. (Imam Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, hlm. 90-91)

Akhlak yang buruk berpotensi merusak hubungan dan menyeret pada perilaku yang tidak terkontrol.

3. Teman yang Saleh (Menjauhi Dosa Besar)

الثالثة: الصلاح: فلا تصحب فاسقا مصرا على معصية كبيرة، لأن من يخاف الله لا يصر على كبيرة، ومن لا يخاف الله لا تؤمن غوائله

Artinya: Ketiga, kesalehan. Jangan bersahabat dengan orang fasik yang terus-menerus melakukan dosa besar. Orang yang takut kepada Allah tidak akan terus-menerus melakukannya, sedangkan orang yang tidak takut kepada Allah tidak bisa dipercaya dari kejahatannya. (Imam Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, hlm. 91)

Kesalehan di sini bukan sekadar rajin ibadah, tetapi tercermin dari sikap menjauhi dosa besar. Orang yang tidak takut kepada Allah berpotensi membahayakan orang di sekitarnya.

Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman dalam surah Al Kahfi ayat 28:

ولا تُطِع من أغفلنا قَلبَهُ عَن ذِكرِنا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُه فُرْطا

Artinya: Janganlah kamu mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, yang mengikuti hawa nafsunya, dan keadaannya melampaui batas. (QS. Al-Kahfi: 28)

4. Tidak Serakah terhadap Dunia

الرابعة: ألا يكون حريصا على الدنيا

Artinya: Keempat, jangan bersahabat dengan orang yang sangat serakah terhadap dunia. Pergaulan dengan orang yang rakus terhadap dunia ibarat racun, karena tabiat manusia mudah meniru tanpa disadari. Bergaul dengan orang serakah menambah keserakahan, sedangkan bergaul dengan orang zuhud menumbuhkan kezuhudan. (Imam Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, hlm. 92)

Lingkungan pertemanan sangat memengaruhi cara pandang seseorang terhadap dunia.

5. Berteman dengan Orang yang Jujur

الخامسة: الصدق فلا تصحب كذابا

Artinya: Kelima, jujur. Jangan bersahabat dengan pendusta, karena engkau akan tertipu olehnya. Pendusta itu seperti fatamorgana, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. (Imam Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, hlm. 92)

Kejujuran penting agar informasi dan sikap yang diterima tidak menyesatkan.

6. Sahabat yang Saleh dan Taat kepada Allah

Sahabat yang saleh adalah orang yang taat kepada Allah, berpegang teguh pada ajaran agama, mencintai sunah, menjauhi dosa, dan menjadikan persahabatan karena Allah. Ia mengingatkan saat lalai dan menemani dalam ketaatan.

Rasulullah SAW bersabda "Orang-orang mukmin itu bagaikan bangunan, satu bagian menguatkan bagian lainnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Tidak sibuk Mencari Kesalahan Orang Lain

Sahabat yang baik tidak sibuk mencari kesalahan, tetapi berusaha membela dan memaklumi saudaranya.

Ibn Ma'azin berkata "Orang beriman mencari alasan untuk saudaranya, sedangkan orang munafik mencari-cari kesalahan."

Al-Fudayl ibn 'Iyadh berkata "Kesatriaan adalah mengabaikan kesalahan saudaramu."

8. Orang yang Memberi Rasa Aman dan Mendorong ke Hal Baik

Sahabat yang saleh membuat orang lain merasa aman dengan perkataan dan perbuatannya.
Abu'l-Fayd ibn Ibraaheem al-Misri berkata "Bergaullah dengan orang yang membuatmu aman. Melihatnya mendorongmu berbuat baik dan mengingatkanmu kepada Tuhanmu." (Aadaab al-'Ishrah)

9. Tidak Berteman dengan Pendusta

Diriwayatkan dalam kitab Usul al-Kafi bahwa Imam Sajjad (AS) berkata kepada putranya, Imam Baqir (AS): "Jangan menjadi teman, penutur, atau sahabat lima orang."

Salah satunya adalah pendusta. Hindarilah pergaulan dengan orang yang pendusta, karena ia seperti fatamorgana; menampakkan yang jauh menjadi dekat dan menjauhkan yang dekat darimu. Pendusta menipu persepsi dan membuat seseorang sulit membedakan kebenaran.

10. Tidak Berteman dengan Pengkhianat

Hindarilah pergaulan dengan orang yang melanggar atau berkhianat, karena ia akan mengkhianatimu demi sesuatu yang sangat kecil, bahkan kurang dari itu. Seseorang yang terbiasa melanggar amanah tidak layak dipercaya dalam persahabatan.

11. Tidak Berteman dengan Orang Kikir

Hindarilah pergaulan dengan orang yang kikir, karena ia akan menahan hartanya darimu ketika kamu sangat membutuhkannya sifat kikir menghilangkan empati dan kepedulian dalam hubungan sosial.

12. Tidak Berteman dengan Orang Bodoh

Hindarilah pergaulan dengan orang yang bodoh, karena ia dapat mencelakakanmu dengan kebodohannya, meskipun ia bermaksud memberi manfaat. Niat baik tanpa akal sehat justru berpotensi mendatangkan mudarat.

13. Pemutus Tali Silaturahmi

Hindarilah pergaulan dengan orang yang memutuskan hubungan kekerabatan, karena ia dijauhkan dari rahmat Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam surah Muhammad ayat 22 dan 23 yang berbunyi:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ

Latin: Fahal 'asaitum in tawallaitum an tufsidū fil-arḍi wa tuqaṭṭi'ū arḥāmakum.

Artinya: Apakah seandainya berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? (QS Muḥammad: 22)


اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ

Latin: Ulā'ikal-lażīna la'anahumullāhu fa aṣammahum wa a'mā abṣārahum.

Artinya: Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) dan membutakan penglihatan mereka. (QS Muḥammad: 23)

Dan firman Allah SWT dalam surah Ar Rad ayat 25,

وَالَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْ ۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۙ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ

Latin: Wal-lażīna yanquḍūna 'ahdallāhi mim ba'di mīṡāqihī wa yaqṭa'ūna mā amarallāhu bihī ay yūṣala wa yufsidūna fil-arḍ(i), ulā'ika lahumul-la'natu wa lahum sū'ud-dār(i).

Artinya: Orang-orang yang melanggar perjanjian (dengan) Allah setelah diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (seperti silaturahmi), dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itulah orang-orang yang mendapat laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam). (QS Ar-Ra'd: 25)

Serta dalam Surah Al-Baqarah ayat 27 yang berbunyi:

الَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖۖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

Latin: Allażīna yanquḍūna 'ahdallāhi mim ba'di mīṡāqih(ī), wa yaqṭa'ūna mā amarallāhu bihī ay yūṣala wa yufsidūna fil-arḍ(i), ulā'ika humul-khāsirūn(a).

Artinya: (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (silaturahmi), dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS Al-Baqarah: 27, Dikutip dari Empat Puluh Hadits, jilid 3, Sayyid Hashim Rasouli Mahallati)

14. Berteman dengan Orang-Orang Baik

Dalam buku 21 Nasihat Abadi Penghalus Budi: Buku Kedua karya Prof. Muhammad Taqi Misbah Yazdi dijelaskan bahwa seseorang yang ingin tergolong sebagai orang baik hendaknya bergaul dan berteman dengan orang-orang baik. Sebaliknya, jika tidak ingin termasuk dalam golongan orang-orang buruk, maka jauhilah pergaulan dengan mereka.

Pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan akhlak dan kepribadian. Bergaul dengan orang-orang baik akan menarik seseorang menuju kebaikan dan kemuliaan, sedangkan pergaulan dengan orang-orang buruk akan menyeret pada keburukan.

Sebagaimana dikatakan: Qārin ahlal khairi takun minhum, yang berarti, "Bergaullah dengan orang-orang baik, maka engkau akan menjadi seperti mereka."

15. Sahabat yang Peduli dan Saling Mengunjungi

Sahabat sejati adalah mereka yang menunjukkan kepedulian dengan saling mengunjungi, meluangkan waktu untuk bertemu, serta bersikap ramah dan bermurah hati. Pertemuan di antara sahabat dilandasi rasa kasih sayang, ditandai dengan wajah ceria dan sambutan yang hangat.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim (2567) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda:

"Seorang laki-laki mengunjungi saudaranya di kota lain, lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk menunggunya di jalan. Malaikat itu bertanya: 'Ke mana engkau akan pergi?' Ia menjawab: 'Aku hendak mengunjungi saudaraku di kota ini.' Malaikat itu bertanya: 'Apakah engkau mengharapkan balasan karena suatu kebaikan yang pernah engkau berikan kepadanya?' Ia menjawab: 'Tidak, aku mencintainya karena Allah.' Maka malaikat itu berkata: 'Aku adalah utusan Allah untuk menyampaikan kepadamu bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah.'"

Hadits ini menunjukkan bahwa persahabatan yang dilandasi keikhlasan dan cinta karena Allah memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya.




(lus/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads