10 Dalil tentang Rezeki Sudah Diatur oleh Allah SWT

10 Dalil tentang Rezeki Sudah Diatur oleh Allah SWT

Tia Kamilla - detikHikmah
Sabtu, 17 Jan 2026 06:00 WIB
10 Dalil tentang Rezeki Sudah Diatur oleh Allah SWT
Foto: freepik/Freepik
Jakarta -

Setiap rezeki manusia telah ditetapkan dan diatur oleh Allah SWT. Dalam Islam, konsep rezeki banyak dijelaskan melalui ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits yang menegaskan bahwa rezeki tidak akan tertukar.

Umat Islam sebaiknya tidak hanya percaya bahwa rezeki sudah diatur Allah, tapi juga mengetahui dalil-dalilnya dalam Al-Qur'an, supaya hati semakin tenang dan berserah diri kepada Allah SWT.

Manusia diberikan akal dan pikiran oleh Allah SWT untuk berusaha mencari rezeki. Namun, usaha saja tidak cukup. Harus disertai rasa syukur, ikhlas, dan keyakinan penuh bahwa rezeki akan datang dari pintu yang tak disangka-sangka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam Al-Qur'an surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT berfirman,

ŲˆŲŽØ§ŲØ°Ų’ ØĒŲŽØ§ŲŽØ°Ų‘ŲŽŲ†ŲŽ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŲƒŲŲ…Ų’ Ų„ŲŽŲ‰Ų•ŲŲ†Ų’ Ø´ŲŽŲƒŲŽØąŲ’ØĒŲŲ…Ų’ Ų„ŲŽØ§ŲŽØ˛ŲŲŠŲ’Ø¯ŲŽŲ†Ų‘ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽŲ„ŲŽŲ‰Ų•ŲŲ†Ų’ ŲƒŲŽŲŲŽØąŲ’ØĒŲŲ…Ų’ Ø§ŲŲ†Ų‘ŲŽ ØšŲŽØ°ŲŽØ§Ø¨ŲŲŠŲ’ Ų„ŲŽØ´ŲŽØ¯ŲŲŠŲ’Ø¯ŲŒ

ADVERTISEMENT

Wa iÅŧ ta'aÅŧÅŧana rabbukum la'in syakartum la'azÄĢdannakum wa la'in kafartum inna 'aÅŧābÄĢ lasyadÄĢd(un).

Artinya: "(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.'"

Lalu, apa saja dalil tentang rezeki sudah diatur oleh Allah SWT? Simak penjelasannya secara lengkap berikut ini.

Dalil tentang Rezeki Sudah Diatur oleh Allah SWT

Berikut ini beberapa dalil Al-Qur'an tentang rezeki sudah diatur oleh Allah SWT:

1. Surah Hud Ayat 6


ŲˆŲŽŲ…ŲŽØ§ ؅ؐ؆ؒ Ø¯ŲŽØ§Û¤Ø¨Ų‘ŲŽØŠŲ ؁ؐ؉ Ø§Ų„Ų’Ø§ŲŽØąŲ’Øļؐ Ø§ŲŲ„Ų‘ŲŽØ§ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų ØąŲØ˛Ų’Ų‚ŲŲ‡ŲŽØ§ ŲˆŲŽŲŠŲŽØšŲ’Ų„ŲŽŲ…Ų Ų…ŲØŗŲ’ØĒŲŽŲ‚ŲŽØąŲ‘ŲŽŲ‡ŲŽØ§ ŲˆŲŽŲ…ŲØŗŲ’ØĒŲŽŲˆŲ’Ø¯ŲŽØšŲŽŲ‡ŲŽØ§ ۗ ŲƒŲŲ„Ų‘ŲŒ ŲŲŲŠŲ’ ؃ؐØĒŲ°Ø¨Ų Ų…Ų‘ŲØ¨ŲŲŠŲ’Ų†Ų

Wa mā min dābbatin fil-arḍi illā 'alallāhi rizquhā wa ya'lamu mustaqarrahā wa mustauda'ahā, kullun fÄĢ kitābim mubÄĢn(in).

Artinya: "Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauhulmahfuz)."

2. Surah At-Talaq Ayat 3

ŲˆŲ‘ŲŽŲŠŲŽØąŲ’Ø˛ŲŲ‚Ų’Ų‡Ų ؅ؐ؆ؒ Ø­ŲŽŲŠŲ’ØĢŲ Ų„ŲŽØ§ ŲŠŲŽØ­Ų’ØĒŲŽØŗŲØ¨ŲÛ— ŲˆŲŽŲ…ŲŽŲ†Ų’ ŲŠŲ‘ŲŽØĒŲŽŲˆŲŽŲƒŲ‘ŲŽŲ„Ų’ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų ŲŲŽŲ‡ŲŲˆŲŽ Ø­ŲŽØŗŲ’Ø¨ŲŲ‡Ų— Û—Ø§ŲŲ†Ų‘ŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡ŲŽ Ø¨ŲŽØ§Ų„ŲØēŲ Ø§ŲŽŲ…Ų’ØąŲŲ‡Ų–Û— Ų‚ŲŽØ¯Ų’ ØŦŲŽØšŲŽŲ„ŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų Ų„ŲŲƒŲŲ„Ų‘Ų Ø´ŲŽŲŠŲ’ØĄŲ Ų‚ŲŽØ¯Ų’ØąŲ‹Ø§

Wa yarzuqhu min á¸Ĩaiᚥu lā yaá¸Ĩtasib(u), wa may yatawakkal 'alallāhi fa huwa á¸Ĩasbuh(ÅĢ), innallāha bāligu amrih(ÄĢ), qad ja'alallāhu likulli syai'in qadrā(n).

Artinya: "Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu."

3. Surah An-Najm Ayat 39-41

- Ayat 39

ŲˆŲŽØ§ŲŽŲ†Ų’ Ų„Ų‘ŲŽŲŠŲ’ØŗŲŽ Ų„ŲŲ„Ų’Ø§ŲŲ†Ų’ØŗŲŽØ§Ų†Ų Ø§ŲŲ„Ų‘ŲŽØ§ Ų…ŲŽØ§ ØŗŲŽØšŲ°Ų‰Û™

Wa al laisa lil-insāni illā mā sa'ā.

Artinya: "Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya."

- Ayat 40

ŲˆŲŽØ§ŲŽŲ†Ų‘ŲŽ ØŗŲŽØšŲ’ŲŠŲŽŲ‡Ų— ØŗŲŽŲˆŲ’ŲŲŽ ŲŠŲØąŲ°Ų‰Û–

Wa anna sa'yahÅĢ saufa yurā.

Artinya: "Bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)."

- Ayat 41

ØĢŲŲ…Ų‘ŲŽ ŲŠŲØŦŲ’Ø˛Ų°Ų‰Ų‡Ų Ø§Ų„Ų’ØŦŲŽØ˛ŲŽØ§Û¤ØĄŲŽ Ø§Ų„Ų’Ø§ŲŽŲˆŲ’ŲŲ°Ų‰Û™

ᚠumma yujzāhul-jazā'al-aufā.

Artinya: "Kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna."

4. Surah Al-Baqarah Ayat 245

Ų…ŲŽŲ†Ų’ Ø°ŲŽØ§ Ø§Ų„Ų‘ŲŽØ°ŲŲŠŲ’ ŲŠŲŲ‚Ų’ØąŲØļŲ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡ŲŽ Ų‚ŲŽØąŲ’ØļŲ‹Ø§ Ø­ŲŽØŗŲŽŲ†Ų‹Ø§ ŲŲŽŲŠŲØļŲ°ØšŲŲŲŽŲ‡Ų— Ų„ŲŽŲ‡Ų—Ų“ Ø§ŲŽØļŲ’ØšŲŽØ§ŲŲ‹Ø§ ŲƒŲŽØĢŲŲŠŲ’ØąŲŽØŠŲ‹ Û—ŲˆŲŽØ§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų ŲŠŲŽŲ‚Ų’Ø¨ŲØļŲ ŲˆŲŽŲŠŲŽØ¨Ų’ØĩÛŖŲØˇŲÛ– ŲˆŲŽØ§ŲŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡Ų ØĒŲØąŲ’ØŦŲŽØšŲŲˆŲ’Ų†ŲŽ

Man Åŧal-laÅŧÄĢ yuqriḍullāha qarḍan á¸Ĩasanan fayuḍā'ifahÅĢ lahÅĢ aḍ'āfan kaᚥÄĢrah(tan), wallāhu yaqbiḍu wa yabsuáš­(u), wa ilaihi turja'ÅĢn(a).

Artinya: "Siapakah yang mau memberi pinjaman yang baik kepada Allah? Dia akan melipatgandakan (pembayaran atas pinjaman itu) baginya berkali-kali lipat. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki). Kepada-Nyalah kamu dikembalikan."

5. Surah Nuh Ayat 10-11

- Ayat 10

ŲŲŽŲ‚ŲŲ„Ų’ØĒŲ Ø§ØŗŲ’ØĒŲŽØēŲ’ŲŲØąŲŲˆŲ’Ø§ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ Ø§ŲŲ†Ų‘ŲŽŲ‡Ų— ŲƒŲŽØ§Ų†ŲŽ ØēŲŽŲŲ‘ŲŽØ§ØąŲ‹Ø§Û™

FaqultustagfirÅĢ rabbakum innahÅĢ kāna gaffārā(n).

Artinya: "Lalu, aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun,"

- Ayat 11

ŲŠŲ‘ŲØąŲ’ØŗŲŲ„Ų Ø§Ų„ØŗŲ‘ŲŽŲ…ŲŽØ§Û¤ØĄŲŽ ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’ŲƒŲŲ…Ų’ Ų…Ų‘ŲØ¯Ų’ØąŲŽØ§ØąŲ‹Ø§Û™

Yursilis-samā'a 'alaikum midrārā(n).

Artinya: "(Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,"

- Ayat 12

ŲˆŲ‘ŲŽŲŠŲŲ…Ų’Ø¯ŲØ¯Ų’ŲƒŲŲ…Ų’ Ø¨ŲØ§ŲŽŲ…Ų’ŲˆŲŽØ§Ų„Ų ŲˆŲ‘ŲŽØ¨ŲŽŲ†ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ŲˆŲŽŲŠŲŽØŦŲ’ØšŲŽŲ„Ų’ Ų„Ų‘ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ØŦŲŽŲ†Ų‘Ų°ØĒŲ ŲˆŲ‘ŲŽŲŠŲŽØŦŲ’ØšŲŽŲ„Ų’ Ų„Ų‘ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ Ø§ŲŽŲ†Ų’Ų‡Ų°ØąŲ‹Ø§Û—

Wa yumdidkum bi'amwāliw wa banÄĢna wa yaj'al lakum jannātiw wa yaj'al lakum anhārā(n).

Artinya: "Memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.'"

6. Surah Al-Baqarah Ayat 212

Ø˛ŲŲŠŲ‘ŲŲ†ŲŽ Ų„ŲŲ„Ų‘ŲŽØ°ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ŲƒŲŽŲŲŽØąŲŲˆØ§ Ø§Ų„Ų’Ø­ŲŽŲŠŲ°ŲˆØŠŲ Ø§Ų„Ø¯Ų‘ŲŲ†Ų’ŲŠŲŽØ§ ŲˆŲŽŲŠŲŽØŗŲ’ØŽŲŽØąŲŲˆŲ’Ų†ŲŽ Ų…ŲŲ†ŲŽ Ø§Ų„Ų‘ŲŽØ°ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ Ø§Ų°Ų…ŲŽŲ†ŲŲˆŲ’Ø§ ۘ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų‘ŲŽØ°ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ اØĒŲ‘ŲŽŲ‚ŲŽŲˆŲ’Ø§ ŲŲŽŲˆŲ’Ų‚ŲŽŲ‡ŲŲ…Ų’ ŲŠŲŽŲˆŲ’Ų…ŲŽ Ø§Ų„Ų’Ų‚ŲŲŠŲ°Ų…ŲŽØŠŲ ۗ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų ŲŠŲŽØąŲ’Ø˛ŲŲ‚Ų Ų…ŲŽŲ†Ų’ ŲŠŲ‘ŲŽØ´ŲŽØ§Û¤ØĄŲ Ø¨ŲØēŲŽŲŠŲ’ØąŲ Ø­ŲØŗŲŽØ§Ø¨Ų

Zuyyina lil-laÅŧÄĢna kafarul-á¸Ĩayātud-dun-yā wa yaskharÅĢna minal-laÅŧÄĢna āmanÅĢ, wal-laÅŧÄĢnattaqau fauqahum yaumal-qiyāmah(ti), wallāhu yarzuqu may yasyā'u bigairi á¸Ĩisāb(in).

Artinya: "Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kufur dan mereka (terus) menghina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari Kiamat. Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan."

7. Surah Al-Isra Ayat 30

Ø§ŲŲ†Ų‘ŲŽ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŽŲƒŲŽ ŲŠŲŽØ¨Ų’ØŗŲØˇŲ Ø§Ų„ØąŲ‘ŲØ˛Ų’Ų‚ŲŽ Ų„ŲŲ…ŲŽŲ†Ų’ ŲŠŲ‘ŲŽØ´ŲŽØ§Û¤ØĄŲ ŲˆŲŽŲŠŲŽŲ‚Ų’Ø¯ŲØąŲ Û—Ø§ŲŲ†Ų‘ŲŽŲ‡Ų— ŲƒŲŽØ§Ų†ŲŽ Ø¨ŲØšŲØ¨ŲŽØ§Ø¯ŲŲ‡Ų– ØŽŲŽØ¨ŲŲŠŲ’ØąŲ‹Ø§Ûĸ Ø¨ŲŽØĩŲŲŠŲ’ØąŲ‹Ø§

Inna rabbaka yabsuáš­ur-rizqa limay yasyā'u wa yaqdir(u), innahÅĢ kāna bi'ibādihÄĢ khabÄĢram baášŖÄĢrā(n).

Artinya: "Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan (-nya bagi siapa yang Dia kehendaki). Sesungguhnya Dia Maha Teliti lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya."

8. Surah Al-Jumuah Ayat 10

ŲŲŽØ§ŲØ°ŲŽØ§ Ų‚ŲØļŲŲŠŲŽØĒؐ Ø§Ų„ØĩŲ‘ŲŽŲ„Ų°ŲˆØŠŲ ŲŲŽØ§Ų†Ų’ØĒŲŽØ´ŲØąŲŲˆŲ’Ø§ ؁ؐ؉ Ø§Ų„Ų’Ø§ŲŽØąŲ’Øļؐ ŲˆŲŽØ§Ø¨Ų’ØĒŲŽØēŲŲˆŲ’Ø§ ؅ؐ؆ؒ ŲŲŽØļؒ؄ؐ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų ŲˆŲŽØ§Ø°Ų’ŲƒŲØąŲŲˆØ§ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡ŲŽ ŲƒŲŽØĢŲŲŠŲ’ØąŲ‹Ø§ Ų„Ų‘ŲŽØšŲŽŲ„Ų‘ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ØĒŲŲŲ’Ų„ŲØ­ŲŲˆŲ’Ų†ŲŽ

Fa iÅŧā quḍiyatiášŖ-ášŖalātu fantasyirÅĢ fil-arḍi wabtagÅĢ min faḍlillāhi waÅŧkurullāha kaᚥÄĢral la'allakum tufliá¸ĨÅĢn(a).

Artinya: "Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."

9. Surah Ibrahim Ayat 7

ŲˆŲŽØ§ŲØ°Ų’ ØĒŲŽØ§ŲŽØ°Ų‘ŲŽŲ†ŲŽ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŲƒŲŲ…Ų’ Ų„ŲŽŲ‰Ų•ŲŲ†Ų’ Ø´ŲŽŲƒŲŽØąŲ’ØĒŲŲ…Ų’ Ų„ŲŽØ§ŲŽØ˛ŲŲŠŲ’Ø¯ŲŽŲ†Ų‘ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽŲ„ŲŽŲ‰Ų•ŲŲ†Ų’ ŲƒŲŽŲŲŽØąŲ’ØĒŲŲ…Ų’ Ø§ŲŲ†Ų‘ŲŽ ØšŲŽØ°ŲŽØ§Ø¨ŲŲŠŲ’ Ų„ŲŽØ´ŲŽØ¯ŲŲŠŲ’Ø¯ŲŒ

Wa iÅŧ ta'aÅŧÅŧana rabbukum la'in syakartum la'azÄĢdannakum wa la'in kafartum inna 'aÅŧābÄĢ lasyadÄĢd(un).

Artinya: "(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.'"

10. Surah Al-Ankabut Ayat 60

ŲˆŲŽŲƒŲŽØ§ŲŽŲŠŲ‘ŲŲ†Ų’ ؅ؑؐ؆ؒ Ø¯ŲŽØ§Û¤Ø¨Ų‘ŲŽØŠŲ Ų„Ų‘ŲŽØ§ ØĒŲŽØ­Ų’Ų…ŲŲ„Ų ØąŲØ˛Ų’Ų‚ŲŽŲ‡ŲŽØ§Û– Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų ŲŠŲŽØąŲ’Ø˛ŲŲ‚ŲŲ‡ŲŽØ§ ŲˆŲŽØ§ŲŲŠŲ‘ŲŽØ§ŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽŲ‡ŲŲˆŲŽ Ø§Ų„ØŗŲ‘ŲŽŲ…ŲŲŠŲ’ØšŲ Ø§Ų„Ų’ØšŲŽŲ„ŲŲŠŲ’Ų…Ų

Wa ka'ayyim min dābbatil lā taá¸Ĩmilu rizqahā, allāhu yarzuquhā wa iyyākum, wa huwas-samÄĢ'ul-'alÄĢm(u).

Artinya: "Betapa banyak hewan bergerak yang tidak dapat mengusahakan rezekinya sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Apakah Rezeki Manusia Sudah Ditentukan oleh Allah?

Mengutip buku Seni Menikmati Hidup : Perspektif Al-Quran, Hadis, dan Ulama' oleh Abdul Aziz, Rezeki setiap orang telah ditetapkan oleh Allah SWT dengan porsi dan takarannya masing-masing.

Jika sesuatu bukan bagian dari rezeki seseorang, meski ia berusaha keras, hasil itu tidak akan diperoleh. Sebaliknya, jika itu memang sudah rezekinya, meski dengan usaha yang terbatas, Allah pasti akan tetap memberikannya.

Hal ini mengajarkan bahwa setiap orang sudah memiliki takdir rezekinya sendiri sejak awal penciptaan, termasuk penghasilan, harta, kesehatan, dan kesuksesan. Dengan begitu, seorang muslim diajarkan untuk menerima dan bersyukur atas rezeki yang sudah Allah SWT berikan, tanpa cemas atau iri pada orang lain.

Islam juga mengajarkan bahwa mencari rezeki harus dilakukan dengan cara halal dan menjauhi yang haram. Hindari sumber rezeki yang dilarang agama atau cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Rezeki yang halal akan membawa keberkahan dan menenangkan hati.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya Jibril menyampaikan wahyu ke hatiku bahwa seseorang tidak akan mati sehingga menyempurnakan rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik." (HR al-Hakim, al-Baihaqi, dan disebutkan oleh al-Qudha'i dalam Musnad asy Syihab dengan lafaznya).

Seringkali umat Islam merasa cemas tentang rezeki, jodoh, keturunan, ujian, atau masalah sehari-hari. Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan, hasil semua itu pada akhirnya sama seperti kedatangan ajal yang pasti menimpa setiap orang. Jadi, umat Islam tidak perlu terlalu khawatir tentang apa yang telah ditetapkan Allah SWT.

Namun, ini bukan berarti umat Islam tidak boleh berusaha. Dalam hal rezeki, misalnya, Allah memberi kebebasan untuk bekerja dan menjemput rezeki, bukan langsung memberikannya tanpa usaha. Ibnu Athaillah menekankan pentingnya menyelaraskan ikhtiar dan tawakal: umat Islam berupaya sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Manusia tidak bisa mengendalikan takdir sepenuhnya, yang bisa dilakukan adalah berusaha dan bertawakal. Setelah berikhtiar, umat Islam harus pasrahkan semuanya kepada Allah SWT. Dengan cara ini, umat Islam bisa hidup menjadi lebih tenang dan bahagia.




(lus/lus)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads