Surah At-Tin merupakan surah ke-95 dalam Al-Qur'an yang tergolong surah Makkiyah dan terdiri dari delapan ayat.
Dikutip dari buku Anwarul Qur'an Tafsir, Terjemah, Inggris, Arab, Latin: 095 At-Tīn (Pohon Ara) karya Dr. Basharat Ahmad dan Studio Qur'an, Surah At-Tīn menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan potensi yang sangat mulia.
Manusia dapat mencapai derajat kemuliaan tertinggi apabila mau berpegang teguh dan mengamalkan ajaran-ajaran yang benar. Sebaliknya, manusia bisa jatuh ke derajat yang paling rendah ketika ia tidak dibimbing oleh ajaran yang benar, atau meskipun mengetahui kebenaran, tetapi enggan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bacaan Surah At-Tin Lengkap Arab, Latin dan Artinya
Berikut bacaan Surah At-Tin lengkap dengan teks Arab, latin, dan artinya
وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِۙ
Latin; Wat-tīni waz-zaitūn(i).
Artinya: Demi (buah) tin dan (buah) zaitun, (QS At-Tīn: 1)
وَطُوْرِ سِيْنِيْنَۙ
Latin: Wa ṭūri sīnīn(a).
Artinya: demi gunung Sinai, (QS At-Tīn: 2)
وَهٰذَا الْبَلَدِ الْاَمِيْنِۙ
Latin: Wa hāżal-baladil-amīn(i).
Artinya: dan demi negeri (Makkah) yang aman ini, (QS At-Tīn: 3)
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
Latin: Laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm(in).
Artinya: sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS At-Tīn: 4)
ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ
Latin: Ṡumma radadnāhu asfala sāfilīn(a).
Artinya: Kemudian, kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, (QS At-Tīn: 5)
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ
Latin: Illal-lażīna āmanū wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti falahum ajrun gairu mamnūn(in).
Artinya: kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Maka, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya. (QS At-Tīn: 6)
فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّيْنِۗ
Latin: Famā yukażżibuka ba'du bid-dīn(i).
Artinya: Maka, apa alasanmu (wahai orang kafir) mendustakan hari Pembalasan setelah (adanya bukti-bukti) itu? (QS At-Tīn: 7)
اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَحْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ ࣖ
Latin: Alaisallāhu bi'aḥkamil-ḥākimīn(a).
Artinya: Bukankah Allah hakim yang paling adil? (At-Tīn: 8)
Tafsir Surat At Tin
Berdasarkan Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia, Surah At-Tīn mengandung penegasan tentang kemuliaan manusia, misi kenabian, serta tolok ukur kehormatan manusia di sisi Allah SWT.
Pada ayat pertama, Allah SWT bersumpah dengan buah tin dan zaitun. Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan bahwa sumpah ini memiliki dua makna. Pertama, tin dan zaitun dipahami sebagai buah yang dikenal memiliki banyak manfaat dan kandungan gizi bagi kesehatan manusia.
Kedua, tin dan zaitun juga dimaknai sebagai simbol tempat-tempat mulia yang berkaitan dengan sejarah kenabian, khususnya wilayah Syam dan Baitul Maqdis, tempat Nabi Isa AS lahir dan menerima wahyu. Dengan sumpah ini, Allah menarik perhatian manusia pada tanda-tanda kebesaran-Nya, baik melalui alam maupun sejarah wahyu.
Pada ayat kedua, Allah bersumpah dengan Gunung Sinai, yaitu tempat Nabi Musa AS menerima wahyu berupa Kitab Taurat. Gunung Sinai menjadi simbol turunnya risalah ilahi dan bukti hubungan langsung antara Allah dengan para nabi-Nya. Ayat ini menegaskan kesinambungan wahyu yang diturunkan kepada para rasul untuk membimbing manusia menuju kebenaran.
Ayat ketiga menyebut sumpah dengan negeri yang aman, yakni Kota Mekah. Mekah adalah tempat kelahiran dan pengutusan Nabi Muhammad SAW sekaligus pusat dakwah tauhid. Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan bahwa penyebutan tin, zaitun, Gunung Sinai, dan Mekah menunjukkan keterkaitan tiga nabi besar, yaitu Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad, yang membawa misi yang sama: mengajak manusia untuk menyembah Allah semata.
Setelah menyebut sumpah-sumpah tersebut, pada ayat keempat Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Tafsir Kemenag menerangkan bahwa kesempurnaan manusia tidak hanya terletak pada fisik yang tegak dan proporsional, tetapi juga pada akal, perasaan, dan kemampuan spiritual yang tidak dimiliki makhluk lain. Dengan kelebihan tersebut, manusia diberi amanah sebagai khalifah di bumi. Karena itu, fisik dan psikis manusia harus dijaga dan dikembangkan agar mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.
Pada ayat keenam, Allah memberikan pengecualian bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Tafsir Kemenag menjelaskan bahwa mereka tidak akan terjerumus ke dalam kehinaan, melainkan memperoleh pahala yang tidak terputus dan tidak berkurang. Iman yang benar akan melahirkan perbuatan baik, baik dalam aspek ibadah maupun dalam kehidupan sosial. Dari iman dan amal saleh inilah lahir ketenangan hidup di dunia serta kebahagiaan di akhirat.
Ayat ketujuh mempertanyakan alasan manusia mendustakan hari pembalasan setelah adanya bukti-bukti yang jelas tentang kekuasaan Allah. Menurut Tafsir Kemenag, penciptaan manusia melalui berbagai tahapan kehidupan merupakan dalil kuat bahwa Allah Mahakuasa untuk membangkitkan manusia kembali. Oleh karena itu, tidak ada alasan rasional untuk mengingkari adanya hari kiamat dan pembalasan.
Surah ini ditutup dengan ayat kedelapan yang menegaskan bahwa Allah adalah hakim yang paling adil. Tafsir Kemenag menekankan bahwa Allah tidak menciptakan manusia secara sia-sia. Dia menetapkan syariat, perintah, dan larangan, serta akan memberikan balasan yang adil sesuai dengan iman dan perbuatan manusia. Menjadikan iman dan amal saleh sebagai tolok ukur kemuliaan adalah bukti kebijaksanaan dan keadilan Allah SWT.
Keutamaan dan Keistimewaan Surat At-Tin
Dikutip dari buku Sejarah Kabupaten/Kota di Jawa Barat dan Banten: Garut, Subang, Bekasi, Tasikmalaya, Tangerang karya Iim Imadudin, Surah At-Tin memiliki sejumlah keutamaan bagi siapa saja yang membacanya.
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "وَمَنْ قَرَأَهَا أَعْطَاهُ اللَّهُ خَصْلَتَيْنِ الْعَافِيَةَ وَالْيَقِينَ مَادَامَ فِي دَارِ الدُّنْيَا فَإِذَا مَاتَ أَعْطَاهُ اللَّهُ مِنَ الْأَجْرِ بِعَدَدِ مَنْ قَرَءَ هَذِهِ السُّوْرَةِ صِيَامَ يَوْمٍوَرُوِيَ أَبُوْ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ وَرُوِيَ شُعَيْبٌ الْعَقْرَقُوْفِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَنْ قَرَأَ وَالتِّيْنِ فِي فَرَائِضِهِ وَنَوَافِلِهِ أُعْطِيَ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ يَرْضَى
Dari Ubay bin Ka'ab, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa orang yang membaca Surah At-Tin akan dianugerahi dua keutamaan utama, yakni kesehatan dan keteguhan keyakinan selama menjalani kehidupan di dunia. Ketika orang tersebut wafat, Allah SWT akan memberinya pahala yang besar, sebanding dengan pahala berpuasa selama satu hari untuk setiap orang yang membaca surah tersebut.
Riwayat ini juga diperkuat oleh Abu Muslim dalam kitab sahihnya. Selain itu, diriwayatkan pula dari Syu'aib Al-'Aqraqufiy, dari Abdullah r.a., bahwa siapa pun yang membaca Surah At-Tin dalam salat wajib maupun shalat sunnah akan diberikan kenikmatan surga sesuai dengan keridaan Allah SWT.
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026