Kenapa Awal Ramadan Tidak Pernah Sama Setiap Tahun?

Kenapa Awal Ramadan Tidak Pernah Sama Setiap Tahun?

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Selasa, 06 Jan 2026 16:45 WIB
Kenapa Awal Ramadan Tidak Pernah Sama Setiap Tahun?
Ilustrasi pemantauan hilal Ramadan. Foto: Getty Images/JasonDoiy
Jakarta -

Setiap tahun, umat Islam menyambut awal Ramadan pada tanggal yang tak pernah sama dalam kalender Masehi. Awal puasa selalu maju dan siklus ini terus berlanjut.

Tak hanya soal pergeseran hari, metode penentuan awal Ramadan di Indonesia pun kerap berbeda antara pemerintah, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU). Tak heran terkadang awal puasa selisih satu hari.

Alasan Awal Ramadan Tidak Pernah Sama

Pada dasarnya, penetapan awal Ramadan mengacu pada kalender Hijriah. Kalender yang digunakan oleh umat Islam ini berpatok pada pergerakan Bulan. Berbeda dengan kalender Masehi, yang menjadikan Matahari sebagai patokannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dijelaskan dalam buku Pedoman Cerdas Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap (RPAL) oleh Tim Civitas Academica, kalender Hijriah merupakan perhitungan tahun berdasarkan perputaran Bulan yang mengelilingi Bumi.

Waktu yang diperlukan oleh Bulan untuk berevolusi satu kali putaran selama 29,5 hari. Ini adalah rentang waktu dari satu Bulan baru ke Bulan baru berikutnya. Satu tahun dalam kalender Hijriah terdiri dari 12 bulan dan setiap tahunnya maju selama 11 hari.

ADVERTISEMENT

Berbeda dengan kalender Masehi, yang dalam satu tahunnya terdiri dari 365 hari, atau kabisat yang satu harinya terdiri dari 366 hari. Itulah alasan kenapa penetapan awal Ramadan tidak pernah sama setiap tahunnya dalam kalender Masehi.

Perbedaan Metode Penentuan Awal Ramadan

Perbedaan awal Ramadan juga terjadi antara pemerintah, organisasi Islam, dan negara-negara Arab. Dalam menentukan awal Ramadan pemerintah Indonesia menggunakan dua metode, yaitu rukyatul hilal (pemantauan langsung) dan data hisab (perhitungan astronomis). Pemerintah juga mengacu pada kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura (MABIMS) baru yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah juga memiliki metode sendiri dalam menetapkan awal Ramadan. PBNU menggunakan metode hisab imkanur rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU). Metode ini adalah gabungan dari perhitungan hisab (astronomis) dan pemantauan di beberapa titik (rukyatul hilal).

Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid menetapkan awal Ramadan menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Metode ini melihat apabila posisi bulan sudah berada di atas ufuk (pada saat matahari terbenam di seluruh Indonesia) meskipun hanya 0.1 derajat, maka esok harinya adalah penetapan hari pertama bulan baru (1 Ramadan).

Mulai tahun 1447 H ini, Muhammadiyah beralih menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai acuan awal Ramadan dan bulan-bulan Hijriah lainnya. Kalender ini menerapkan prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia dan memandang semua permukaan bumi sebagai satu matlak, demikian seperti dilansir situs Muhammadiyah.

Adapun, negara-negara Arab biasanya akan mengumumkan awal Ramadan setelah pemantauan hilal pada 29 Syakban.

Awal Ramadan 2026

Pemerintah belum menetapkan kapan awal Ramadan 2026. Ketetapan awal puasa akan diputuskan dalam sidang isbat yang biasanya digelar pada 29 Syakban. Begitu pula dengan NU.

Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan 2026 jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 dan Lebaran jatuh pada 20 Maret 2026.




(kri/kri)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads