Wisuda 168 Dokter Palestina di Tengah Reruntuhan RS Al-Shifa Gaza

Wisuda 168 Dokter Palestina di Tengah Reruntuhan RS Al-Shifa Gaza

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Sabtu, 27 Des 2025 15:03 WIB
Wisuda 168 Dokter Palestina di Tengah Reruntuhan RS Al-Shifa Gaza
Puing-puing bangunan di Gaza. Foto: Reuters
Jakarta -

Sebanyak 168 dokter Palestina menerima sertifikasi spesialisasi dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza. Prosesi kelulusan berlangsung di tengah puing-puing Al-Shifa Medical Complex, rumah sakit terbesar yang pernah berdiri di wilayah Palestina.

Al-Shifa Medical Complex sebelumnya telah berulang kali menjadi sasaran sejak perang genosida Israel dimulai pada Oktober 2023. Rumah sakit tersebut pertama kali diserbu pada November 2023. Pada saat itu, Direktur Medis Al-Shifa, Dr Mohammed Abu Salmiya, ditangkap dan ditahan selama tujuh bulan. Serangan kembali terjadi pada Maret 2024 dan menyebabkan kerusakan yang sangat parah pada fasilitas rumah sakit.

Dilansir dari laman Al Jazeera, upacara kelulusan digelar pada Kamis (25/12/2025) di depan bangunan Al-Shifa Medical Complex yang hancur di Kota Gaza. Para wisudawan yang menamakan diri mereka sebagai "Angkatan Kemanusiaan" berhasil menyelesaikan sertifikasi Dewan Kedokteran Palestina meski berada dalam situasi yang sangat sulit setelah dua tahun perang Israel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama dua tahun tersebut, para dokter tetap menjalani pendidikan dan mengikuti ujian. Pada saat yang sama, mereka terus bekerja di rumah sakit-rumah sakit Gaza tanpa henti. Kondisi kerja berlangsung di tengah kelaparan, pengungsian, dan genosida. Sejumlah dokter mengalami luka-luka, penahanan, serta kehilangan anggota keluarga.

Kementerian Kesehatan Gaza, Youssef Abu al-Reish, menggambarkan bahwa kelulusan ini merupakan peristiwa yang lahir dari penderitaan. Ia menyebut upacara tersebut sebagai kelulusan yang lahir dari "rahim penderitaan, di bawah bombardir, di antara puing-puing dan aliran darah".

ADVERTISEMENT

Salah satu peserta wisuda, Dr Ahmed Basil, menilai bahwa pencapaian meraih gelar lanjutan pada masa paling sulit membuktikan bahwa rakyat Palestina memiliki komitmen yang tinggi pada kemajuan ilmu pengetahuan, meski bangunan tempat mereka belajar dan bekerja telah hancur.

Dalam upacara wisuda tersebut juga menampilkan deretan kursi kosong. Kursi-kursi itu memajang foto tenaga kesehatan lainnya yang telah gugur selama perang. Acara tersebut menjadi pengingat atas besarnya korban yang jatuh di bagian sektor kesehatan Gaza. Kondisi ini digambarkan oleh para peserta sebagai "bangunan kosong dengan kuburan manusia".




(inf/erd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads