Surat Al-Alaq Termasuk Golongan Surat Apa? Ini Penjelasannya

Surat Al-Alaq Termasuk Golongan Surat Apa? Ini Penjelasannya

Hanif Hawari - detikHikmah
Jumat, 08 Agu 2025 07:15 WIB
Surat Al-Alaq Termasuk Golongan Surat Apa? Ini Penjelasannya
Ilustrasi Surah Al-Alaq (Foto: Unsplash/Bimbingan Islam)
Jakarta -

Surat Al-Alaq termasuk golongan surah yang ada di dalam Al-Quran. Surat ini menjadi tonggak awal turunnya wahyu Al-Quran dan dimulai dengan perintah agung tentang Iqra atau membaca.

Surat ini terdiri dari 19 ayat dan menekankan pentingnya ilmu, penciptaan manusia, serta hubungan hamba dengan Tuhannya. Sebagai surat pembuka wahyu, Al-Alaq mengandung pesan mendalam tentang awal perubahan peradaban manusia menuju cahaya petunjuk ilahi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Surat Al-Alaq Termasuk Golongan Apa?

Dikutip dari Buku Pintar Al-Qur'an karya Abu Nizhan, Surat Al-Alaq termasuk ke dalam golongan surat Makkiyah. Surat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW saat beliau masih berada di Mekkah.

Surat Makkiyah adalah surat-surat yang diturunkan di Mekkah, sebelum Nabi Muhammad berpindah ke Madinah. Umumnya, surat Makkiyah berisi ajakan tauhid, keimanan, dan peringatan hari kiamat.

ADVERTISEMENT

Surat Al-Alaq menjadi salah satu surat penting karena merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah. Pesan yang dibawa menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dan kedekatan hamba dengan Allah SWT.

Bacaan Surat Al-Alaq dan Artinya

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, surat Al-Alaq merupakan surat yang diturunkan di kota Mekkah. Dalam susunan mushaf Al-Quran, surat ini merupakan surat ke-96 dan terdiri dari 19 ayat.

Berikut ini adalah bacaan surat Al-Alaq lengkap dengan terjemahannya.

Ø§ŲŲ‚Ų’ØąŲŽØŖŲ’ Ø¨ŲØ§ØŗŲ’Ų…Ų ØąŲŽØ¨ŲŲ‘ŲƒŲŽ Ø§Ų„ŲŽŲ‘Ø°ŲŲŠŲ’ ØŽŲŽŲ„ŲŽŲ‚ŲŽÛš - ŲĄ
iqra' bismi rabbikallaÅŧÄĢ khalaq
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan

ØŽŲŽŲ„ŲŽŲ‚ŲŽ Ø§Ų„Ų’Ø§ŲŲ†Ų’ØŗŲŽØ§Ų†ŲŽ ؅ؐ؆ؒ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‚ŲÛš - Ųĸ
khalaqal-insāna min 'alaq
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Ø§ŲŲ‚Ų’ØąŲŽØŖŲ’ ŲˆŲŽØąŲŽØ¨ŲŲ‘ŲƒŲŽ Ø§Ų„Ų’Ø§ŲŽŲƒŲ’ØąŲŽŲ…ŲÛ™ - ŲŖ
iqra' wa rabbukal-akram
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,

Ø§Ų„ŲŽŲ‘Ø°ŲŲŠŲ’ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų…ŲŽ Ø¨ŲØ§Ų„Ų’Ų‚ŲŽŲ„ŲŽŲ…ŲÛ™ - Ų¤
allaÅŧÄĢ 'allama bil-qalam
4. Yang mengajar (manusia) dengan pena.

ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų…ŲŽ Ø§Ų„Ų’Ø§ŲŲ†Ų’ØŗŲŽØ§Ų†ŲŽ Ų…ŲŽØ§ Ų„ŲŽŲ…Ų’ ŲŠŲŽØšŲ’Ų„ŲŽŲ…Ų’Û— - ŲĨ
'allamal-insāna mā lam ya'lam
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

ŲƒŲŽŲ„ŲŽŲ‘Øĸ Ø§ŲŲ†ŲŽŲ‘ Ø§Ų„Ų’Ø§ŲŲ†Ų’ØŗŲŽØ§Ų†ŲŽ Ų„ŲŽŲŠŲŽØˇŲ’ØēŲ°Ų‰Ų“ ۙ - ŲĻ
kallā innal-insāna layaᚭgā
6. Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas,

Ø§ŲŽŲ†Ų’ ØąŲŽŲ‘Ø§Ų°Ų‡Ų Ø§ØŗŲ’ØĒŲŽØēŲ’Ų†Ų°Ų‰Û— - Ų§
ar ra'āhustagnā
7. apabila melihat dirinya serba cukup.

Ø§ŲŲ†ŲŽŲ‘ Ø§ŲŲ„Ų°Ų‰ ØąŲŽØ¨ŲŲ‘ŲƒŲŽ Ø§Ų„ØąŲŲ‘ØŦŲ’ØšŲ°Ų‰Û— - Ų¨
inna ilā rabbikar-ruj'ā
8. Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu).

Ø§ŲŽØąŲŽØ§ŲŽŲŠŲ’ØĒŲŽ Ø§Ų„ŲŽŲ‘Ø°ŲŲŠŲ’ ŲŠŲŽŲ†Ų’Ų‡Ų°Ų‰Û™ - ŲŠ
a ra`aitallaÅŧÄĢ yan-hā
9. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang?

ØšŲŽØ¨Ų’Ø¯Ų‹Ø§ Ø§ŲØ°ŲŽØ§ ØĩŲŽŲ„Ų‘Ų°Ų‰Û— - ŲĄŲ 
'abdan iÅŧā ášŖallā
10. seorang hamba ketika dia melaksanakan salat,

Ø§ŲŽØąŲŽØ§ŲŽŲŠŲ’ØĒŲŽ Ø§ŲŲ†Ų’ ŲƒŲŽØ§Ų†ŲŽ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Ø§Ų„Ų’Ų‡ŲØ¯Ų°Ų‰Ų“Û™ - ŲĄŲĄ
a ra`aita ing kāna 'alal-hudā
11. bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang salat itu) berada di atas kebenaran (petunjuk),

Ø§ŲŽŲˆŲ’ Ø§ŲŽŲ…ŲŽØąŲŽ Ø¨ŲØ§Ų„ØĒŲŽŲ‘Ų‚Ų’ŲˆŲ°Ų‰Û— - ŲĄŲĸ
au amara bit-taqwā
12. atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?

Ø§ŲŽØąŲŽØ§ŲŽŲŠŲ’ØĒŲŽ Ø§ŲŲ†Ų’ ŲƒŲŽØ°ŲŽŲ‘Ø¨ŲŽ ŲˆŲŽØĒŲŽŲˆŲŽŲ„Ų‘Ų°Ų‰Û— - ŲĄŲŖ
a ra'aita ing kaÅŧÅŧaba wa tawallā
13. Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) itu mendustakan dan berpaling?

Ø§ŲŽŲ„ŲŽŲ…Ų’ ŲŠŲŽØšŲ’Ų„ŲŽŲ…Ų’ Ø¨ŲØ§ŲŽŲ†ŲŽŲ‘ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡ŲŽ ŲŠŲŽØąŲ°Ų‰Û— - Ų¤ ŲĄ
a lam ya'lam bi'annallāha yarā
14. Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?

ŲƒŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ø§ Ų„ŲŽŲ‰ŲŲ•Ų†Ų’ Ų„ŲŽŲ‘Ų…Ų’ ŲŠŲŽŲ†Ų’ØĒŲŽŲ‡Ų ەۙ Ų„ŲŽŲ†ŲŽØŗŲ’ŲŲŽØšŲ‹Ø§Ûĸ Ø¨ŲØ§Ų„Ų†ŲŽŲ‘Ø§ØĩŲŲŠŲŽØŠŲÛ™ - ŲĄŲĨ
kallā la`il lam yantahi lanasfa'am bin-nÄášŖiyah
15. Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (ke dalam neraka),

Ų†ŲŽØ§ØĩŲŲŠŲŽØŠŲ ŲƒŲŽØ§Ø°ŲØ¨ŲŽØŠŲ ØŽŲŽØ§ØˇŲØĻŲŽØŠŲÛš -ŲĻ ŲĄ
nÄášŖiyating kāÅŧibatin khāᚭi`ah
16. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka.

ŲŲŽŲ„Ų’ŲŠŲŽØ¯Ų’ØšŲ Ų†ŲŽØ§Ø¯ŲŲŠŲŽŲ‡Ų—Û™ -Ų§ ŲĄ
falyad'u nādiyah
17. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),

ØŗŲŽŲ†ŲŽØ¯Ų’ØšŲ Ø§Ų„Ø˛ŲŽŲ‘Ø¨ŲŽØ§Ų†ŲŲŠŲŽØŠŲŽÛ™ - ŲĄŲ¨
sanad'uz-zabāniyah
18. Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah, (penyiksa orang-orang yang berdosa),

ŲƒŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ø§Û— Ų„ŲŽØ§ ØĒŲØˇŲØšŲ’Ų‡Ų ŲˆŲŽØ§ØŗŲ’ØŦŲØ¯Ų’ ŲˆŲŽØ§Ų‚Ų’ØĒŲŽØąŲØ¨Ų’ - ŲĄŲŠ
kallā, lā tuᚭi'hu wasjud waqtarib
19. sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).

Keutamaan Surat Al-Alaq

Ayat pertama dari Surah Al-Alaq memuat perintah untuk membaca, yang menunjukkan betapa pentingnya aktivitas tersebut dalam Islam. Secara tersirat, Allah SWT menggarisbawahi keutamaan mencatat dan menyebarkan ilmu pengetahuan melalui tulisan.

Hal ini sejalan dengan penjelasan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, yang menekankan makna mendalam dari ayat ini.

"Seseorang itu akan semakin mulia dengan ilmu diin yang ia miliki. Ilmu itulah yang membedakan bapak manusia, yaitu Adam dengan para malaikat. Ilmu ini terkadang di pikiran. Ilmu juga kadang di lisan. Ilmu juga terkadang di dalam tulisan tangan untuk menyalurkan apa yang dalam pikiran, lisan, maupun yang tergambarkan di pikiran."

Pesan tersebut juga dipertegas oleh beberapa hadis Rasulullah SAW yang mendukung pentingnya ilmu dan pencatatannya.

Ų‚ŲŠØ¯ŲˆØ§ Ø§Ų„ØšŲ„Ų… Ø¨Ø§Ų„ŲƒØĒاب؊

"Ikatlah ilmu dengan tulisan." (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok 1: 106. Dihasankan oleh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 2026).

Ų…ŲŽŲ†Ų’ ØšŲŽŲ…ŲŲ„ŲŽ Ø¨ŲŲ…ŲŽØ§ ØšŲŽŲ„ŲŲ…ŲŽ ŲˆŲŽØąŲŽØĢŲŽŲ‡Ų Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų ØšŲŲ„Ų’Ų…ŲŽ Ų…ŲŽØ§ Ų„ŲŽŲ…Ų’ ŲŠŲŽŲƒŲŲ†Ų’ ŲŠŲŽØšŲ’Ų„ŲŽŲ…Ų

"Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan dia ilmu yang ia tidak ketahui." (HR. Abu Nu'aim dalam Hilyatul Awliya', 10: 15. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini maudhu' atau palsu. Lihat As Silsilah Adh Dho'ifah no. 422)

Wallahu a'lam.




(hnh/lus)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads