Kisah Tsumamah bin Utsal, Penguasa Yamamah yang Masuk Islam

Kisah Tsumamah bin Utsal, Penguasa Yamamah yang Masuk Islam

Hanif Hawari - detikHikmah
Sabtu, 10 Jan 2026 05:00 WIB
Kisah Tsumamah bin Utsal, Penguasa Yamamah yang Masuk Islam
Foto: Getty Images/iStockphoto/rudall30
Jakarta -

Kisah Tsamamah bin Utsal menjadi salah satu cerita inspiratif dalam sejarah Islam yang menarik untuk diulas. Sebagai kepala suku Bani Hanifah, ia dikenal sebagai penguasa Yamamah yang kuat di era pra-Islam.

Tsumamah bin Utsal hidup pada masa kerasulan Nabi Muhammad SAW dan memegang pengaruh besar di wilayah Arabia (Jazirah Arab). Kekuasaannya membuatnya menjadi salah satu tokoh Arab paling berpengaruh sebelum memeluk Islam.

Sebagai salah satu sahabat Nabi dengan kedudukan tinggi, kisah Tsamamah bin Utsal menunjukkan perubahan hidup yang dramatis dari musuh menjadi pendukung setia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Tsamamah bin Utsal dari Menentang hingga Memeluk Islam

Diceritakan dalam buku Seri Ensiklopedia Anak Muslim: 125 Sahabat Nabi Muhammad SAW oleh Mahmudah Mastur, Tsumamah bin Utsal adalah seorang pemimpin bangsa Arab.

Pada tahun keenam Hijrah, Nabi Muhammad SAW mengirim surat kepada para penguasa di Jazirah Arab untuk mengajak mereka memeluk Islam. Salah satunya adalah Tsumamah bin Utsal, kepala suku Bani Hanifah yang berkuasa di Yamamah.

ADVERTISEMENT

Menerima surat itu membuat Tsumamah marah besar dan menolak ajakan tersebut. Ia bahkan berniat membunuh Nabi Muhammad SAW dan dalam upayanya, membunuh beberapa sahabat Nabi.

Tidak lama kemudian, Tsumamah meninggalkan Yamamah untuk melakukan umrah dengan ritus pra-Islam menuju Makkah. Dalam perjalanan, ia ditangkap oleh pasukan Muslim yang berpatroli di sekitar Madinah tanpa mereka mengenali identitasnya.

Para sahabat mengikat Tsumamah pada tiang di Masjid Nabawi sambil menunggu keputusan Nabi Muhammad SAW. Nabi mendekatinya dengan lembut, menyuruh mengirim makanan dan susu unta kepadanya setiap hari.

Nabi bertanya kepada Tsumamah apa yang ada di hatinya, dan ia menjawab bahwa jika dibunuh maka darahnya akan dituntut, jika dibebaskan maka ia akan bersyukur. Pertanyaan itu diulang selama tiga hari, namun Tsumamah tetap pada jawabannya.

Pada hari ketiga, Nabi Muhammad SAW memerintahkan sahabat untuk membebaskan Tsumamah tanpa syarat. Tsumamah kemudian pergi ke kebun kurma dekat Baqi', mandi, dan membersihkan diri.

Setelah itu, Tsumamah kembali ke masjid dan mengucapkan syahadat, menyatakan masuk Islam. Ia mengakui bahwa sebelumnya wajah Nabi paling dibencinya, kini menjadi yang paling dicintai.

Nabi menyuruh Tsumamah melanjutkan umrahnya sesuai tuntunan Islam. Saat memasuki lembah Makkah, ia mengumandangkan talbiyah dengan suara keras: "Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, la syarika lak."

Membuat Kaum Quraisy Murka

Masih diceritakan dari sumber yang sama, keputusan Tsumamah untuk memeluk Islam dan mengikuti Nabi Muhammad membuat marah kaum Quraisy pada saat itu.

Tsumamah bin Utsal menjadi Muslim pertama yang memasuki Makkah sambil mengumandangkan talbiyah dengan suara lantang. Orang-orang Quraisy yang mendengarnya langsung terkejut dan segera mendatanginya dengan penuh amarah.

Salah seorang dari kaum Quraisy begitu marah hingga hendak menembak Tsumamah dengan panah. Namun, rekannya segera menahannya sambil berteriak bahwa Tsumamah adalah pemimpin Yamamah yang sangat berkuasa.

Jika Tsumamah disakiti, maka rakyatnya akan menghentikan pasokan gandum ke Makkah. Hal itu akan menyebabkan kaum Quraisy mati kelaparan karena ketergantungan mereka pada bahan makanan dari Yamamah.

Setelah menyelesaikan umrahnya, Tsumamah menyatakan secara terbuka bahwa ia telah mengikuti agama Nabi Muhammad SAW. Ia kemudian kembali ke Yamamah dan memerintahkan rakyatnya untuk menghentikan semua pengiriman ke Quraisy.

Boikot yang dilakukan Tsumamah ini secara bertahap membuat harga bahan makanan melonjak dan menyebabkan kelaparan melanda Makkah. Akhirnya, kaum Quraisy terpaksa menulis surat kepada Nabi Muhammad SAW, meminta beliau memerintahkan Tsumamah mencabut boikot tersebut demi menjaga Perjanjian Hudaibiyah.




(hnh/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads