Beda Bilangan Rakaat Salat Tarawih NU dan Muhammadiyah

Beda Bilangan Rakaat Salat Tarawih NU dan Muhammadiyah

Alvin Setiawan - detikHikmah
Senin, 18 Mar 2024 10:15 WIB
Beda Bilangan Rakaat Salat Tarawih NU dan Muhammadiyah
Ilustrasi salat tarawih
Jakarta -

Terdapat perbedaan tradisi rakaat ibadah salat Tarawih di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Dikutip dari buku Tuntunan Shalat Lengkap dan Benar karya Neni Nuraeni, salat Tarawih merupakan sholat sunah yang dilakukan pada malam bulan Ramadan.
Anjuran salat Tarawih ini disampaikan oleh Abu Hurairah RA, "Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengerjakan salat pada malam bulan Ramadan, tetapi tidak mewajibkannya.

Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa yang bangun pada malam bulan Ramadan karena iman dan mengharapkan keridaan Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu'." (HR Jama'ah)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengenai bilangan rakaat salat Tarawih terdapat beberapa pendapat yang kemudian menjadi tradisi di kalangan NU dan Muhammadiyah.

Bilangan Rakaat Salat Tarawih Versi NU

NU mengamalkan salat Tarawih sebanyak 23 rakaat yakni dengan 20 rakaat salat Tarawih kemudian ditambah dengan salat witir 3 rakaat.

ADVERTISEMENT

Dikutip dari laman NU Online, hal ini dijelaskan di dalam buku Ke-NU-an Ahlussunnah Waljama'ah An-Nahdliyyah terbitan Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama DI Yogyakarta.

Disebutkan, Imam Maliki berpendapat salat Tarawih 8 rakaat. Namun, mazhab Syafi'iyyah, Hanabilah, dan Hanafiyyah sepakat bahwa salat Tarawih adalah 20 rakaat.

Pendapat ini dipedomani lebih kuat dan sempurna ijma'-nya. Landasan ini didasarkan dari sebuah hadits dari Aisyah Ummil Mu'minin RA, Nabi SAW bersabda,

ØšŲŽŲ†Ų’ ØšŲŽØ§ØĻŲØ´ŲŽØŠŲŽ ØŖŲŲ…ŲŲ‘ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲØ¤Ų’Ų…ŲŲ†ŲŲŠŲ†ŲŽ ØąŲŽØļŲŲŠŲŽ Ø§Ų„Ų„ŲŽŲ‘Ų‡Ų ØšŲŽŲ†Ų’Ų‡ŲŽØ§: ØŖŲŽŲ†ŲŽŲ‘ ØąŲŽØŗŲŲˆŲ„ŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų ØĩŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų‰ Ø§Ų„Ų„ŲŽŲ‘Ų‡Ų ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡Ų ŲˆŲŽØŗŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų…ŲŽ ØĩŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų‰ Ø°ŲŽØ§ØĒŲŽ Ų„ŲŽŲŠŲ’Ų„ŲŽØŠŲ ؁ؐ؊ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲŽØŗŲ’ØŦŲØ¯Ų ŲŲŽØĩŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų‰ Ø¨ŲØĩŲŽŲ„ŲŽØ§ØĒؐ؇ؐ Ų†ŲŽØ§ØŗŲŒ ØĢŲŲ…ŲŽŲ‘ ØĩŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų‰ ؅ؐ؆ؒ Ø§Ų„Ų’Ų‚ŲŽØ§Ø¨ŲŲ„ŲŽØŠŲ ŲŲŽŲƒŲŽØĢŲØąŲŽ Ø§Ų„Ų†ŲŽŲ‘Ø§ØŗŲ ØĢŲŲ…ŲŽŲ‘ اØŦŲ’ØĒŲŽŲ…ŲŽØšŲŲˆØ§ ؅ؐ؆ؒ Ø§Ų„Ų„ŲŽŲ‘ŲŠŲ’Ų„ŲŽØŠŲ Ø§Ų„ØĢŲŽŲ‘Ø§Ų„ŲØĢŲŽØŠŲ ØŖŲŽŲˆŲ’ Ø§Ų„ØąŲŽŲ‘Ø§Ø¨ŲØšŲŽØŠŲ ŲŲŽŲ„ŲŽŲ…Ų’ ŲŠŲŽØŽŲ’ØąŲØŦŲ’ ØĨŲŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡ŲŲ…Ų’ ØąŲŽØŗŲŲˆŲ„Ų Ø§Ų„Ų„ŲŽŲ‘Ų‡Ų ØĩŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų‰ Ø§Ų„Ų„ŲŽŲ‘Ų‡Ų ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡Ų ŲˆŲŽØŗŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų…ŲŽ ŲŲŽŲ„ŲŽŲ…ŲŽŲ‘Ø§ ØŖŲŽØĩŲ’Ø¨ŲŽØ­ŲŽ Ų‚ŲŽØ§Ų„ŲŽ Ų‚ŲŽØ¯Ų’ ØąŲŽØŖŲŽŲŠŲ’ØĒŲ Ø§Ų„ŲŽŲ‘Ø°ŲŲŠ ØĩŲŽŲ†ŲŽØšŲ’ØĒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽŲ„ŲŽŲ…Ų’ ŲŠŲŽŲ…Ų’Ų†ŲŽØšŲ’Ų†ŲŲŠ ؅ؐ؆ؒ Ø§Ų„Ų’ØŽŲØąŲŲˆØŦؐ ØĨŲŲ„ŲŽŲŠŲ’ŲƒŲŲ…Ų’ ØĨŲŲ„ŲŽŲ‘Ø§ ØŖŲŽŲ†ŲŲ‘ŲŠ ØŽŲŽØ´ŲŲŠØĒŲ ØŖŲŽŲ†Ų’ ØĒŲŲŲ’ØąŲŽØļŲŽ ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’ŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØ°ŲŽŲ„ŲŲƒŲŽ ؁ؐ؊ ØąŲŽŲ…ŲŽØļŲŽØ§Ų†ŲŽ (ØąŲˆØ§Ų‡ Ø§Ų„Ø¨ØŽØ§ØąŲŠ ŲˆŲ…ØŗŲ„Ų…)


Artinya: Dari 'Aisyah Ummil Mu'minin RA, sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam salat di masjid, lalu banyak orang salat mengikuti beliau. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul (menunggu nabi) tapi Rasulullah SAW justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, "Sungguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila salat ini diwajibkan pada kalian." Sayyidah 'Aisyah berkata, 'Hal itu terjadi pada bulan Ramadan'." (HR Bukhari dan Muslim)

Bilangan Rakaat Salat Tarawih Versi Muhammadiyah

Sementara itu, Muhammadiyah berpendapat salat Tarawih yang diajarkan Nabi SAW berjumlah 11 rakaat termasuk witir. Salat dikerjakan empat rakaat lalu salam tanpa tahiyat awal, kemudian empat rakaat lalu salam, dan ditutup dengan salat witir tiga rakaat lalu salam.

Dilansir situs resmi Muhammadiyah, menurut penelitian Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hadits-hadits yang menjelaskan mengenai salat Tarawih 23 rakaat disebut sebagai hadits dhaif atau lemah.

Untuk bilangan jumlah rakaat salat Tarawih, Muhammadiyah hanya berpegang kepada hadits-hadits shahih riwayat Rasulullah SAW. Di antara hadits-hadits shahih di antara lainnya adalah berikut,

ØšŲŽŲ†Ų’ ØŖŲŽØ¨ŲŲŠ ØŗŲŽŲ„ŲŽŲ…ŲŽØŠŲŽ Ø¨Ų’Ų†Ų ØšŲŽØ¨Ų’Ø¯Ų Ø§Ų„ØąŲŽŲ‘Ø­Ų’Ų…ŲŽŲ†Ų ØŖŲŽŲ†ŲŽŲ‘Ų‡Ų ØŗŲŽØŖŲŽŲ„ŲŽ ØšŲŽØ§ØĻŲØ´ŲŽØŠŲŽ ŲƒŲŽŲŠŲ’ŲŲŽ ŲƒŲŽØ§Ų†ŲŽØĒŲ’ ØĩŲŽŲ„Ø§ŲŽØŠŲ ØąŲŽØŗŲŲˆŲ„Ų Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų ØĩŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų‰ Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡Ų ŲˆŲŽØŗŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų…ŲŽ ؁ؐ؊ ØąŲŽŲ…ŲŽØļŲŽØ§Ų†ŲŽ Ų‚ŲŽØ§Ų„ŲŽØĒŲ’ Ų…ŲŽØ§ ŲƒŲŽØ§Ų†ŲŽ ØąŲŽØŗŲŲˆŲ„Ų Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų ØĩŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų‰ Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡Ų ŲˆŲŽØŗŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų…ŲŽ ŲŠŲŽØ˛ŲŲŠØ¯Ų ؁ؐ؊ ØąŲŽŲ…ŲŽØļŲŽØ§Ų†ŲŽ ŲˆŲŽŲ„Ø§ŲŽ ؁ؐ؊ ØēŲŽŲŠŲ’ØąŲŲ‡Ų ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ ØĨŲØ­Ų’Ø¯ŲŽŲ‰ ØšŲŽØ´Ų’ØąŲŽØŠŲŽ ØąŲŽŲƒŲ’ØšŲŽØŠŲ‹ ŲŠŲØĩŲŽŲ„ŲŲ‘ŲŠ ØŖŲŽØąŲ’Ø¨ŲŽØšŲ‹Ø§ ŲŲŽŲ„Ø§ŲŽ ØĒŲŽØŗŲ’ØŖŲŽŲ„Ų’ ØšŲŽŲ†Ų’ Ø­ŲØŗŲ’Ų†ŲŲ‡ŲŲ†ŲŽŲ‘ ŲˆŲŽØˇŲŲˆŲ„ŲŲ‡ŲŲ†ŲŽŲ‘ ØĢŲŲ…ŲŽŲ‘ ŲŠŲØĩŲŽŲ„ŲŲ‘ŲŠ ØŖŲŽØąŲ’Ø¨ŲŽØšŲ‹Ø§ ŲŲŽŲ„Ø§ŲŽ ØĒŲŽØŗŲ’ØŖŲŽŲ„Ų’ ØšŲŽŲ†Ų’ Ø­ŲØŗŲ’Ų†ŲŲ‡ŲŲ†ŲŽŲ‘ ŲˆŲŽØˇŲŲˆŲ„ŲŲ‡ŲŲ†ŲŽŲ‘ ØĢŲŲ…ŲŽŲ‘ ŲŠŲØĩŲŽŲ„ŲŲ‘ŲŠ ØĢŲŽŲ„Ø§ŲŽØĢØ§Ų‹ ... [ØąŲˆØ§Ų‡ Ø§Ų„Ø¨ØŽØ§ØąŲŠ ŲˆŲ…ØŗŲ„Ų…] .

Artinya: Dari Abi Salamah Ibnu Abdir-Rahman (dilaporkan) bahwa ia bertanya kepada Aisyah RA tentang bagaimana salat Rasulullah SAW di bulan Ramadan. Aisyah RA menjawab: Nabi SAW tidak pernah melakukan salat sunah (tathawwu') di bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya, kemudian beliau salat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat lagi tiga rakaat ... (HR Bukhari dan Muslim).

Dikutip dari buku Kontroversi Shalat Malam, Witir, Dan Tarawih: Telaah Kritis atas Hadis-Hadis karya Wawan Shofwan Shalehuddin, ada dua cara Nabi SAW mengerjakan salat Tarawih 11 rakaat yakni dengan hitungan 4-4-3 dan 2-2-2-2-1.

Untuk hitungan 4-4-3 berlandaskan pada hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA yang berbunyi,

"Nabi SAW tidak pernah melakukan salat sunah pada Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. Kemudian, beliau salat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat lagi tiga rakaat (witir)."

Sementara itu, hitungan 2-2-2-2-2 ditambah 1 witir berdasarkan hadits riwayat Muslim dari sahabat Ibnu Abbas yang berbunyi,

"Aku berdiri di samping Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya di kepalaku dan dipegangnya telinga kananku dan ditelitinya, lalu Rasulullah salar dua rakaat kemudian dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, dan kemudian dua rakaat, selanjutnya Rasulullah SAW salat witir, kemudian Rasulullah SAW tiduran menyamping sampai Bilal menyerukan azan. Maka bangunlah Rasulullah SAW dan sholat dua rakaat singkat-singkat, kemudian pergi melaksanakan salat Subuh."

Wallahu a'lam bisshawab.




(dvs/rah)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads