Lupa Membacakan Titipan Doa Saat Haji, Bagaimana Hukumnya?

Kabar Haji Bersama Kahf

Lupa Membacakan Titipan Doa Saat Haji, Bagaimana Hukumnya?

Rachmatunnisa - detikHikmah
Minggu, 07 Jun 2026 13:00 WIB
Gunung Rahmat di Padang Arafah, Arab Saudi, kembali menjadi pusat perhatian ribuan jamaah haji yang memanjatkan doa dalam rangkaian ibadah haji 1447 Hijriah, Selasa (26/5/2026). Sejak matahari terbit, para peziarah Muslim tampak memadati kawasan ters
Foto: REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa
Makkah -

Musim haji identik dengan tradisi titip doa. Tak sedikit masyarakat yang meminta keluarga, kerabat, atau teman yang sedang menunaikan ibadah haji untuk mendoakan berbagai hajat mereka di Tanah Suci.

Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai tradisi titip doa kepada jemaah haji? Kepala Seksi Bimbingan Ibadah (Bimbad) dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Daerah Kerja (Daker) Makkah, Erti Herlina, mengatakan titip doa merupakan hal yang diperbolehkan dalam Islam. Menurutnya, berdoa untuk orang lain merupakan amalan yang memang dianjurkan.

"Gak apa-apa, boleh. Kita kan diajarkan berdoa itu bukan hanya untuk diri kita sendiri. Nah, tradisi titip doa pun sama intinya," kata Erti saat berbincang di kantor Daker Makkah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, dalam banyak doa umat Islam juga diajarkan untuk mendoakan sesama muslim secara umum. Karena itu, ketika ada seseorang yang meminta didoakan secara khusus, hal tersebut tidak menjadi masalah.

"Mungkin kalau biasanya kita menyebutkan wal muslimin, wal muslimat untuk seluruh kaum muslimin dan muslimat. Nah, ketika ada yang menitip doa kan itu lebih spesifik. Itu gak apa-apa," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Erti, banyak orang menitipkan doa kepada jemaah haji karena berharap doanya dipanjatkan di tempat-tempat yang mulia dan mustajab di Tanah Suci.

"Dan karena kita meyakini di sini itu Tanah haram, Insya Allah siapapun yang berdoa di sini Allah kabulkan. Mungkin karena mereka tidak bisa ke sini, mereka berharap didoakan sama kita (jemaah haji) dan Allah bisa mengabulkan doa itu," jelasnya.

Lantas bagaimana jika seseorang sudah menerima titipan doa, tetapi lupa membacakannya saat di tempat tertentu? Erti menilai hal tersebut manusiawi. Menurutnya, doa tidak harus dibacakan di satu lokasi atau waktu tertentu saja selama masih berada di Tanah Suci.

"Lupa ya manusiawi, gak apa-apa. Ketika pas wukuf-nya lupa, bisa dibacakan ketika di Muzdalifah, bisa dibacakan ketika di Mina, bisa dibacakan ketika tawaf Ifadhah, bisa dibacakan juga ketika misalnya kita sedang sai," katanya.

Ia menambahkan, seluruh kawasan Tanah Haram merupakan tempat yang mulia untuk berdoa sehingga seseorang tetap dapat menyampaikan titipan doa di berbagai kesempatan.

"Di manapun insya Allah, di Tanah Haram itu semua doa-doa kita insya Allah, Allah ijabah, Allah kabulkan," ujar Erti.

Di sisi lain, Erti mengakui ada sebagian orang yang memilih tidak menerima titipan doa. Alasannya, mereka menganggap titipan doa sebagai amanah yang harus ditunaikan sehingga khawatir menjadi beban apabila terlupa.

"Ada yang seperti itu, karena mereka berprinsip itu adalah amanah, sehingga ketika tidak tertunaikan menjadi pengikat bagi dia tidak bisa menunaikan amanah," katanya.

Menurut Erti, sikap tersebut juga tidak salah. Seseorang boleh menolak titipan doa apabila merasa tidak mampu mengingat atau khawatir tidak dapat menunaikannya.

"Untuk yang seperti itu juga gak apa-apa, kalau memang kita tidak mau, kita bisa menolaknya. Mohon maaf seperti itu," ujarnya.

Sebagai solusi agar tidak khawatir melupakan titipan doa dari banyak orang, Erti menyarankan memperbanyak doa untuk seluruh umat Islam secara umum.

"Kalau saya, untuk mengantisipasi ada yang lupa, ya itu tadi (mengucapkan) wal muslimin, wal muslimat, jadi bisa untuk semuanya. Itu untuk mengantisipasi ketika kita ada yang lupa, yang menitip doa," pungkasnya.




(lus/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads