- Perbedaan Haji Mabrur dan Haji Mardud
- Syarat Haji Mabrur 1. Niat Ikhlas karena Allah SWT 2. Menjadikan Takwa sebagai Bekal Utama 3. Melaksanakan Rukun, Wajib, dan Sunnah Haji dengan Baik 4. Menggunakan Biaya dari Harta yang Halal 5. Menjauhi Perbuatan Dosa dan Larangan Haji 6. Memperbanyak Zikir dan Doa
- Ciri-ciri Haji Mabrur 1. Terjadi Peningkatan Kualitas Diri 2. Menghiasi Diri dengan Amal Kebaikan 3. Mempertahankan Sikap Zuhud dan Menjaga Kebersihan Hati 4. Tetap Optimistis dan Memperbanyak Doa
Perbedaan haji mabrur dan haji mardud sering menjadi pembahasan penting dalam ibadah haji. Istilah ini berkaitan dengan diterima atau tidaknya ibadah haji seseorang di sisi Allah SWT.
Dalam Islam, haji mabrur merupakan haji yang diterima dan membawa perubahan baik bagi pelakunya. Sementara itu, haji mardud diartikan sebagai haji yang tertolak karena tidak memenuhi ketentuan atau tercampur dengan perbuatan maksiat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan Haji Mabrur dan Haji Mardud
Dalam Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah susunan Kemenhaj RI, dijelaskan bahwa haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT serta dinilai sebagai amalan yang baik. Predikat ini tidak hanya ditentukan oleh terpenuhinya rukun dan syarat wajib haji, tetapi juga oleh keikhlasan hati, kesungguhan ibadah, dan ketaatan kepada Allah selama menjalankan rangkaian haji.
Sementara itu, haji mardud, sebagaimana dijelaskan dalam buku Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu karya Abdullah Gymnastiar, adalah haji yang tertolak. Karena itu, kesempatan menunaikan ibadah haji harus dijaga dengan sungguh-sungguh agar tidak berakhir sia-sia dan termasuk ke dalam golongan haji mardud.
Haji mabrur biasanya tampak dari perubahan positif pada diri seseorang setelah pulang dari Tanah Suci. Perubahan tersebut dapat terlihat dari sikap, akhlak, kehidupan sosial, hingga kualitas ibadah dan spiritualitasnya. Orang yang memperoleh haji mabrur akan menjadi pribadi yang lebih baik, lebih menjaga diri dari maksiat, serta lebih dekat kepada Allah SWT.
Dengan demikian, setiap haji mabrur sudah pasti maqbul atau diterima. Namun, tidak semua haji yang diterima otomatis mencapai derajat mabrur.
Haji mabrur juga menjadi pencapaian tertinggi bagi seorang jemaah haji. Mereka yang mendapatkannya dijanjikan balasan berupa surga, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
Artinya: "Tidak ada balasan bagi haji mabrur selain surga." (HR Al-Bukhari)
Sebaliknya, orang yang memperoleh haji mardud dan tidak segera bertobat justru terancam tidak mendapatkan kemuliaan dari ibadah hajinya. Sebab, gelar haji tidak akan berarti apabila perilaku dan perbuatannya masih dipenuhi kemaksiatan dan jauh dari nilai-nilai kebaikan.
Syarat Haji Mabrur
Masih dalam sumber yang sama, terdapat beberapa syarat agar ibadah haji menjadi haji mabrur dan tidak termasuk haji mardud. Berikut penjelasannya.
1. Niat Ikhlas karena Allah SWT
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِحُ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
Artinya: "Haji adalah kewajiban umat manusia (umat Islam) karena Allah, yaitu seseorang yang mampu melaksanakan perjalanan ke Baitullah " (QS Ali 'Imran: 97)
Ibadah haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu secara fisik maupun finansial. Dalam pelaksanaannya, haji harus dilandasi niat yang ikhlas semata-mata karena Allah SWT, bukan untuk mencari pujian, popularitas, atau pengakuan dari orang lain.
Karena itu, seorang jemaah hendaknya menjalankan ibadah haji dengan penuh kerendahan hati, ketenangan, dan kekhusyukan. Bahkan Rasulullah SAW juga memohon kepada Allah agar ibadah hajinya dijauhkan dari sifat riya dan keinginan mencari kemasyhuran. Doa tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.
عن أنس بن مالك رضي الله عنه ، قال: حج النبي صلى الله عليه وسلم على رَحْلِ رَيَّ، وقطيفة تساوي أربعة دراهم، أو لا تساوي ثم قال: «اللهم حجة لا رياء فيها، ولا شمعة [رواه ابن ماجه ]
Artinya: Dari Anas bin Malik RA, dia berkata, "Nabi SAW menunaikan haji dengan mengendarai unta dan menghamparkan sehelai kain yang harganya kurang dari empat dirham, lalu beliau berdoa: 'Ya Allah, jadikanlah haji ini tanpa riya dan mencari kemasyhuran'." (HR Ibn Majah)
2. Menjadikan Takwa sebagai Bekal Utama
Menjadikan takwa sebagai bekal utama merupakan salah satu hal terpenting dalam pelaksanaan ibadah haji. Haji tidak hanya berkaitan dengan amalan lahiriah, tetapi juga membutuhkan kesiapan hati dan ketulusan batin sebagai inti dari ibadah tersebut. Tanpa kehadiran hati, amalan fisik menjadi tidak sempurna, layaknya tubuh tanpa ruh.
Karena itu, Allah SWT memerintahkan para tamu-Nya untuk mempersiapkan bekal terbaik, yaitu ketakwaan.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
Artinya: "Dan persiapkanlah bekal. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa..." (QS: Al-Baqarah: 197)
Bekal dalam ibadah haji mencakup dua hal penting. Pertama adalah bekal material, seperti biaya perjalanan, perlengkapan, dokumen, dan kebutuhan selama di Tanah Suci. Kedua adalah bekal spiritual berupa kesiapan jiwa dan hati dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah.
Dengan terpenuhinya kedua bekal tersebut, jemaah diharapkan dapat lebih dekat kepada Allah SWT dan memperoleh haji yang mabrur, sehingga kembali dalam keadaan bersih dari dosa seperti bayi yang baru dilahirkan. Dalam hal ini, takwa menjadi bekal yang paling utama.
3. Melaksanakan Rukun, Wajib, dan Sunnah Haji dengan Baik
Setiap calon jemaah haji perlu mempelajari ilmu manasik sebelum berangkat ke Tanah Suci. Hal ini penting karena kesempurnaan ibadah sangat dipengaruhi oleh pemahaman terhadap tata cara pelaksanaannya.
Selama masa persiapan, jemaah dianjurkan untuk memperdalam ilmu tentang haji agar mampu menjalankan setiap rangkaian ibadah sesuai tuntunan syariat. Bahkan ketika dalam perjalanan pun, jemaah sebaiknya tetap membawa buku manasik untuk dipelajari kembali.
Rasulullah SAW bersabda:
خُدُوا عَنَى مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلَى أَنْ لَا أَحْجٌ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ
Artinya: "Ambillah proses manasik dariku. Karena aku tidak tahu apakah aku bisa haji lagi setelah haji ini atau tidak."
Melaksanakan rukun, wajib, dan sunnah haji dengan benar menjadi salah satu syarat penting untuk meraih kemabruran dalam ibadah haji.
4. Menggunakan Biaya dari Harta yang Halal
Allah SWT hanya menerima sesuatu yang baik dan halal. Oleh sebab itu, biaya serta bekal yang digunakan untuk berhaji harus berasal dari sumber yang halal dan terbebas dari unsur haram maupun syubhat.
Walaupun ibadah haji tetap dianggap sah secara hukum fikih, penggunaan harta yang tidak halal dapat menjadi sebab tidak diterimanya ibadah tersebut. Bahkan doa seseorang dapat tertolak apabila makanan, minuman, dan pakaiannya berasal dari hal yang haram.
Dalam hadits dikatakan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَيُّهَا النَّاسُ إنَّ اللهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ثم ذكر الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ( رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasul SAW bersabda: "Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. la memerintahkan pada orang-orang yang beriman apa yang diperintahkan pada para utusan. "Wahai para utusan, makanlah dari yang baik dan beramallah yang baik, karena sesungguhnya kami mengetahui apa yang kalian kerjakan." "Makanlah dari yang baik atas apa yang Kami rezekikan padamu." Kemudian Nabi menuturkan ada seorang laki-laki yang bepergian jauh, rambutnya acak-acakan dan kotor. Dia menengadahkan kedua tangannya ke atas seraya berdoa: Wahai tuhanku, wahai tuhanku, sedang yang dimakan dan yang diminum serta dan yang di pakai adalah berasal dari yang haram, mana mungkin doanya diterima." (HR Muslim)
Dalam kondisi tertentu, para ulama juga menganjurkan agar jemaah benar-benar memperhatikan kehalalan harta, terutama saat menjalankan momen inti ibadah seperti ihram dan wukuf, disertai rasa takut dan harap kepada Allah SWT.
5. Menjauhi Perbuatan Dosa dan Larangan Haji
Dalam surah Al-Baqarah 197 Allah berfirman:
الْحَبُّ أَشْهُرْ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجٌ فَلَا رَفَتَ وَلَا نُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجَ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمُهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَالرَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Artinya: "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaku wahai orang-orang yang berakal."
Ayat tersebut menegaskan bahwa selama menjalankan ibadah haji, jemaah harus menjaga diri dari perbuatan dosa, ucapan yang tidak baik, pertengkaran, maupun tindakan maksiat lainnya.
Dalam hadits shahih juga disebutkan:
من حج فَلَم يَرْفُتْ وَلَمْ يَفْسُقُ، رجع كيوم ولدثه أمه
Artinya: "Barang siapa berhaji kemudian dia tidak rafats, fusuq, maka ia kembali seperti dilahirkan ibunya." (HR Bukhari-Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang mampu menjaga dirinya dari dosa selama berhaji akan memperoleh ampunan dari Allah SWT.
6. Memperbanyak Zikir dan Doa
Ibadah haji hendaknya dipenuhi dengan zikir, doa, dan mengingat Allah SWT di setiap rangkaian ibadah, mulai dari ihram hingga seluruh prosesi haji selesai dilaksanakan.
Kesungguhan dalam berzikir menjadi tanda hadirnya hati dalam beribadah. Karena itu, jemaah perlu menjaga kekhusyukan dan menghindari hal-hal yang dapat melalaikan, seperti kesibukan yang tidak penting ataupun sikap pamer kepada orang lain. Dengan memperbanyak doa dan zikir, diharapkan ibadah haji menjadi lebih bermakna dan bernilai mabrur di sisi Allah SWT.
Ciri-ciri Haji Mabrur
Ciri-ciri haji mabrur bisa dilihat sepulang dari Tanah Suci. Berikut beberapa di antaranya mengacu pada hadits dan pendapat para ulama.
1. Terjadi Peningkatan Kualitas Diri
Haji mabrur dapat terlihat dari perubahan diri seseorang setelah menunaikan ibadah haji. Orang yang hajinya mabrur akan menunjukkan kualitas pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelum berhaji.
ومن علامات قبول الحج، أن يرجع العبد خيرا مما كان، ولا يعاود المعاصي... فكما قال الإمام القرطبي : الْأَقْوَالَ الَّتِي ذُكِرَتْ فِي تَفْسِيره مُتَقَارِبَةِ الْمَعْنَى ، وَهِيَ أَنَّهُ الْحَجَ الَّذِي وُفِّيَتْ أَحْكَامُه وَوَقَعَ مَوْافقًا لِمَا طُلِبَ مِنْ الْمُكَلَّفَ عَلَى الْوَجْه الأكمل. نقله ابن حجر في (فتح الباري).
Artinya: "Di antara tanda-tanda diterimanya haji adalah jika seorang hamba pulang dalam kondisi yang lebih baik dibanding sebelumnya dan tidak mengulangi kemaksiatan. Sebagaimana pernyataan Imam Qurtubi, pendapat-pendapat tentang kemabruran yang disebutkan di dalam tafsirnya memiliki makna yang serupa yakni, haji mabrur adalah haji yang hukum-hukum haji dilaksanakan secara sempurna sesuai dengan yang semestinya." (Dinukil oleh Ibn Hajar dalam kitab Fathul Bari).
Haji mabrur juga ditandai dengan kemampuan menjaga diri dari perbuatan maksiat selama menjalankan manasik haji serta adanya perubahan perilaku setelah kembali ke Tanah Air. Orang yang memperoleh haji mabrur akan berusaha meninggalkan kebiasaan buruk dan meningkatkan ketakwaannya kepada Allah SWT. Pendapat ini termasuk yang dikuatkan oleh Imam Nawawi.
2. Menghiasi Diri dengan Amal Kebaikan
Salah satu tanda kemabruran haji adalah semakin semangat dalam melakukan berbagai amal saleh. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut:
لَيْسَ الْبِرَّانُ تُوَلُّوا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلْئِكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيِّنَ ۚ وَأَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَمَى وَالْمَسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّابِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلوةَ وَأَتَى الزَّكُوةَ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّبِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَبِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَبِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
Artinya: "Bukanlah kebaikan itu dengan menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat. Akan tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa" (QS.al-Baqarah: 177)
Berdasarkan ayat tersebut, terdapat beberapa bentuk kebajikan yang menjadi ciri orang bertakwa, di antaranya beriman kepada Allah SWT, hari akhir, malaikat, kitab-kitab, dan para nabi. Selain itu, seseorang juga dianjurkan untuk gemar bersedekah kepada kerabat, anak yatim, fakir miskin, ibnu sabil, dan orang yang membutuhkan bantuan.
Tidak hanya itu, kemabruran haji juga tercermin dari kesungguhan dalam mendirikan salat, menunaikan zakat, menepati janji, serta bersabar ketika menghadapi ujian hidup dan berbagai kesulitan.
3. Mempertahankan Sikap Zuhud dan Menjaga Kebersihan Hati
Ibadah haji merupakan pengalaman spiritual yang sangat mendalam dan penuh makna. Berbagai perjuangan selama di Tanah Suci meninggalkan kesan yang kuat dalam hati setiap jemaah. Karena itu, nilai-nilai kebaikan yang diperoleh selama berhaji perlu terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap zuhud yang tumbuh selama menjalankan ibadah haji dapat diwujudkan dengan menjalani hidup secara sederhana dan tidak berlebihan dalam mencintai urusan dunia. Hati juga senantiasa dijaga agar tetap bersih dan lebih fokus mengejar kebahagiaan akhirat.
Sebagaimana ketika tawaf yang membuat hati sepenuhnya tertuju kepada Allah SWT, keadaan spiritual tersebut sebaiknya tetap dipertahankan setelah kembali dari Tanah Suci. Walaupun secara fisik seseorang tidak selalu berada di dekat Ka'bah, kedekatan batin dengan Allah tetap dapat dirasakan setiap waktu. Oleh sebab itu, menjaga hati agar selalu ingat kepada Allah menjadi bagian penting dalam mempertahankan kemabruran haji.
4. Tetap Optimistis dan Memperbanyak Doa
Setelah menunaikan ibadah haji, seorang muslim dianjurkan untuk terus berharap dan berprasangka baik kepada Allah SWT atas kemabruran hajinya. Sikap optimis penting dijaga agar semangat beribadah tidak menurun setelah kembali ke Tanah Air.
Tidak sedikit jemaah yang merasa khawatir apakah hajinya diterima atau belum. Bahkan, ada pula yang merasa ingin kembali mengulang ibadah haji karena takut ibadahnya belum sempurna. Dalam kondisi seperti ini, seorang muslim dianjurkan untuk terus memperbanyak doa dan memohon kepada Allah SWT agar hajinya diterima serta dicatat sebagai haji yang mabrur.
Wallahu a'lam.
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Anggaran Sewa Laptop & Meja Disebut Terlalu Besar, Kemenag: Ini Jauh Lebih Efisien
Jemaah Haji RI Ditangkap di Madinah Usai Videokan Wanita Tanpa Izin
MUI Kecam Pimpinan Ponpes di Pati yang Perkosa Santriwati: Perbuatan Terkutuk!