Doa agar Menjadi Haji Mabrur Lengkap Arab, Latin dan Artinya

Doa agar Menjadi Haji Mabrur Lengkap Arab, Latin dan Artinya

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Jumat, 24 Apr 2026 15:30 WIB
Doa agar Menjadi Haji Mabrur Lengkap Arab, Latin dan Artinya
Jemaah haji 2025 memanjatkan doa ketika wukuf di Arafah. Foto: REUTERS/Khaled Abdullah
Jakarta -

Doa agar ibadah haji mabrur merupakan salah satu amalan yang dianjurkan bagi setiap jemaah haji. Haji mabrur sendiri adalah haji yang diterima oleh Allah SWT dan membawa perubahan kebaikan dalam kehidupan seseorang.

Membaca doa ini tidak hanya dilakukan saat di Tanah Suci, tetapi juga bisa diamalkan sejak sebelum berangkat hingga setelah kembali ke Tanah Air sebagai bentuk harapan atas ibadah yang sempurna.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Haji Mabrur?

Dijelaskan dalam buku Tuntutan Manasik Haji dan Umrah susunan Kementerian Haji dan Umrah RI, haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT dan bernilai kebaikan. Predikat ini tidak hanya ditentukan oleh terpenuhinya rukun dan syarat haji, tetapi juga oleh keikhlasan serta ketaatan selama menjalankannya.

Haji mabrur juga terlihat dari perubahan positif dalam sikap, perilaku, dan kehidupan setelah kembali ke Tanah Air. Ini merupakan tingkat tertinggi dalam ibadah haji, dengan balasan surga sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Muhammad SAW.

ADVERTISEMENT

الْحَيُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءُ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya: "Tidak ada balasan yang pantas bagi haji mabrur selain surga" (HR Al-Bukhari)

Doa Haji Mabrur 1

Dikutip dari buku Doa dan Zikir Manasik Haji dan Umrah yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag) RI, berikut bacaan lengkap doa haji mabrur:

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ رَجْمًا لِلشَّيَاطِينِ وَرِضًا لِلَّرْحْمَنِ اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْياً مَشْكُورًا

Arab latin: Bismillaahi wallahu akbar, rajman lisysyayaathiini wa ridhan lirrahmaani allhummaj'al hajjan mabruuran wa sa'yan masykuuran.

Artinya: "Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, kutukan bagi segala setan dan ridha bagi Allah Yang Maha Pengasih, Ya Allah Tuhanku, jadikanlah hajiku ini haji yang mabrur dan sai yang diterima."

Doa Haji Mabrur 2

اللهم اجْعَلْ حَجَّنَا حَجًّا مَبْرُوْرًا، وَعُمْرَةَنَا عُمْرَةً مَبْرُوْرًا، وَسَعْيَنَا سَعْيًا مَشْكُوْرًا، وَذَنْبَنَا ذَنْبًا مَغْفُوْرًا، وَعَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مَقْبُوْلًا، وَتِجَارَةَنَا تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ، يَا عَالِمَ مَا فِى الصُّدُوْرِ أَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ.

Arab latin: Allahumaj'al hajjana hajjan mabruuraa, wa 'umratan 'umratan mabruuraa, wasa'yanaa sa'yan masykuuraa, wa dzanbanaa dzanban maghfuuraa, wa 'amalanaa 'amalan shaalihan maqbuulaa, wa tijaaratan lan tabuura, yaa 'aalima maa fish shudur akhrijnaa minadzh dzhulumaati ilan nuur.

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah haji kami haji yang mabrur (baik dan diterima), umrah kami umrah yang mabrur, sai kami sai yang disyukuri, doa kami dosa yang diampuni, amal kami amal saleh yang diterima dan perdagangan kami perdagangan yang tidak merugi, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada, keluarkanlah kami dari kezaliman menuju cahaya (keimanan)."

Doa Haji Mabrur 3

Dalam Fiqh As-Sunnah karya Sayyid Sabiq yang diterjemahkan oleh Khairul Amru Harahap, terdapat doa yang dapat diamalkan keluarga yang ditinggalkan berangkat haji. Berikut bacaannya:

زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ, وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

Arab latin: Zawwadakallaahut taqwa wa ghafara dzanbaka wa yassara lakal khaira hay-tsuma kunta.

Artinya: "Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkanmu di mana saja engkau berada." (HR At-Tirmidzi)

Doa Haji Mabrur 4

Doa haji mabrur ini dikutip dari buku Untaian Mutiara Doa Solusi Problematika Umat oleh Ali Manshur, berikut bacaanya:

اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا حَاجًا مَبْرُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا

Arab latin: Allahummaj'alha hajjan mabruran wa dzanban maghfuran.

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah ia (ibadah) sebagai ibadah haji yang mabrur dan dosa yang diampuni."

Syarat Haji Mabrur

1. Niat Ikhlas karena Allah

Haji adalah kewajiban bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan, dan pelaksanaannya harus didasari niat yang ikhlas hanya karena Allah SWT. Ibadah ini tidak seharusnya disertai dengan riya, sum'ah, atau sikap membanggakan diri.

Allah SWT berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِحُ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Artinya: "Haji adalah kewajiban umat manusia (umat Islam) karena Allah, yaitu seseorang yang mampu melaksanakan perjalanan ke Baitullah..." (QS Ali Imran: 97)

Oleh karena itu, haji perlu dijalankan dengan penuh kerendahan hati, ketenangan, dan kekhusyukan. Bahkan, Rasulullah SAW pun memohon kepada Allah SWT agar ibadah hajinya dijauhkan dari sifat riya. Berikut doa yang beliau panjatkan.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه ، قال: حج النبي صلى الله عليه وسلم على رَحْلٍ رَيَّ، وقطيفة تساوي أربعة دراهم، أو لا تساوي ثم قال: «اللهم حجة لا رياء فيها، ولا شمعة [رواه ابن ماجه ]

Artinya: Dari Anas bin Malik RA dia berkata, "Nabi SAW menunaikan haji dengan mengendarai unta dan menghamparkan sehelai kain yang harganya kurang dari empat dirham, lalu beliau berdoa: 'Ya Allah, jadikanlah haji ini tanpa riya dan mencari kemasyhuran'." (HR Ibn Majah)

2. Menjadikan Takwa sebagai Bekal Utama

Takwa merupakan bekal utama yang sangat penting dalam ibadah haji. Haji tidak hanya sebatas amalan lahiriah, tetapi juga harus disertai dengan kesadaran batin sebagai fondasinya. Tanpa keterlibatan hati, ibadah menjadi tidak bermakna. Karena itu, Allah SWT memerintahkan para tamu-Nya untuk mempersiapkan bekal, terutama bekal spiritual berupa ketakwaan agar ibadah haji dapat dijalankan secara sempurna.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Artinya: "Dan persiapkanlah bekal. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa..." (QS Al-Baqarah: 197)

Bekal dalam ibadah haji mencakup dua aspek utama. Pertama, bekal material (hissi), yang meliputi biaya perjalanan, kebutuhan hidup, uang, dokumen, dan perlengkapan lainnya.

Kedua adalah bekal spiritual (ma'nawi), yaitu kesiapan batin dalam menjalankan ibadah. Dengan terpenuhinya bekal lahir dan batin, jemaah diharapkan semakin dekat dengan Allah SWT. Ibadah haji pun diharapkan diterima, sehingga jemaah kembali dalam keadaan bersih dari dosa seperti saat dilahirkan. Dalam hal ini, ketakwaan menjadi bekal yang paling utama.

3. Melaksanakan Rukun, Wajib, dan Sunnah Sempurna

Setiap jemaah haji perlu membekali diri dengan ilmu manasik sebelum berangkat, karena keberhasilan ibadah sangat dipengaruhi oleh pemahaman yang dimiliki. Oleh karena itu, selama masa menunggu keberangkatan, jemaah dianjurkan untuk terus mempelajari tata cara haji.

Bahkan, saat perjalanan berlangsung, disarankan tetap membawa dan mempelajari buku manasik agar setiap rangkaian ibadah dapat dilakukan dengan tepat ketika waktunya tiba. Rasulullah SAW bersabda:

خُدُوا عَنَى مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلَى أَنْ لَا أَحْجٌ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ

Artinya: "Ambillah proses manasik dariku. Karena aku tidak tahu apakah aku bisa haji lagi setelah haji ini atau tidak."

4. Menggunakan Biaya yang Halal

Allah SWT hanya menerima sesuatu yang baik (thayyib). Karena itu, bekal dan biaya haji harus berasal dari sumber yang halal serta terbebas dari hal yang haram maupun syubhat.

Meski secara hukum haji tetap sah, penggunaan harta yang tidak halal dapat membuat ibadah tersebut tidak diterima. Bahkan, doa seseorang bisa tertolak jika sumber rezekinya berasal dari yang haram. Rasulullah SAW bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيْبٌ لَا يَقْبَلْ إِلَّا طَيْبًا وَإِن َّ اللهَ أَمَر َ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَر َ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرَّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَتِبَاتِ مَا رَزَقْتَكُم)مَّ ذَكَر َ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَتْ أَعْبَرَ يَمْدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبِّهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسْهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّي يُسْتَجَابُ إِذَلِكَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Artinya: Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasul SAW bersabda: "wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. la memerintahkan pada orang-orang yang beriman apa yang diperintahkan pada para utusan. "Wahai para utusan, makanlah dari yang baik dan beramallah yang baik, karena sesungguhnya kami mengetahui apa yang kalian kerjakan." "makanlah dari yang baik atas apa yang Kami rezeqikan padamu." Kemudian Nabi menuturkan ada seorang laki- laki yang bepergian jauh, rambutnya acak- acakan dan kotor. Dia menengadahkan kedua tangannya keatas seraya berdo'a: Wahai tuhanku, wahai tuhanku", sedang yang dimakan dan yang diminum serta dan yang di pakai adalah berasal dari yang haram, mana mungkin doanya diterima" (HR Muslim)

Dalam kondisi tertentu, para ulama menyarankan agar mengutamakan penggunaan harta yang benar-benar halal, terutama pada momen-momen inti ibadah seperti ihram dan wukuf, serta disertai rasa takut dan harap kepada Allah jika terdapat keterbatasan.

5. Menjauhi Perbuatan Dosa dan Larangan Haji

Dalam surah Al-Baqarah 197 Allah berfirman:

الْحَبُّ أَشْهُرْ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجٌ فَلَا رَفَتَ وَلَا نُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجَ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمُهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَالرَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaku wahai orang-orang yang berakal."

Dalam hadits sahih disebutkan:

من حج فَلَم يَرْفُتْ وَلَمْ يَفْسُقُ، رجع كيوم ولدثه أمه

Artinya: "Barang siapa berhaji kemudian dia tidak rafats, fusuq, maka ia kembali seperti dilahirkan ibunya." (HR Bukhari-Muslim)

6. Memperbanyak Zikir dan Doa

Ibadah haji hendaknya dipenuhi dengan zikir, doa, dan mengingat Allah di setiap tahap, mulai dari ihram hingga seluruh rangkaian ibadah. Konsistensi dalam berzikir mencerminkan kesungguhan hati dalam beribadah. Selain itu, jemaah perlu menjauhi hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyukan, seperti aktivitas yang tidak penting atau sikap pamer.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads