Wajib Haji yang Jika Ditinggalkan Harus Membayar Dam

Wajib Haji yang Jika Ditinggalkan Harus Membayar Dam

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Senin, 20 Apr 2026 13:19 WIB
Wajib Haji yang Jika Ditinggalkan Harus Membayar Dam
Ilustrasi Haji Foto: M. Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta -

Dalam rangkaian ibadah haji, jemaah wajib untuk memahami perbedaan antara rukun dan wajib haji. Jika rukun haji bersifat mutlak dan tidak bisa digantikan, berbeda halnya dengan wajib haji.

Meski harus dikerjakan, tertinggalnya salah satu amalan tersebut tidak lantas membatalkan haji, namun ada konsekuensi berupa dam (denda).

Lantas, amalan apa saja yang jika ditinggalkan mengharuskan jemaah membayar dam? Dan bagaimana aturan terbaru mengenai lokasi penyembelihan hewan dam bagi jemaah haji Indonesia?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengertian Wajib Haji

Dijelaskan dalam Buku Tuntunan Haji 2026 terbitan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, wajib haji adalah rangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah haji, yang apabila salah satu amalan tersebut tidak dikerjakan, maka ibadah haji seseorang tetap sah, tetapi diwajibkan untuk membayar denda (dam).

Rangkaian ibadah yang termasuk wajib haji antara lain sebagai berikut:

ADVERTISEMENT
  • Berihram atau niat dari miqat
  • Bermalam di Muzdalifah
  • Bermalam di Mina
  • Melontar Jumrah
  • Thawaf Wada

Dam bagi yang Meninggalkan Wajib Haji

Masih mengutip dari Buku Tuntunan Haji 2026, landasan dasar al-Hadyu yang berkaitan dengan dam dalam ibadah haji telah Allah SWT sebutkan dalam firman-Nya surah Al-Baqarah ayat 196:

وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ ۗ فَاِنْ اُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِۚ وَلَا تَحْلِقُوْا رُءُوْسَكُمْ حَتّٰى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهٗ ۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ بِهٖٓ اَذًى مِّنْ رَّأْسِهٖ فَفِدْيَةٌ مِّنْ صِيَامٍ اَوْ صَدَقَةٍ اَوْ نُسُكٍ ۚ فَاِذَآ اَمِنْتُمْ ۗ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ اِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِۚ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ فِى الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ اِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗذٰلِكَ لِمَنْ لَّمْ يَكُنْ اَهْلُهٗ حَاضِرِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ࣖ

Wa atimmul-ḥajja wal-'umrata lillāh(i), fa'in uḥṣirtum famastaisara minal-hady(i), wa lā taḥliqū ru'ūsakum ḥattā yablugal-hadyu maḥillah(ū), faman kāna minkum marīḍan au bihī ażam mir ra'sihī fafidyatum min ṣiyāmin au ṣadaqatin au nusuk(in), fa'iżā amintum, faman tamatta'a bil-'umrati ilal-ḥajji famastaisara minal-hady(i), famal lam yajid faṣiyāmu ṡalāṡati ayyāmin fil-ḥajji wa sab'atin iżā raja'tum, tilka 'asyaratun kāmilah(tun), żālika limal lam yakun ahluhū ḥāḍiril-masjidil-ḥarām(i), wattaqullāha wa'lamū annallāha syadīdul-'iqāb(i).

Artinya: "Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Akan tetapi, jika kamu terkepung (oleh musuh), (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat dan jangan mencukur (rambut) kepalamu sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepala (lalu dia bercukur), dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, siapa yang mengerjakan umrah sebelum haji (tamatu'), dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat. Akan tetapi, jika tidak mendapatkannya, dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (masa) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itulah sepuluh hari yang sempurna. Ketentuan itu berlaku bagi orang yang keluarganya tidak menetap di sekitar Masjidil Haram. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Keras hukuman-Nya."

Secara bahasa dam berarti darah, sedangkan menurut istilah dam adalah mengalirkan darah (menyembelih hewan ternak) berupa kambing, unta, atau sapi, dalam rangka memenuhi ketentuan manasik haji.

Dam memiliki banyak jenis, jemaah haji yang melanggar aturan atau melakukan kesalahan maka akan dikenakan dam Isa'ah. Dam Isa'ah dilakukan dengan cara menyembelih seekor kambing apabila meninggalkan salah satu dari wajib hati yang sebelumnya telah dijelaskan di atas.

Waktu Pelaksanaan Dam

Masih mengutip dari sumber sebelumnya, Mudzakarah Perhajian tahun 2024 M/1446 H memutuskan bahwa penyembelihan dan pembagian daging hadyu/dam di luar Tanah Haram termasuk di tanah air, hukumnya boleh dan sah. Pihak Arab Saudi mengharapkan penyembelihan dam bisa dilakukan di negara pengirim jemaah haji.

Menurut pendapat mazhab Syafi'i, penyembelihan dam boleh dilakukan di luar Tanah Haram, karena yang terpenting adalah sampainya dam di Tanah Haram, meskipun penyembelihan dilakukan di luar Tanah Haram

وَيُخْتَصُّ ذَبْحُهُ بِالحَرَامِ فِي الأَظْهَرِ قَالَ تَعالى هَدْيَا بَالِغَ الْكَعْبَةِ، فَلَوْ ذُبِحَ خَارِجَ الْحَرَامِ لَمْ يُعْتَدُ بِهِ وَالثَّانِيَةُ يُعْتَدُّ بِهِ بِشَرْطِ أَنْ يُنقَلَ وَيُفْرِقُ فِي الحَرَامِ قَبْلَ تَغَيُّرِ اللَّحْمِ لِأَنَّ الْمَقْصُوْدَ هُوَ اللَّحْمُ وَقَدْ حَصَلَ بِهِ الْغَرْضُ

Artinya: "Penyembelihan dam dikhususkan di Tanah Haram menurut qaul adzhar. Allah SAW berfirman, 'Hewan dam sebagai hadiah yang disampaikan ke Ka'bah (Tanah Haram)." (QS Al-Maidah ayat 95). Apabila penyembelihan dilakukan di luar Tanah Haram maka tidak dianggap sah. Pendapat kedua (muqabilul adzhar) menyatakan bahwa penyembelihan dilakukan di luar Tanah Haram tetap dianggap sah dengan syarat hasil sembelihan tersebut dikirim dan didistribusikan ke Tanah Haram sebelum berubahnya daging. Sebab tujuan utama dam ialah daging, dan tujuan tersebut tercapai dengan dam di distribusikan ke Tanah Haram."




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads