Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menegaskan komitmennya melindungi jemaah lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi (risti) pada penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M. Pemerintah akan melakukan penguatan istitha'ah kesehatan dan optimalisasi skema tanazul dan murur.
Dilansir dari situs resminya, Rabu (18/2/2026), pemerintah melakukan penguatan kesehatan di Arab Saudi melalui manajemen mobilitas jemaah pada fase puncak badah. RI menekankan optimalisasi skema murur-tanazul sebagai langkah strategis menekan kelelahan ekstrem dan kepadatan.
Skema murur memungkinkan jemaah lansia dan risti melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus, sehingga mengurangi beban fisik dan risiko gangguan kesehatan. Sementara itu, skema tanazul memberi opsi sebagian jemaah kembali lebih awal ke hotel setelah melontar jumrah untuk mengurangi kepadatan di tenda Mina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Murur dan tanazul bukan hanya solusi teknis, tetapi bentuk keberpihakan pada jemaah rentan. Prinsipnya, ibadah harus sah sekaligus aman dan manusiawi," jelas Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf dalam forum Saudi-Indonesian Umrah Co.Exchange di Makkah, Senin (16/2/2026).
Selain itu, Indonesia juga mengusulkan kesiapsiagaan dukungan medis di jalur menuju jamarat untuk mempercepat respons dalam kondisi darurat ketika puncak haji lempar jumrah.
"Kita ingin menggeser pendekatan dari reaktif menjadi preventif. Jangan menunggu jemaah sakit, tetapi pastikan mereka tetap sehat selama menjalankan ibadah," jelas Gus Irfan, sapaan akrabnya.
Dia menyebut perlindungan jemaah khususnya lansia dan risti jadi prioritas utama Kemenhaj RI pada penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M.
"Perlindungan jemaah, khususnya lansia dan risti, adalah prioritas utama kami pada penyelenggaraan haji tahun ini," tegasnya.
Gus Irfan menilai perlindungan itu harus dimulai sejak tahap persiapan di Tanah Air lewat penguatan istitha'ah kesehatan, tak sekadar sebagai syarat administratif tetapi sebagai instrumen keselamatan.
"Istitha'ah kesehatan adalah fondasi utama. Kita ingin memastikan jemaah yang berangkat benar-benar siap secara fisik, terkontrol penyakit penyertanya, serta memahami risiko perjalanan ibadah," sambungnya.
Kemudian, pemerintah memperketat skrining kesehatan, pengawasan komorbid, serta edukasi kebugaran bagi calon jemaah. Pendekatan preventif ini bertujuan menekan angka jemaah risiko tinggi sebelum keberangkatan.
Melalui penguatan istitha'ah kesehatan, optimalisasi skema tanazul-murur serta kondisi lintas negara, pemerintah optimistis haji 1447 H akan berlangsung tertib, aman serta berorientasi pada keselamatan dan kenyamanan jemaah.
(aeb/kri)












































Komentar Terbanyak
Polling: Kemenhaj Wacanakan 'War Tiket' untuk Berangkat Haji, Kamu Setuju?
Eks Menag Kritik Rencana War Tiket Haji Kemenhaj
Diskusi Seru DPR dan Kemenhaj soal Strategi Pangkas Antrean Jemaah Haji