Hadits tentang Niat Lengkap dengan Sanad, Matan dan Rawi

Hadits tentang Niat Lengkap dengan Sanad, Matan dan Rawi

Aulia Retno Utami - detikHikmah
Kamis, 17 Sep 2026 15:30 WIB
Muslims prayer namaz in mosque sunlight from window
Ilustrasi hadits tentang niat. Foto: Getty Images/mgstudyo
Jakarta -

Islam menetapkan niat sebagai salah satu hal penting dan mendasar yang berkaitan dengan setiap amal perbuatan. Niat yang berada di dalam hati dapat menjadi pembeda dalam menentukan nilai suatu perbuatan di hadapan Allah SWT.

Bahkan, Rasulullah SAW melalui sabdanya menegaskan eratnya hubungan antara amal dan niat seseorang.

Hadits tentang Niat 'Innamal A'malu Binniyat'

Terdapat hadits utama yang dijadikan acuan dasar mengenai niat. Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi disebutkan hadits tentang niat bahwa segala amal perbuatan tergantung pada niat. Berikut bunyi haditsnya:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

. وَعَنْ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ أَبِي حَفْصِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بْنِ نُفَيْلِ بْنِ عَبْدِ العُزَّى بْنِ رِيَاحِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُرْطِ بْنِ رَزَاحٍ بْنِ عَدِي بْنِ كَعْبِ بْنِ لُوَيِّ بنِ غَالِبِ القُرَشِيِّ الْعَدَوِيِّ ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِيءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكَحُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. مُتَّفَقٌ عَلَى صِحْتِهِ. رَوَاهُ إِمَامَا الْمُحَدِّثِينَ، أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ بَرْدِزْية الْجُعْفِيُّ البُخَارِيُّ، وَأَبُو الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ بْنِ مُسْلِمِ الْقُشَيرِيُّ النَّيْسَابُورِيُّ هَا فِي صَحِيْحَيْهُمَا اللَّذَيْنِ هُمَا أَصَحُ الكُتُبِ الْمُصَنِّفَةِ .

Artinya: Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al-Khathab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adiy bin Ka'b bin Luay bin Ghalib Al-Quraisy Al-Adawy, dia mengatakan: Saya mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat. Setiap orang memperoleh apa yang dia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja yang hijrahnya karena dunia yang akan diperoleh atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya hanya memperoleh apa yang diniatkan." (HR Bukhari dan Muslim)

ADVERTISEMENT

Imam an-Nawawi mengatakan hadits tersebut disepakati keshahihannya, tercantum dalam kitab hadits yang paling shahih.

  • Sanad: Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar
  • Matan: Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat. Setiap orang memperoleh apa yang dia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja yang hijrahnya karena dunia yang akan diperoleh atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya hanya memperoleh apa yang diniatkan.
  • Rawi: Imam Bukhari dan Imam Muslim

Keterangan Hadits

Menurut Syarah Kumpulan Hadits Shahih Tentang Wanita karya Isham bin Muhammad As-Syarif, mayoritas ulama muta'akhirin berpendapat bahwa diterima atau ditolaknya suatu amal perbuatan sangat ditentukan oleh niatnya. Istilah amal perbuatan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah amalan-amalan syara' yang membutuhkan niat.
Ulama lain berpendapat amal perbuatan yang dimaksud bersifat umum, mencakup seluruh amal perbuatan tanpa pengecualian. Menurut mereka, semua perbuatan terjadi dengan sebab adanya niat.

Sementara itu, sabda Rasulullah SAW mengenai "setiap orang memperoleh apa yang dia niatkan" artinya seseorang hanya akan mendapatkan bagian dari amalnya sesuai niatnya. Jika berniat baik, maka mendapatkan kebaikan. Sebaliknya jika niatnya buruk, maka mendapat keburukan.

Niat Terletak di Dalam Hati

Niat merupakan keinginan atau tekad yang terletak di dalam hati untuk melakukan suatu perbuatan, terutama ibadah disertai rasa ikhlas semata-mata karena Allah SWT. Niat yang baik, bahkan sebelum terwujud dalam bentuk perbuatan baiknya tersebut, sudah dapat mendatangkan pahala. Seseorang yang berniat melakukan kebaikan, tetapi belum sempat melakukannya, tetap akan dicatat sebagai sebuah kebaikan.

Dalam Syarah Riyadhus Shalihin Imam an-Nawawi dijelaskan, niat letaknya di dalam hati--bukan pada lisan--yang diniatkan pada setiap amal perbuatan. Apabila seseorang sudah berniat dalam hati, maka niat tersebut sudah dianggap sah. Kendati demikian, sebagian berpendapat niat perlu dilafalkan dengan ucapan lisan atau suara.

Syarat Beramal Baik yang Diterima Allah

Seorang ulama salafussalih sekaligus guru Imam Syafi'i, Fudhail bin Iyad membagi dua syarat seseorang dapat dikatakan melakukan amalan baik dan amalnya diterima di sisi Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam buku Bahagia dengan Islam oleh Nova Irwan berikut ini.

1. Niat Ikhlas karena Allah SWT

Syarat ini berarti bahwa seseorang beramal baik berdasarkan kesadarannya untuk menjalankan perintah Allah SWT. Niat ini didasarkan untuk melakukan hal-hal yang diperintahkan, serta menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Niat ini dijalankan dengan perasaan ikhlas atau sikap tunduk pada keputusan dan ketetapan Allah SWT dalam menjalankan perintah maupun menjauhi larangannya.

2. Dilakukan Sesuai Seruan Allah SWT

Syarat agar amalan baik diterima oleh Allah SWT adalah dilakukan sesuai apa yang diserukan dan diperintahkan oleh Allah SWT. Apabila seseorang melakukan suatu amalan baik dengan niat ikhlas karena Allah SWT, maka harus diiringi dengan cara mengamalkan yang sesuai dengan syariat sah menurut ajaran Islam.

Wallahu a'lam.



(kri/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads