Bulan Syaban menjadi waktu yang tepat untuk persiapan menuju Ramadan. Salah satu amalan yang bisa dilakukan adalah memperbanyak dzikir.
Mengamalkan dzikir di bulan Syaban memiliki keistimewaan tersendiri, mengingat bulan ini adalah waktu diangkatnya amal manusia ke hadapan Allah SWT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas seperti apakah bacaan dzikir di bulan Syaban? Amalan lain apa saja yang dapat umat Muslim lakukan untuk menghidupkan bulan tersebut? Berikut penjelasannya.
Bacaan Dzikir Bulan Syaban
Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Periode 2020-2025 KH Miftahul Huda, dilansir MUI Digital, membagikan empat bacaan dzikir yang bisa diamalkan pada bulan Syaban. Berikut bacaannya:
Membaca Istighfar
أَسْتَغْفِرُ الله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullah wa atubu ilaih
Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepadanya."
Membaca Sholawat
Setelah membaca istighfar, dilanjut dengan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد
Shallallahu 'Ala Muhammad.
Artinya: "Semoga Allah Melimpahkan sholawat atas Muhammad."
Membaca Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir
Kemudian membaca kalimat tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, berikut bacaannya,
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar
Artinya: "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar."
Membaca Kalimat Tauhid
Terakhir, membaca kalimat tauhid,
لآإِلَهَ إِلاَّ الله
Artinya: "Tiada Tuhan Selain Allah."
Amalan Bulan Syaban
Selain memperbanyak dzikir, terdapat amalan lain yang dapat umat Islam lakukan di bulan Syaban, antara lain sebagai berikut:
1. Mengqadha Puasa yang Lalu
Syaban adalah batas akhir membayar utang puasa Ramadan. Merujuk pada buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan karya Abu Maryam Kautsar Amru, waktu untuk mengganti puasa adalah sepanjang tahun dan berakhir di bulan Syaban.
Dari Abu Salamah, aku mendengar Aisyah RA berkata, "Aku berutang puasa Ramadan dan aku tidak bisa mengqadhanya kecuali bulan Syaban." Yahya berkata, "Karena dia sibuk dengan (mengurusi) Rasulullah SAW atau sibuk karena senantiasa bersama (mengiringi kesibukan) Rasulullah SAW." (HR Bukhari)
2. Memperbanyak Puasa Sunnah
Rasulullah SAW sering berpuasa sunnah pada bulan Syaban. Bahkan, diriwayatkan bahwa beliau hampir berpuasa sebulan penuh. Hal ini dilakukan sebagai bentuk latihan fisik dan mental sebelum menjalani puasa wajib di bulan Ramadan.
Dari Aisyah RA, beliau mengatakan, "Rasulullah SAW biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah SAW berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak dari pada berpuasa di bulan Syaban." (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dijelaskan, Aisyah RA mengatakan, "Rasulullah SAW tidak berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Syaban. Rasulullah SAW biasa berpuasa pada bulan Syaban seluruhnya." (HR Bukhari)
Ada beberapa puasa sunnah yang dapat umat Islam lakukan pada bulan Syaban, seperti puasa Senin-Kamis dan Puasa Ayyamul Bidh.
3. Memperbanyak Membaca Al-Qur'an
Memperbanyak membaca Al-Qur'an sebagai bentuk latihan sebelum datangnya bulan Ramadan. Sebagian ulama salaf mengatakan, dari Anas bin Malik, beliau berkata, "Adapun kaum Muslimin ketika memasuki bulan Syaban, maka mereka menuju kepada mushaf-mushaf (Al-Qur'an) untuk membacanya. Mereka mengeluarkan zakat dari harta mereka, guna diberikan kepada orang yang miskin dan tidak mampu agar kuat berpuasa di bulan Ramadan."
Meski riwayat di atas memiliki sanad yang dhaif, tapi umat Islam masih dapat membaca Al-Qur'an pada bulan Syaban seperti pada bulan-bulan lainnya.
4. Membaca Doa
Dijelaskan dalam kitab terjemahan Kumpulan Doa dari Al-Qur'an dan Hadits karya Syaikh Sa'id bin Wahf al-Qathani, terdapat doa yang dapat umat Islam panjatkan ketika melihat hilal Ramadan di bulan Syaban, berikut bacaan doanya:
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلامِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ
Allahu akbar, allahumma ahlilhu 'alaina bil-amni wal-imāni, was-salamati wal-islami, wat-taufiqi lima tuhibbu rabbana wa tarda rabbuna wa rabbukallah.
Artinya: "Allah Maha Besar. Ya Allah! Tampakkan bulan tanggal satu itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau sukai dan ridhai. Tuhan kami dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah Allah." (HR Tirmidzi dan ad-Darimi)
Selain itu, pada pertengahan bulan Syaban tepatnya tanggal 15 Syaban, umat Islam dapat membaca doa Malam Nisfu Syaban, berikut bacaannya sebagaimana dinukil dari laman MUI:
اللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ. اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُوْمِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِيْ وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: "يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ" وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ
Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu 'alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in'ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma'manal khā'ifīn. Allāhumma in kunta katabtanī 'indaka fī ummil kitābi asyqiyā'a au mahrūmīna au muqattarīna 'alayya fir rizqi, famhullāhumma fī ummil kitābi syaqāwatī, wa hirmānī waqtitāra rizqī, waktubnī 'indaka su'adā'a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fī kitābikal munzali 'ala lisāni nabiyyikal mursali "Yamhullāhu mā yasyā'u wa yutsbitu wa 'indahū ummul kitāb." Wa shallallāhu 'alā sayyidinā Muhammadin wa 'alā ālihī wa shahbihī wa sallama, walhamdulillāḥi rabbil 'ālamīn.
Artinya: "Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufik untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitab-Mu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, 'Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.' Semoga Allah memberikan sholawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, beserta sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Arab Saudi Tidak Jadikan Isra Miraj Hari Libur Nasional, Ini Alasannya!
Ilmuwan Temukan Bukti Hajar Aswad Bukan Berasal dari Bumi
Kalender 2026: Jadwal Puasa Wajib dan Sunnah Sepanjang Tahun