Niat puasa Syaban dan qadha Ramadan merupakan aspek penting dalam pelaksanaan ibadah puasa, karena niat menjadi syarat sah yang membedakan antara puasa wajib dan puasa sunnah. Dalam fikih Islam, kejelasan niat memiliki kedudukan utama sebelum seseorang menjalankan ibadah.
Bulan Syaban dikenal sebagai waktu yang banyak dimanfaatkan oleh kaum Muslimin untuk mengganti puasa Ramadan yang tertinggal, sekaligus melaksanakan puasa sunnah.
Agar pelaksanaan puasa sesuai dengan tuntunan syariat, berikut bacaan niat puasa Syaban dan niat qadha Ramadan yang perlu dipahami.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Niat Puasa Syaban
Dikutip dalam buku Praktis Ibadah oleh Irwan, Ahmad Jafar dan Husain, berikut niat puasa Syaban:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adā'i sunnati Sya'bāna lillāhi ta'ālā.
Artinya: "Aku berniat puasa sunah Syaban besok hari karena Allah SWT"
Niat Puasa Qadha Ramadan
Masih merujuk pada sumber yang sama, pelaksanaan puasa qadha Ramadan harus diawali dengan niat. Niat tersebut wajib dibaca sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar, sebagaimana ketentuan dalam puasa wajib. Niat puasa qadha dilakukan sebagai bentuk kesungguhan untuk mengganti puasa Ramadan yang sebelumnya ditinggalkan.
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرٍ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta'ālā.
Artinya: Saya berniat mengganti (mengqadha) puasa bulan Ramadan karena Allah Ta'ala.
Bolehkah Qadha Ramadan di Bulan Syaban?
Dikutip dalam Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), mengganti puasa Ramadan yang terlewat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Hal ini juga ditegaskan oleh Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 184:
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗوَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Latin: Ayyāmam ma'dūdāt(in), faman kāna minkum marīḍan au 'alā safarin fa 'iddatum min ayyāmin ukhar(a), wa 'alal-lażīna yuṭīqūnahū fidyatun ṭa'āmu miskīn(in), faman taṭawwa'a khairan fahuwa khairul lah(ū), wa an taṣūmū khairul lakum in kuntum ta'lamūn(a).
Artinya: (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan orang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan) itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah: 184)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa puasa yang tidak dikerjakan pada bulan Ramadan harus diganti di waktu lain. Artinya, kewajiban puasa tetap melekat dan tidak gugur meskipun pelaksanaannya ditunda.
Bulan Syaban menjadi salah satu waktu yang tepat untuk melaksanakan qadha puasa Ramadan. Sebagaimana hadits dari Aisyah RA yang menyebutkan: "Aku memiliki hutang puasa Ramadan, maka aku tidak dapat menggantinya kecuali di bulan Syaban." (HR. Bukhari & Muslim)
Dari hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa melaksanakan qadha puasa Ramadan di bulan Syaban diperbolehkan dan memiliki dasar. Selain menyelesaikan kewajiban puasa yang tertinggal, pelaksanaannya di bulan Syaban membantu memastikan kewajiban tersebut tertunaikan sebelum datangnya Ramadan berikutnya.
Terkait penggabungan niat puasa, dalam buku Kumpulan Tanya Jawab Islam: Hasil Bahtsul Masail dan Tanya Jawab Agama Islam terbitan PISS-KTB dijelaskan bahwa penggabungan niat antara puasa qadha dan puasa sunnah pada dasarnya diperbolehkan. Pendapat ini dinukil dari Imam al-Kurdi yang menyatakan bahwa seseorang tetap memperoleh pahala puasa sunnah meskipun hanya meniatkan salah satunya.
Imam al-Barizi dalam sumber yang sama juga menegaskan bahwa puasa sunnah yang memiliki keutamaan waktu tertentu tetap bernilai pahala meskipun digabung dengan niat puasa lain, selama dilaksanakan pada waktu yang memiliki keutamaan tersebut.
Dengan demikian, penggabungan niat qadha puasa Ramadan dengan puasa sunnah pada waktu-waktu tertentu dinilai sah dan tetap bernilai pahala menurut sebagian besar ulama.
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Kecam Israel Atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, MUI Minta RI Ambil Langkah Diplomatik
Dubes Saudi: Serangan Iran ke Negara Teluk Berdampak pada Solidaritas Umat Islam
Mengenang Thessaloniki, Kota Muslim di Yunani yang Hilang