Dzikir termasuk bagian dari ibadah yang memiliki dasar dalam Al-Qur'an dan hadits. Setelah menunaikan sholat fardhu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dzikir sebagai bentuk syukur dan ketaatan kepada Allah SWT.
Dzikir setelah sholat Maghrib juga disebutkan dalam berbagai kitab hadits dan fikih sebagai amalan yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat. Waktu setelah sholat merupakan saat yang utama karena hati masih dalam keadaan khusyuk setelah bermunajat.
Dzikir merupakan salah satu perbuatan sejalan dengan firman Allah SWT dalam surah al-Ahzab ayat 41:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ
Latin: Yā ayyuhal-lażīna āmanużkurullāha żikran kaṡīrā(n).
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya (Al-Aḥzāb: 41)
Menurut Tafsir Kemenag, ayat ini berisi perintah Allah SWT kepada seluruh orang beriman agar senantiasa mengingat-Nya dengan dzikir yang banyak. Dzikir tersebut dapat dilakukan melalui hati dan lisan, kapan pun dan di mana pun, sehingga seorang mukmin selalu merasa berada dalam pengawasan dan kehadiran Allah SWT.
Perintah memperbanyak dzikir ini bertujuan untuk mengokohkan keimanan serta melindungi kaum mukmin dari pengaruh negatif cercaan dan tuduhan pihak-pihak yang memusuhi Rasulullah SAW. Dengan dzikir yang terus-menerus, seorang mukmin dapat mensucikan Allah dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya, mensyukuri nikmat yang tidak terhitung jumlahnya, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.
Bacaan Dzikir setelah Sholat Maghrib
Dikutip dari buku Hafalan Luar Kepala Bacaan Shalat: Dzikir dan Doa Pilihan, serta Juz 'Amma oleh Abdul Kanzul Makhfi, berikut ini lafadz dzikir yang dianjurkan setelah sholat maghrib:
Bacaan Dzikir yang Pertama
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ , اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلامُ وَمِنْكَ السَّلامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلالِ وَالْإِكْرَامِ
Latin: Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah, Allahumma antas salaam wa minkas salaam, tabaarakta dzal jalaali wal ikraam
Artinya: Aku meminta ampun kepada Allah (3x). Ya Allah, Engkau Pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Pemilik keagungan dan kemuliaan."
Bacaan Dzikir yang Kedua
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.
Laa Ilaaha Illallaahu Wahdahuu Laa Syariikalah, Lahul Mulku Wa Lahul Hamdu Wahuwa 'alaa Kulli Syai-in Qadiir. Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Laa Ilaaha Illallaahu Wa Laa Nabudu Illaa Iyyaah Lahun Ni'matu Wa Lahul Fadhlu Wa Lahuts Tsanaa-ul Hasan. Laa Ilaaha Illallaahu Mukhlishiina Lahud Diina Walau Karihal Kaafiruun. Allaahumma Laa Maani'a Lima A'thaita, Wa Laa Mu'thiya Limaa Mana'ta, Wa Laa Yanfa'u Dzal Jaddi Minkal Jaddu.
"Tidak ada Tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan, kepunyaan-Nya pula segala pujian, serta Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan, kecuali dengan izin Allah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah. Kami tidak menyembah, kecuali kepada-Nya. Milik-Nya segala nikmat, milik-Nya segala keutamaan, dan milik-Nya segala sanjungan yang baik. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah dengan meng-ikhlaskan agama (ketundukan) untuk-Nya, walaupun orang orang kafir benci. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi sesuatu yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi sesuatu yang Engkau halangi, serta tidak bermanfaat bagi orang yang memiliki kekayaan (dari siksaan-Mu) atas kekayaannya."
Membaca tasbih, tahmid dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali:
سبحان الله
Subhanallah
Artinya: "Maha Suci Allah"
الحمد لل الله
Alhamdulillah
Artinya: "Segala puji bagi Allah"
الله أكبر
Allahu Akbar
Artinya: "Allah Maha Besar"
Keutamaan membaca tasbih, tahmid, dan takbir setelah sholat sebagai dzikir selaras dengan hadits berikut:
مَنْ سَبَّحَ الله في دبر كُلِّ صَلَاةٍ ثَلاثًا وَثَلاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ قَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ حَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
"Siapa yang bertasbih kepada Allah (Subhaanallaah) setiap kali selesai shalat sebanyak 33 kali, memuji Allah (Alhamdulillaah) 33 kali, takbiir kepada Allah (Allaahu akbar) 33 kali maka semuanya berjumlah 99 kali kemudian disempurnakan menjadi 100 dengan mengucapkan: 'Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir', maka di-ampuni dosa-dosanya meskipun dosanya sebanyak buih di lautan." (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)
Selanjutnya membaca:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Latin: Laa ilaaha illallaahu waḥdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu wa huwa 'alaa kulli syai-in qadiir.
Artinya: ""Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu."
Kemudian membaca ayat kursi:
اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Latin: Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa'u 'indahū illā bi`iżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min 'ilmihī illā bimā syā`, wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-'aliyyul-'aẓīm
Artinya: "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."
Dilanjutkan dengan membaca surah Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas masing-masing dibaca sebanyak tiga kali :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Latin: "Bismillaahirrahmaanirrahiim" qul huwallāhu aḥad allāhuṣ-ṣamad lam yalid wa lam yụlad wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Latin: "Bismillaahirrahmaanirrahiim" qul a'ụżu birabbil-falaq min syarri mā khalaq wa min syarri gāsiqin iżā waqab wa min syarrin-naffāṡāti fil-'uqad wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ
Latin: "Bismillaahirrahmaanirrahiim" qul a'ụżu birabbin-nās malikin-nās ilāhin-nās min syarril-waswāsil-khannās allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās minal-jinnati wan-nās
Selain itu, anjuran Nabi Muhammad SAW yaitu untuk membaca dzikir ini sebanyak 10 kali:
Dari 'Umaroh bin Syabib As-Saba-iy, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang mengucapkan:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Latin: Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu yuḥyī wa yumīt, wa huwa 'alā kulli syai'in qadīr.
Artinya: "Tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu baginya. Hanya milik-Nya segala kerajaan. Hanya milik-Nya segala pujian. Dia yang menghidupkan dan Dia yang mematikan. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." 10 kali setelah shalat maghrib, maka Allah akan mengutus para malaikat bersenjata untuk menjaganya dari setan sampai pagi hari. Allah akan menuliskan baginya dengan ucapan tadi 10 kebaikan, menghapuskan darinya 10 kejelekan yang membinasakan, dan (pahala) ucapan tadi setara dengan membebaskan 10 budak yang beriman.
Kemudian dilanjutkan bacaan:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ , اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلامُ وَمِنْكَ السَّلامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلالِ وَالْإِكْرَامِ
Latin: Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah, Allahumma antas salaam wa minkas salaam, tabaarakta dzal jalaali wal ikraam
Keutamaan Dzikir setelah Sholat Maghrib
Dzikir yang diamalkan setelah sholat Maghrib memiliki keutamaan besar dalam ajaran Islam. Dikutip dari buku Fikih Ibadah dari Al-Lu'lu' wa Al-Marjan Jilid 2 karya Wafi Marzuqi Ammar, amalan dzikir menjadi sarana untuk menenteramkan hati, melipatgandakan pahala, serta menjaga seorang muslim dari kelalaian di waktu petang hingga malam hari.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
(( لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ أَرْبَعَةٌ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ أَرْبَعَةً))
"Jikalau saya duduk bersama kaum yang mengingat Allah mulai shalat subuh hingga terbit matahari, lebih saya sukai daripada memerdekakan empat orang dari anak Ismail. Dan jika saya duduk bersama kaum yang mengingat Allah mulai shalat ashar hingga terbenam matahari, lebih saya sukai daripada memerdekakan empat keturunan Ismail." (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan)
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Pengiriman 8.000 TNI ke Gaza Dinilai Berisiko, MUI Sampaikan Hal Ini
Hukum Mengambil Barang Temuan di Jalan yang Tidak Diketahui Pemiliknya
5 Ciri Kurma Israel yang Diboikot beserta Daftar Merknya, Hindari Saat Ramadan