Khutbah Jumat Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar yang Penuh Hikmah

Langkah Emas Raih Kemenangan

Khutbah Jumat Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar yang Penuh Hikmah

Tia Kamilla - detikHikmah
Kamis, 05 Mar 2026 17:15 WIB
Khutbah Jumat Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar yang Penuh Hikmah
Ilustrasi Khutbah Jumat Foto: Raka Dwi Wicaksana/Unsplash
Jakarta -

Khutbah Jumat Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar yang penuh makna bisa menjadi sarana untuk mengenang turunnya Al-Qur'an. Peristiwa penting ini mengingatkan umat Islam tentang awal wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT.

Peristiwa terjadinya Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar dijelaskan dalam Al-Quran surah Al-Qadr ayat 1-5,

1.اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arab latin: Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr(i).
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatulqadar."

2. وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ

ADVERTISEMENT

Arab latin: Wa mā adrāka mā lailatul-qadr(i).
Artinya: "Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu?"

3. لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

Arab latin: Lailatul-qadri khairum min alfi syahr(in).
Artinya: "Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan."

4. تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ

Arab latin: Tanazzalul-malā'ikatu war rūḥu fīhā bi'iżni rabbihim min kulli amr(in).
Artinya: "Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan."

5. سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Arab latin: Salāmun hiya ḥattā maṭla'il-fajr(i).
Artinya: "Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar."

Berikut adalah beberapa naskah khutbah Jumat Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar mengutip situs Kemenag RI, buku Khutbah Jumat: Tema-tema Kontemporer karya Najamuddin Petta Solong, Mujahid Damopolii, dan Usman Tahir, serta laman Nahdlatul Ulama (NU) Banten.

Kumpulan Khutbah Jumat Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar

1. Khutbah Jumat Tentang Nuzulul Qur'an

Hadirin jemaah salat Jumat yang berbahagia,

Sebagai pembuka, khatib ingin mengingatkan kita semua untuk senantiasa meningkatkan takwa dengan mematuhi segala perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, seraya meneladani Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai penyampai risalah dan teladan sempurna, agar kita kelak dipertemukan dalam kebahagiaan abadi di jannah-Nya.

Jemaah yang dimuliakan Allah,

Al-Qur'an turun di tengah komunitas bangsa yang tidak cukup akrab dengan aktivitas baca dan tulis serta terkenal dengan kerusakan moralnya. Istilah "jahiliah" disematkan kepada bangsa Arab pra-Qur'an sebagai simbol atas peradabannya yang masih jauh dari idealitas sebuah bangsa yang bisa disebut sebagai bangsa yang memiliki peradaban yang maju.

Akan tetapi, turunnya Al-Qur'an dan bersamaan dengan amanah kenabian kepada Nabi Muhammad SAW selama dua dekade lebih telah memberikan dampak yang signifikan bagi kemajuan bangsa Arab. Bahkan, peradaban di era hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah dijadikan sebagai teladan peradaban yang ideal dan masih terus dikaji hingga saat ini. Peradaban itu, saat ini, lebih dikenal dengan nama "masyarakat Madani". Model peradaban yang kemudian membawa Islam menuju puncak kejayaannya di abad pertengahan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa Al-Qur'an bisa menjadi sumber inspirasi bagi transformasi masyarakat Arab dari "jahiliah" (bobrok) menuju "tamaddun" (berkemajuan)?

Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Al-Qur'an secara bahasa berarti "bacaan atau membaca", dan ayat pertama yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW berisi seruan membaca. QS Al-'Alaq: 1-5 diyakini oleh mayoritas ulama sebagai gugusan ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada baginda Nabi Muhammad melalui Jibril. Turunnya kelima ayat ini tidak hanya menandai dimulainya era kenabian (nubuwwah) Muhammad SAW, namun juga membawa pesan fundamental tentang urgensi membaca sebagai instrumen paling penting dalam proses pembelajaran manusia.

Allah SWT berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقَ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمُ.

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."

Membaca sebagai instrumen utama dalam proses belajar merupakan tonggak utama untuk memahami substansi Al-Qur'an yang juga turun dengan visi-visi ideal kehidupan. Al-Qur'an membawa seperangkat aturan syariat yang memuat prinsip etis dari konstitusi agama yang ditujukan untuk memberikan kemaslahatan bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Jemaah rahimakumullah,

Tujuan-tujuan substansial dari syariat ini kemudian dikenal dengan istilah maqāshid as-syarīah yang masyhur terdiri dari lima komponen utama yaitu hifzh ad-dīn (pemeliharaan agama), hifzh an-nafs (pemeliharaan jiwa), hifzh al-'aql (pemeliharaan akal), hifzh an-nasl (pemeliharaan keturunan) dan hifzh al-māl (pemeliharaan harta).

Hadirin yang mulia,

Terkait dengan pemeliharaan akal, syariat Al-Qur'an memberikan panduan untuk menjaganya dari kerusakan sebab peran akal begitu sentral dalam aktivitas membaca dan belajar. Ayat-ayat yang berbicara tentang larangan mengonsumsi khamr (minuman keras) seperti yang termaktub dalam QS Al-Maidah [5]: 91 yang memberikan penekanan bahwa konsumsi khamr merupakan bagian tindakan tercela yang sekaligus mengamini keinginan setan agar manusia saling bermusuhan dengan sesamanya serta menjauhkannya dari mengingat Tuhan dan beribadah. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَنُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلُوةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ.

"Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui minuman keras dan judi serta (bermaksud) menghalangi kamu dari mengingat Allah dan (melaksanakan) salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?" (QS Al-Maidah [5]: 91).

Kemudian, syariat Al-Qur'an juga menginginkan agar manusia mampu memelihara keturunannya dengan menitikberatkan pada upaya untuk menjaga otentisitasnya. Maka dari itu Al-Qur'an sangat mengecam zina, sebab menjadi sumber dari rusaknya harkat martabat manusia yang diakibatkan oleh ketidakjelasan nasab. Pada QS Al-Isra' [17]: 32, Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّبَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا.

"Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk."

Selanjutnya, syariat Al-Qur'an juga menginginkan agar manusia mampu memelihara hartanya dengan baik melalui aturan hukum tentang tindakan pencurian harta, maupun melalui panduan mendapatkan harta yang baik. Sebagaimana pada QS. An-Nisa' [4]: 29 yang menyamakan orang yang memperoleh harta melalui jalan yang tidak baik, sama halnya telah membunuh dirinya sendiri. Allah SWT berfirman:

يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا.

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar), kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu. Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu."

Jemaah Jumat hafizhakumullah,

Berdasarkan ulasan terhadap maqāshid as-syarīah yang dikandung oleh Al-Qur'an, sejatinya ada pesan terdalam yang bisa diambil selain dari pesan-pesan pemeliharaan yang telah disampaikan. Melalui hifzh ad-dīn (pemeliharaan agama), Al-Qur'an ingin membawa peradaban yang berlandaskan perdamaian dan harmonisasi sosial antarumat beragama, sehingga satu sama lain dapat saling bekerja sama tanpa mendiskriminasi satu sama lain. Dengan hifzh an-nafs (pemeliharaan jiwa), Al-Qur'an ingin membangun peradaban yang menjunjung kemanusiaan, peradaban yang memanusiakan manusia.

Kemudian, melalui hifzh al-'aql (pemeliharaan akal), Al-Qur'an ingin agar manusia dapat memaksimalkan anugerah akal yang telah diberikan kepadanya sebagai instrumen yang sangat penting bagi upaya untuk menginisiasi kemajuan peradaban. Sebab tidak ada peradaban maju yang lahir tanpa optimalisasi fungsi akal. Dengan hifzh an-nasl (pemeliharaan keturunan), Al-Qur'an ingin manusia mengonstruksi peradaban yang tidak hanya maju jika dilihat dari sisi kognitifnya tapi juga moralitasnya. Dan terakhir, via hifzh almāl (pemeliharaan harta), Al-Qur'an ingin manusia melahirkan peradaban yang memperhatikan laku etisnya dalam pengelolaan harta sebagai elemen krusial dalam kemajuan sebuah peradaban. Karena tidak ada peradaban yang maju tanpa disokong oleh kesejahteraan masyarakatnya.

Segenap visi peradaban ideal yang dibawa oleh Al-Qur'an itu tidak akan bisa dipahami tanpa aktivitas membaca sebagai aktualisasi proses belajar. Maka pada hakikatnya, hikmah turunnya Al-Qur'an bagi kemajuan peradaban ialah membawa umat Islam untuk senantiasa menjadi "manusia pembelajar". Manusia yang terus berproses memahami dan menghayati Islam dalam setiap syariatnya serta mampu menerapkannya dalam kehidupan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

Khutbah II

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ المِحْبُوبُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَالتَّقْوَى هِيَ وَصِيَّةُ رَبِّ العَالَمِينَ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ مِنْ خَلْقِهِ، فَقَدْ قَالَ فِي كِتَابِهِ العَزِيزِ : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } وَأَمَرَ المُسْلِمِينَ وَالمُؤْمِنِينَ بِالصَّلَاةِ عَلَى رَسُولِ اللهِ كَمَا قَالَ فِي الْقُرْآنِ: {إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا } اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ والمؤمنين والمؤمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ يَسِّرْ لَنَا أُمُورَنَا وَحَصَلَ مَقَاصِدَنَا وَأَحْسِنُ مَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَر .

2. Khutbah Jumat Tentang Memaknai Nuzulul Qur'an

اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْاِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْعَظِيْمِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كُنِّيَ بِأَبِي الْقَاسِمِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Jamaah Jumat rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dengan berusaha menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Dengan harapan kita memperoleh ketenangan, kebahagiaan, kemuliaan, dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat.

Hadirin yang berbahagia

Alhamdulillah hingga paruh ke-2 Ramadhan ini kita masih diberi kesempatan dan kekuatan untuk menunaikan ibadah puasa di siang hari dan Shalat Tarawih di malam harinya, semata-mata karena Imanan wa Ihtisaban. Yakni penuh keyakinan, semata karena Allah, dan penuh pengharapan akan ridha-Nya. Hingga kita pun melakukan aktivitas, amaliah sehari-hari, dalam bingkai iman dan takwa.

Tidak ada sesuatu yang sia-sia, juga tak ada waktu yang terbuang percuma. Semuanya diisi dengan amal saleh, prestasi kebajikan. Dan itulah wujud atau aplikasi dari tanda kita memahami dan menghayati Al-Qur'an sebagai pedoman hidup kita dan pengamalan kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Al-Quran hendaknya menjadi sumber motivasi dan pengawal kita dalam melangkah mengarungi kehidupan yang fana ini.

Allah pun menyebut di dalam ayat kaitan antara bulan Ramadhan dengan Al-Quran,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)" (QS Al-Baqarah: 185)

Karenanya, memaknai Nuzulul Quran pada bulan Ramadhan penuh berkah ini adalah dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, sumber informasi dan motivasi, obat penguat jiwa, penyebar kasih sayang serta bacaan kegemaran sehari-hari. Seperti Allah menyebut di dalam ayat,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا

"Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang Mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian." (QS Al-Isra: 82)

Sidang Jumat yang dirahmati Allah

Makna lainnya dari Nuzulul Qur'an adalah menjadikan kandungannya sebagai pedoman kehidupan, yang mampu mengangkat manusia dari kegelapan, kebodohan, keterbelakangan, dan kemunduran.

Allah menyatakan di dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِيْ يُنَزِّلُ عَلٰى عَبْدِهٖٓ اٰيٰتٍ ۢ بَيِّنٰتٍ لِّيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَاِنَّ اللّٰهَ بِكُمْ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

"Dialah yang menurunkan ayat-ayat yang terang (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya (Nabi Muhammad) untuk mengeluarkanmu dari kegelapan kepada cahaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang kepadamu.'' (QS Al-Hadiid: 9)

Imam Al-Qurthubi memaknai, sebagai mengeluarkan dari dzulumat yaitu kesyirikan dan kekafiran kepada iman kepada Allah. Dalam hal kebodohan, misalnya terjadinya kerusakan alam, bencana sosial, kebobrokan moral, kriminalitas, budaya bebas tanpa batas, itu akibat jauh dari Al-Qur'an, akibat nilai-nilai petunjuk Al-Qur'an tidak diterapkan dalam kehidupan nyata.

Karenanya, dengan pesan Nuzulul Qur'an, marilah kita mentadarusi dan mentadaburinya, sehingga akan senantiasa terhubung dengan Allah. Dan dengan mukjizat Al-Qur'an, akan mampu memberikan spirit, inspirasi, dan motivasi dalam kehidupan. Dan semoga Al-Qur'an menjadi rahmat bagi manusia dan alam. Amin.

بَارَكَ اللَّهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَاِيَّاكُمْ تِلاَ وَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلى اٰلِه وَصَحْبِه اَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِه وَصَحْبِه وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ .مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ أُوْ صِيْكُمْ وَ اِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ,إتقوا الله حق تقاته. اَمَّا بَعْدُ قاَلَ اللهُ تَعَالى :اَعُوذُ بِا للهِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ بِسمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ.وَقَالَ أَيْضًا: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوْا كُتِبَ عَلَيكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُم لَعَلَّكُم تَتَّقُونَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلى اٰلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَاصَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ,وَبَارِكْ عَلى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلى اٰلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَابَارَكْتَ عَلى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى اٰلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. إِنَّ ٱللهَ وَمَلَٰآئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا .أَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْاَمْوَاتِ. إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَاضِيَ الْحَاجَاتِ.رَبِّ اغْفِرْوَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ. رَبَنَّا اغْفِرْلَنَاوَلِوَالِدِيْنَاوَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانَاصِغَارًا. رَبَنَّااغْفِرْلَنَاوَإِخْوَانِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَاتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَاغِلًّا لِلَّذِيْنَ أٰمَنُوْارَبَّنَآإِنَّكَ رَئُوْفُ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أزْوَاجِنَاوَذُرِّيَّاتَنَاقُرَّةَأَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٌ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٌ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّايَصِفُوْنَ وَسلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبى وَيَنْهى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

3. Khutbah Jumat Tentang Meraih Lailatul Qadar

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ أَمَّا بَعْدُ،
عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Ma'asyiral muslimīn a'azzakumullāh.

Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.

Jamah yang dimuliakan Allah.

Betapa banyak anjuran amal ibadah yang dianjurkan untuk umat Muslim selama Ramadhan. Dari mulai amalan-amalan sunnah saat bulan puasa dan sahur, bertadarus Al-Qur'an, melaksanakan shalat tarawih, dan lain sebagainya. Salah satu anjuran utama yang terdapat pada bulan agung ini adalah meraih malam Lailatul Qadar. Allah SWT dalam Al-Qur'an secara tegas menyampaikan bahwa momen sakral Lailatul Qadar,

إِنَّا أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مّنْ أَلْفِ شَهْرٍ * تَنَزَّلُ الْمَلَئِكَةُ وَالْرُّوحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِهِّمْ مِّنْ كُلِّ أَمْرٍ * سَلَامٌ هِىَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ.

Artinya, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar." (QS Al-Qadar [97]: 1-5)

Berkaitan dengan ini, Imam Malik dalam al-Muwattha meriwayatkan satu hadits,

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللهُ مِنْ ذَلِكَ فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ أَنْ لَا يَبْلُغُوْا مِنَ الْعَمَلِ مِثْلَ الَّذِيْ بَلَغَ غَيْرُهُمْ فَيْ طُوْلِ الْعُمْرِ، فَأَعْطَاهُ اللهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ.

Artinya, "Sesungguhnya Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya (yang relatif panjang) sesuai dengan kehendak Allah, sampai (akhirnya) usia-usia umatnya semakin pendek (sehingga) mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat sebelum mereka karena panjangnya usia mereka, maka Allah memberikan Rasulullah Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan". (Imam Malik, al-Muwattha: juz I, h. 321)


Hanya saja, kepastian kapan malam agung ini terjadi belum ada yang bisa memprediksi, apakah di awal Ramadhan, pertengahannya, atau di penghujung bulan. Jika kita umpamakan, malam Lailatul Qadar bagaikan permata sangat indah yang tersimpan di tempat sangat tersembunyi. Semua orang menginginkannya, tetapi hanya bisa memprediksi keberadaannya. Dalam satu hadits terkait malam Lailatul Qadar, Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ وَلاَ يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلَّا مَحْرُومٌ.

Artinya, "Sesungguhnya bulan ini (Ramadhan) telah datang kepada kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalangi dari (meraih)nya, sungguh ia telah terhalangi dari semua kebaikan. Dan tidak ada yang terhalangi (darinya), kecuali orang yang memang terhalangi dari kebaikan." (HR Ibnu Majah)

Ma'asyiral muslimīn a'azzakumullāh.

Meskipun kedatangan malam Lailatul Qadar dirahasiakan, akan tetapi para ulama berusaha (berijtihad) untuk memprediksi kapan malam mulia tersebut jatuh. Kita bisa mengacu pada pendapat-pendapat yang mereka kemukakan, kendati pada akhirnya kita juga berkesimpulan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar tetap menjadi misteri karena tidak bisa diprediksi ketepatannya seratus persen.

Jika kita himpun, ada banyak sekali ragam prediksi para ulama tentang jatuhnya malam Lailatul Qadar. Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani sendiri menjelaskan setidaknya ada 45 pendapat terkait waktu terjadinya malam mulia tersebut. Hanya saja, dari sekian pendapat yang ada ia berkesimpulan bahwa argumen yang paling kuat adalah yang mengatakan terjadi pada tanggal-tanggal ganjil di bulan Ramadhan.

Sementara Imam Syafi'i lebih spesifik lagi berpendapat bahwa tanggal 21 dan 23 Ramadhan lebih potensial terjadi malam Lailatul Qadar. Sedangkan mayoritas ulama termasuk Syekh Nidzamuddin an-Naisaburi berpendapat pada 27 Ramadhan. (Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fatḥul Bārī: juz V, h. 463)

Menurut Imam Fakruddin ar-Razi, hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar adalah supaya umat muslim bersungguh-sungguh melakukan ibadah selama satu bulan Ramadhan penuh untuk meraih malam istimewa tersebut. Jangan sampai kita lengah satu hari saja. Tentu kita tidak menginginkan malam Lailatul Qadar jatuh saat kebetulan kita sedang malas beribadah. (Fakhruddin ar-Razi, Mafātīḥul Ghaib, 1981: juz XXXII, h. 28)

Senada dengan ar-Razi, Syekh Nidzamuddin an-Nasibasuri dalam tafsirnya Gharāibul Qur'ān wa Raghāibul Furqān menyampaikan,

الْحِكْمَةُ فِي إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فِي الَّليَالِي كَالْحِكْمَةِ فِي إِخْفَاءِ وَقْتِ الوَفَاةِ وَيَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَرْغَبَ الْمُكَلَّفُ فِي الطَّاعَاتِ وَيَزِيْدَ فِي الاِجْتِهَادِ وَلَا يَتَغَافَلَ وَلَا يَتَكَاسَلَ وَلَا يَتَّكَلَ.

Artinya, "Hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar di antara malam-malam bulan Ramadhan adalah seperti dirahasiakannya kematian dan hari kiamat. Sehingga manusia dengan penuh suka cita menjalankan ibadah, lebih bersungguh-sungguh, tidak lalai, tidak bermalas-malasan, dan tidak lesu." (Nidzamuddin an-Naisaburi, Gharāibul Qur'ān wa Raghāibul Furqān, 2015: juz VI, h. 537)

Ma'asyiral muslimīn a'azzakumullāh.

Kendati malam Lailatul Qadar tidak bisa kita pastikan kapan terjadinya, selain mengikuti prediksi para ulama, kita juga bisa memprediksi kedatangannya dengan mengamati kondisi alam yang terjadi. Berikut adalah beberapa ciri-ciri malam Lailatul Qadar dilihat dari gejala alam berdasarkan beberapa hadits Nabi.

Pada pagi harinya sinar matahari tidak terlalu panas dan cuaca terasa sejuk. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim.

Malam harinya langit terlihat bersih, tidak terdapat awan, suasana terasa tenang dan sunyi, udara juga tidak dingin tidak pula panas.

Dalam hadits lain Rasulullah juga bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاءُ

Artinya, "Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan tampak kemerah-merahan." (HR Ath-Thayalisi dan Al Baihaqi)

Hanya saja, prediksi berdasarkan gejala alam tersebut tidak bisa dijadikan acuan untuk bisa meraih malam Lailatul Qadar. Ibnu Hajar al-'Atsqalani sendiri menegaskan bahwa ciri-ciri gejala alam tersebut akan tampak setelah malam Lailatul Qadar-nya, bukan sebelum atau saat sedang terjadi sehingga kita bisa mempersiapkan diri sebelum tepat kedatangannya. (Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fatḥul Bārī: juz IV, h. 260).

Pada akhirnya kita berkesimpulan bahwa malam Lailatul Qadar tidak bisa diprediksi kapan tepatnya. Kita hanya bisa berusaha dan berikhtiar dengan memperbanyak ibadah selama satu bulan Ramadhan dengan harapan bisa meraih malam istimewa ini.

Ma'asyiral muslimīn a'azzakumullāh.

Demikianlah khutbah singkat yang bisa khatib sampaikan. Semoga Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya kita diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk meraih malam yang lebih utama dari seribu bulan ini. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

4. Khutbah Jumat Kemuliaan Malam Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar

السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللهُمَّ صَلَّ وَ سَلَّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَنزَلْنَهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا آذربك ما ليلة القدر ليلة القدرة خير من الفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَليكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَمٌ هِيَ حَتَّى مطلع الفجر

Kaum Muslimin Jamaah salat Jumat yang mulia.

Alhamdulillah, Allah masih berikan kesempatan kepada kita untuk bermunajat kepada-Nya di hari mulia ini, bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan oleh Allah. Shalawat serta salam semoga senantiasa dicurahkan kepada junjungan alam, Nabi Muhammad Saw.

Mari tingkatkan terus takwa kita kepada Allah dengan cara menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sungguh, takwalah yang akan menentukan derajat manusia di sisi-Nya.

Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadan ini, umat Islam merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah merubah arah sejarah umat manusia. Mungkin juga kita termasuk yang turut serta merayakan dan memperingati kejadian itu. Sejarah apakah di maksud? Kejadian sejarah itu adalah Nuzul Qur'an; diturunkannya al-Qur'an secara utuh dari Lauhul Mahfud di langit ketujuh, ke Baitul Izzah di langit dunia.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadan, bulan yang di padanya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS Al Baqarah: 185).

Mari saya mengajak diri saya sendiri terlebih dahulu dan umat Islam lainnya untuk senantiasa membaca dan mempelajari Al-Qur'an. Membaca dan mempelajari Al-Qur'an harus dijadikan tradisi oleh masing-masing keluarga Islam di muka bumi ini, kalau gerakan ini berlanjut, maka bukan tidak mungkin dunia nanti akan dipenuhi nilai-nilai Quran dan saat itulah peradaban baru dunia itu muncul, yaitu peradaban yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur'an.

Mengapa kita harus membudayakan membaca dan mempelajari Al-Qur'an? Karena selaku umat Islam kita yakin bahwa Al-Qur'an merupakan pedoman hidup yang kompleks dan memuat sejumlah kebutuhan manusia, baik materiil maupun spiritual. Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad memang diperuntukkan kepada manusia agar dia mendapat rahmat dan kegembiraan dari Allah SWT.

Membicarakan tentang Nuzulul Quran, maka pasti tidak akan lepas pula membicarakan soal Lailatul Qadar dan Bulan Ramadan. Karena memang antara ketiga hal tersebut terdapat hubungan yang saling kait mengait. Allah Swt berfirman dalam Surat Al-Qadr ayat 1,

إِنَّا أَنْزَلْتُهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur'an) pada malam Qadar (Lailatul Qadar)".

Dari surat Al Qadr ayat pertama tersebut telah jelaslah bahwa Al-Qur'an diturunkan pada malam lailatul qadar yang penuh berkah. Sudah barang tentu kita harus melaksanakan berbagai amalan yang dilakukan di malam nuzulul Qur'an untuk mendapatkan berkah. Selain itu malam lailatul qadar yang merupakan malam turunnya Al-Qur'an ini juga memiliki berbagai keutamaan.

Jamaah salat Jumat rohimakumullah

Dalam Surat Ad Dukhan ayat 3 disebutkan pula,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi (malam permulaan Al-Qur'an pertama kali diturunkan)".

Mengenai persoalan bahwasanya Al-Qur'an untuk pertama kali diturunkan dari Lauhul Mahfudz sampai ke Baitil Izzah (Langit Dunia) yaitu pada Malam Qadar di bulan suci Ramadan, para ulama mayoritas telah bermufakat semuanya. Dimana dari Baitil Izzah ini Malaikat Jibril kemudian mengantarkannya kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap selama kurun waktu sekitar 23 tahunan.

Akan tetapi ketika dirinci lebih lanjut pada tanggal berapa persis sebenarnya saat Nuzulul Qur'an itu terjadi? Di sini mulai terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama. Konteks perbedaan pendapat ini sebetulnya bermuara pada batasan waktu kapan terjadinya Lailatul Qadar itu.

Ada yang berpendapat di hari-hari ganjil asyrul awakhir bulan suci Ramadan sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits. Ada pula yang menyatakan pada 27 Ramadan. Ada lagi yang berpendapat bahwa khusus Lailatul Qadar saat Nuzulul Qur'an itu terjadi yakni pada tanggal 17 Ramadan. Karena keterkaitannya Surat Al-Qadr ayat 1 dengan isyarat yang disampaikan oleh Allah SWT. Pada Surat Al- Anfal 41 yang berbunyi,

إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ

"...jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan (Al-Qur'an) kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan".

Adapun yang dimaksud dengan hari Furqan atau hari bertemunya dua pasukan adalah hari pertempuran perang Badr.

Peristiwa perang tersebut terjadi pada tanggal 17 Ramadan 02 H. atau jatuh pada hari Selasa 13 Maret 624 M.

Jamaah salat Jumat rohimakumullah

Sudah menjadi kebiasaan di negeri kita untuk memperingati hari diturunkannya al- Quran di bulan Ramadan dengan menggelar pengajian akbar, dengan menghadirkan narasumber yang spesial agar dihadiri sebanyak mungkin kaum Muslimin. Sebenarnya itu sebuah momen yang penting untuk dimanfaatkan untuk menyadarkan kaum kaum Muslimin agar menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup yang mengatur diri mereka, keluarga mereka dan masyarakat mereka.

Sayangnya, kesadaran sebagian besar masyarakat baru sebatas menghadiri pengajian Nuzulul Qur'an. Belum sampai pada tingkat siap menjadikan Al-Qur'an sebagai penuntun dan pengatur kehidupan mereka. Akibatnya, seusai acara, sebagian dari kaum Muslimin kembali tenggelam dalam berbagai perkataan, perbuatan, sikap dan perilaku yang sangat bertentangan dengan tuntunan Al-Qur'an itu sendiri. Untuk itu, marilah kita tingkatkan kesadaran untuk mempelajari Al-Qur'an secara serius dan berkelanjutan, memegang teguh adab dan tuntunannya dalam kehidupan dan berusaha keras untuk bersikap istiqamah di atas aturannya, sesuai kemampuan kita.

Perlu kita ketahui, bahwa Al-Qur'an itu bisamenjadi pembela kita di akhirat nanti, namun bisa juga menjadi penuntut kita. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya, dari Abu Malik Al-Asy'ari RA, Rasulullah SAW Bersabda,

"Dan Al-Qur'an itu bisa menjadi bukti yang membelamu dan bisa pula menjadi bukti yang akan memberatkanmu."

Bila kita mau membaca dan mengamalkan Al-Qur'an, maka ia akan menjadi hujjah yang membela kita. Namun bila kita tidak mau membaca dan mengamalkan Al-Qur'an, maka ia akan menjadi hujjah yang memberatkan kita pada hari kiamat.

Maasyiral Muslimin rahimakumullah

Diantara keutamaan Malam Qadar, adalah;

Pertama malam lailatul qadar merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah SWT berfirman,

"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan". (QS Al-Qadr: 3)

Maksud dari Surat Al Qadr ayat 3 ini adalah amal, puasa dan salat malam yang dilakukan seseorang di malam lailatul qadar ini lebih baik dari amalan yang dilakukan selama 1000 bulan.

Kedua adalah; Malam tersebut merupakan malam pengampunan dosa bagi orang orang yang menghidupkan malam lailatul qadar ini. Nabi Muhammad saw bersabda, "Barangsiapa melaksanakan salat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari)

Keutamaan ketiga adalah; malam lailatul qadar merupakan malam yang penuh berkah. Hal ini dikarenakan turunnya Al-Qur'an. Keutamaan yang keempat adalah malam lailatul qadar sebagai malam turunnya para malaikat dan Malaikat Jibril. Hal ini menandakan bahwa malam ini merupakan malam yang banyak berkah, karena malaikat turun bersamaan dengan turunnya berkah. Seperti firman Allah pada surat Al Qadr ayat 4,

"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan". (QS Al-Qadr: 4)

Al-Qur'an sebagai kitab yang mulia, dan menjadi pedoman seluruh umat islam dalam menjalani kehidupan menjadikan semua yang bersinggungan dengannya menjadi mulia juga. Nabi Muhammad saw menjadi Nabi yang paling mulia diantara Nabi lainnya adalah karena kepada beliaulah Al-Qur'an diwahyukan oleh Allah melalui Malaikat Jibril.

Bulan Ramadan menjadi bulan yang mulia, diantaranya adalah karena pada bulan Ramadan lah Al-Qur'an diturunkan. Begitu pula dengan malam lailatul qadar menjadi malam yang paling mulia dan menjadi malam yang lebih dari seribu bulan adalah karena pada malam itulah Al-Qur'an diturunkan sebagaimana firman Allah pada surat Al-Qadr ayat 1.

Dengan amalan yang dilakukan di malam nuzulul Qur'an, kita semua bisa mendapatkan berkah dan rahmat dari Allah. Allah berfirman:

وَهَذَا كِتَبُ أَنْزَلْتُهُ مُبْرَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

"Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah Dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat". (QS Al-An'am: 155).

Semoga Allah Swt. mengaruniakan kepada kita hidayah, taufik dan kekuatan untuk membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita semua mendapatkan malam lailatul qadar yaitu malam seperti 1000 bulan. Aamiin. Allahumma Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ وَنَفْعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ ال آيَاتِ وَ ذِكْرِ الحَكِيمِ وَ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمِ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَى رَسُولِهِ الْمُصْطَفَى, وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى أَشْهَدُ أن لا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. إِنَّ

اللَّهَ وَ مَلَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيماً. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاء مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللهُمَّ أَعِزَّ الإسْلامَ وَالمُسْلِمِينَ وَأَذِلَّ الشَّرْكَ وَالمُشْرِكِينَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحْدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ وَ دَمِّر أَعْدَاءَ الدِّيْنِ, وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعُ عَنَّا البَلاءَ وَالوَبَاءَ وَالزَّلازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوْء الفِتْنَةِ وَالمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا انْدُونِيسِيًا خاصَّةً وَسَائِرِ البُلْدَانِ المُسْلِمِينَ عَامَّةً يَا رَبَّ العَالَمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الخَاسِرِينَ

عِبَادَ اللَّهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَابْتَاءِ ذِي الْقُرْبِي وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشاءِ وَالمُنكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاذْكُرُوا اللَّهَ العَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Itulah dia beberapa contoh naskah khutbah Jumat Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar penuh hikmah. Semoga bermanfaat, ya!




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads