Keutamaan 10 Hari Kedua Puasa Ramadan, Fase Ampunan yang Tak Boleh Disia-siakan

Keutamaan 10 Hari Kedua Puasa Ramadan, Fase Ampunan yang Tak Boleh Disia-siakan

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Selasa, 03 Mar 2026 21:15 WIB
Ilustrasi imsak puasa di bulan Ramadan.
Ilustrasi amalan 10 hari kedua Ramadan. Foto: Freepik
Jakarta -

Keutamaan 10 hari kedua puasa Ramadan sering disebut sebagai fase maghfirah atau ampunan dalam bulan suci. Umat Islam meyakini bahwa pertengahan Ramadan menjadi momentum untuk memperbanyak istighfar dan memperbaiki kualitas ibadah.

Dalam sejumlah riwayat, Ramadan dibagi menjadi tiga fase, yaitu rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka. Fase kedua yang berlangsung pada tanggal 11 hingga 20 Ramadan kerap dimaknai sebagai waktu terbaik untuk memohon ampunan kepada Allah SWT.

Keutamaan 10 Hari Kedua Ramadan

Dikutip dalam buku Apakah Amalan Kita Diterima Allah SWT? oleh Alexander Zulkarnaen, memasuki pertengahan Ramadan, umat Islam meyakini fase ini sebagai masa yang sarat dengan ampunan. Sepuluh hari kedua menjadi momentum bagi setiap hamba untuk semakin bersungguh-sungguh dalam ibadah, memperbanyak taubat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dalam kitab sahihnya dan Baihaqi dalam Syu'ab Al-Iman dari Salman Al-Farisi:

"Inilah bulan yang permulaannya (10 hari pertama) penuh dengan rahmat, yang pertengahannya (10 hari pertengahan) penuh dengan ampunan, dan yang terakhirnya (10 hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka."

ADVERTISEMENT

Berikut beberapa keutamaan 10 hari kedua Ramadan:

1. Terdapat Peristiwa Nuzulul Qur'an

Waktu pasti turunnya Al-Qur'an memang masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun, merujuk pada buku 10 Malam Pertengahan Ramadan karya Shabri Shaleh Anwar, Surah Al Anfal ayat 41 dijadikan sebagai salah satu landasan bahwa Al-Qur'an diturunkan pada malam ke-17 Ramadan kepada Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتْمَى وَالْمَسْكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ اِنْ كُنتُمْ أَمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعُنِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: "Ketahuilah, sesungguhnya apa pun yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlimanya untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnusabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad) pada hari al-furqan (pembeda), yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.."

Dalam ayat tersebut disebutkan istilah hari Furqan, yang dipahami sebagai hari bertemunya dua pasukan dalam Perang Badar. Sebagian mufassir menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi pada Jumat, 17 Ramadan 2 Hijriah. Dari sini, banyak ulama yang mengaitkan turunnya Al-Qur'an dengan pertengahan Ramadan. Peristiwa ini menjadi salah satu kemuliaan besar pada 10 hari kedua karena di dalamnya terdapat momentum turunnya kitab suci Al-Qur'an.

2. Amalan Kebaikan Dilipatgandakan

Sepuluh hari kedua Ramadan juga menjadi waktu yang istimewa untuk memperbanyak amal saleh. Dalam Buku Pintar Khutbah Jum'at Tematik karya Ibnu Marzuki al-Gharani disebutkan bahwa setiap ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadan akan memperoleh ganjaran yang berlipat ganda.

Sebagaimana hadits riwayat Muslim:

"Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah SWT berfirman (yang artinya) 'Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku'."

Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan. Ganjaran yang berlipat menjadi dorongan bagi umat Islam untuk semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas amal selama pertengahan Ramadan.

3. Diampuni Dosa-dosa

Keutamaan lainnya adalah terbukanya pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba yang istiqamah dalam ibadah. Dalam buku Panduan Sholat Rasulullah 1 karya Imam Abu Wafa dijelaskan bahwa Ramadan menjadi sarana penghapus dosa bagi mereka yang bersungguh-sungguh menjalankannya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

"Salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus (kesalahan) di antara waktu-waktu tersebut apabila dijauhi dosa-dosa besar." (HR Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa Ramadan memiliki kedudukan sebagai momentum penyucian diri. Dengan menjaga ibadah dan menjauhi dosa besar, seorang Muslim berpeluang mendapatkan ampunan atas kesalahan yang telah lalu.




(lus/lus)
ramadan penuh hikmah
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads