Perkembangan teknologi melaju begitu cepat. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan kelahiran sebuah pendatang baru yang kerap disebut sebagai anak bungsu paling cerdas dalam keluarga besar teknologi: artificial intelligence (AI).
Dalam detikKultum Ramadan, Prof Nasaruddin Umar mengajak masyarakat untuk tidak sekadar terpukau oleh kecanggihan AI, tetapi juga merenungkannya secara mendalam.
"Kita kembali berkontemplasi sejenak untuk merenung kedatangan pendatang baru di tengah-tengah kita yang kita sebut anak bungsu paling cerdas, AI," kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum Ramadan, Jumat (27/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ramadan dan Etika Bermedia Digital |
Menurut Prof Nasaruddin Umar, teknologi pada dasarnya bersifat netral. Ia tidak membawa kebaikan atau keburukan secara otomatis. Semua bergantung pada manusia yang menggunakannya.
"Sama dengan teknologi lain, dampaknya bisa positif bisa negatif, tergantung sikap mental si user-nya itu. Kalau AI ini kita perintahkan untuk membuat sesuatu yang positif maka pasti akan positif hasilnya kan. Tapi kalau kita lost control penggunaan AI ini maka akan negatif hasilnya," jelas Prof Nasaruddin Umar.
Pernyataan ini menegaskan bahwa AI hanyalah alat. Ia tidak memiliki niat, tidak memiliki moral, dan tidak memiliki tanggung jawab. Manusialah yang menjadi penentu arah. Jika diperintahkan untuk hal-hal produktif, edukatif, dan membangun, maka AI akan menjadi kekuatan positif. Namun jika digunakan tanpa kontrol dan tanpa nilai moral, dampaknya bisa merusak.
Karena itu, persoalan utama bukan pada teknologinya, melainkan pada mentalitas dan kesadaran penggunanya.
Lebih jauh, Prof Nasaruddin Umar mengingatkan tanpa fondasi moral dan spiritual, AI berpotensi membawa dampak negatif yang besar.
"Tanpa moral spiritual, AI akan sangat berdampak negatif terhadap manusia," sambungnya.
Walaupun AI mampu melakukan banyak hal, Prof Nasaruddin Umar mengingatkan ada wilayah yang tidak bisa disentuh oleh teknologi.
"AI bisa disuruh bikin macam-macam. Waduh luar biasa. Tapi bisakah AI itu mengobati kerinduan kita pada orang tua? Bisakah AI mengobati rasa bersalah kita karena melakukan dosa besar? Bisakah AI mengganti kualitas sholat kita? No, tidak bisa," ujarnya.
Pernyataan ini menjadi garis batas yang jelas antara kecerdasan buatan dan kedalaman spiritual manusia. AI bisa membantu menyusun kata-kata rindu, tetapi ia tidak bisa merasakan rindu. AI bisa menuliskan doa tobat, tetapi ia tidak bisa menyesal. AI bisa menjelaskan tata cara salat, tetapi ia tidak bisa menghadirkan kekhusyukan.
"Bagi saya ada pembagian tugas, AI tugasnya baik, tetapi kendaraan spiritual kita kepada Tuhan itu adalah hati nurani kita," tegas Imam Besar Masjid Istiqlal itu.
Karena itu, Prof Nasaruddin Umar mengingatkan agar manusia tidak menyerahkan seluruh arah hidupnya kepada teknologi.
Prof Nasaruddin Umar tidak melihat AI sebagai lawan spiritualitas. Justru melihat adanya kemungkinan kohesi antara dunia teknologi dan dunia batin, terutama melalui ibadah puasa.
Dia memberi contoh sederhana tetapi menyentuh. Saat berpuasa, seseorang membuka AI dan memintanya membuatkan syair tentang kerinduan kepada Tuhan. Dalam waktu kurang dari semenit, muncul rangkaian kata-kata indah, seolah-olah ditulis oleh tokoh-tokoh sufi besar seperti Rabi'a al-Adawiyya atau Jalaluddin Rumi.
Kemudian ketika syair itu dibaca, hati tersentuh, bahkan bisa meneteskan air mata. Muncul perasaan, "Ya Allah, kok bisa banget mengerti apa yang saya rasakan."
Dalam situasi ini, AI menjadi alat bantu refleksi. Ia membantu merangkai bahasa, tetapi yang merasakan tetap manusia.
Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: AI dan Spiritualitas: Bisakah Teknologi Menggantikan Nurani? tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!
Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).
Baca juga: Ramadan dan Tantangan Generasi Z/Milenial |
