Sore ini, detikKultum bersama Ustaz Koh Dennis Lim kembali menghadirkan renungan bertema Empat Tiket Menuju Surga. Pada kesempatan kali ini, Ustaz Koh Dennis Lim mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukan tempat tinggal abadi. Dunia adalah tempat singgah sebelum kembali kepada Allah SWT. Karena itu, setiap insan tentu mendambakan kepulangan terbaik, yakni menuju surga-Nya.
Momentum Ramadan disebut sebagai waktu yang memudahkan langkah untuk mendekat kepada Allah SWT. Ustaz Koh Dennis Lim menukil sebuah hadits yang disampaikan Rasulullah SAW saat tiba di Madinah setelah hijrah dari Makkah. Hadits itu memuat empat amalan yang menjadi jalan lapang menuju surga.
Amalan pertama adalah afsyus-salaam, yakni menyebarkan salam. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk membiasakan ucapan "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" kepada sesama, baik kepada orang yang dikenal maupun yang belum dikenal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ustaz Koh Dennis Lim juga menyinggung kondisi ketika terjadi perselisihan. Islam memberi batas tiga hari untuk tidak saling menyapa. Melewati batas tersebut berarti membiarkan jarak semakin lebar. Nabi SAW menyebutkan bahwa yang paling baik di antara dua orang yang berseteru adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam.
"Maka dari itu mari selalu coba menebarkan salam," ucap Ustaz Koh Dennis Lim.
Selanjutnya amalan kedua adalah ath'imut tha'am, memberi makan. Memberi makan orang lain, baik yang dikenal maupun tidak, merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Terlebih di bulan Ramadan ini yang memberi banyak peluang untuk berbagi makanan, baik kepada keluarga, tetangga, maupun mereka yang membutuhkan.
Amalan ketiga ialah wa shilul-arhaam, menyambung tali silaturahmi. Ustaz Koh Dennis Lim menekankan bahwa yang paling utama adalah menyambung hubungan dengan pihak yang lebih dahulu memutusnya. Menjalin kembali hubungan yang renggang termasuk amalan besar di sisi Allah.
Amalan keempat adalah wa shallu bil-laili wan-naasu niyaam, salat malam saat manusia lainnya terlelap. Qiyamul lail atau tahajud memiliki keutamaan istimewa, apalagi di bulan Ramadan ketika waktu sahur dapat dimanfaatkan sekaligus untuk bangun malam.
Ustaz Koh Dennis Lim mengutip hadits riwayat Abu Dawud tentang keutamaan zikir ketika terbangun pada malam hari. Barang siapa yang terjaga lalu membaca doa:
"Lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lah, lahul-mulku walahul-hamdu wa huwa 'alâ kulli syai'in qadîr. Subhânallâhi walhamdulillâhi wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar. Wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh. Rabbighfir lî."
Artinya: "Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaandan baginya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan kecuali Allah. Allah Maha Agung dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya. Ya Allah, ampunilah aku." (HR. Abu Dâwûd)
Kemudian memanjatkan doa, maka doanya dikabulkan. Jika dilanjutkan dengan berwudu dan salat, maka salatnya diterima oleh Allah. Keutamaan ini tidak terbatas pada Ramadan, tetapi berlaku pada setiap malam.
Dalam penjelasannya, Ustaz Koh Dennis Lim membedakan antara ibadah yang sah dan ibadah yang diterima. Ibadah sah terpenuhi ketika rukun dan syaratnya lengkap. Namun, belum tentu setiap ibadah yang sah otomatis diterima.
Oleh karena itu, membiasakan zikir ketika terbangun di malam hari, lalu melanjutkannya dengan salat sunnah dua rakaat, menjadi ikhtiar agar amalan diterima.
Semoga zikir, doa, dan salat malam yang dihidupkan secara istiqamah menjadi bekal berharga untuk menghadap Allah SWT dan mengantarkan menuju surga-Nya.
Baca juga: Membaca Sinyal Allah: Nikmat atau Teguran? |












































Komentar Terbanyak
Eks Menag Kritik Rencana War Tiket Haji Kemenhaj
Kemenhaj Wacanakan War Tiket Jadi Mekanisme Naik Haji Tanpa Antre
Prabowo Ingin Hapus Antrean Haji, Kemenhaj Kaji Sistem "War Ticket"