Tidak semua kesulitan berarti keburukan, dan tidak setiap kesenangan menunjukkan kebaikan. Lalu bagaimana cara memahami peristiwa yang sedang terjadi dalam hidup? Inilah pertanyaan yang diangkat dalam tema "Membaca Sinyal Allah: Nikmat atau Teguran?" pada detikKultum bersama Ustaz Koh Dennis Lim hari ini.
Dalam kajiannya tersebut, ia mengajak untuk merenungi satu pertanyaan penting, apa sebenarnya arti peristiwa yang sedang dialami dalam hidup? Apakah itu nikmat, musibah, ujian, atau bahkan azab?
Menurutnya, memahami keempat hal tersebut sangatlah penting. Sebab ketika seseorang tidak mampu membaca makna di balik kejadian hidup, maka keadaan apa pun mudah membuat hati gelisah dan sulit merasakan kebahagiaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penjelasannya, Ustaz Koh Dennis Lim menyampaikan bahwa setiap kepahitan yang datang pada akhirnya hanya mengarah pada dua hal, yakni menggugurkan dosa atau meninggikan derajat.
Azab disebut sebagai kepahitan yang diundang oleh dosa. Namun ia menekankan bahwa azab bukanlah hukuman semata. Azab merupakan pertolongan dari Allah. Seseorang yang banyak melakukan kesalahan lalu menerima balasan di dunia masih lebih beruntung dibandingkan orang yang terus berbuat dosa tetapi tidak mendapat balasan hingga kelak di akhirat.
Adapun ujian memiliki tujuan berbeda, yaitu meninggikan derajat. Ustaz Koh Dennis Lim memberikan contoh nyata dari kisah hidup para nabi. Mereka maksum, tidak memiliki dosa, namun tetap menghadapi ujian yang berat. Ujian tersebut bukan untuk menghapus kesalahan, tetapi untuk mengangkat kedudukan mereka di sisi Allah.
Di sinilah letak perbedaan antara azab dan ujian. Perbedaannya terletak pada sebab dan tujuannya. Azab datang karena kesalahan, sedangkan ujian hadir untuk menaikkan derajat.
Dalam keseharian, perbedaan azab dan ujian dapat dilihat dari dampaknya pada hati. Kepahitan yang menggugurkan dosa sering terasa sangat perih. Sementara ujian yang meninggikan derajat terasa berat, tetapi hati tetap tenang dan terus berharap kepada Allah.
Hal ini tergambar pada doa dalam Al-Qur'an surah Maryam ayat 4,
قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا ٤
"Dia (Zakaria) berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku."
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa meski fisik melemah, usia bertambah dan memiliki banyak ujian, hati tetap penuh harap dan tidak berputus asa. Inilah ciri ujian yang mengangkat derajat.
Lebih lanjut, Ustaz Koh Dennis Lim lalu menjelaskan tentang nikmat dan musibah. Nikmat bukanlah selalu tentang kesenangan. Nikmat adalah apa pun yang membuat seseorang semakin dekat kepada Allah. Sebaliknya, musibah adalah apa pun yang menjauhkan diri dari-Nya.
Kehilangan kendaraan, misalnya, terasa merugikan. Namun jika peristiwa itu membuat seseorang lebih sering ke masjid dan meninggalkan kebiasaan buruk, maka kehilangan tersebut justru menjadi jalan kebaikan. Peristiwa yang tampak pahit berubah menjadi nikmat karena membawa hati lebih dekat kepada Allah.
Sebaliknya, kelapangan rezeki atau kesenangan hidup dapat berubah menjadi musibah jika membuat lalai dari ibadah dan jauh dari ketaatan.
Di akhir tausiyahnya, Ustaz Koh Dennis Lim menjelaskan bahwa setiap keadaan dapat menjadi jalan menuju kebaikan jika disikapi dengan iman. Sehat atau sakit, lapang atau sempit, semua dapat menjadi sebab bertambahnya kedekatan kepada Allah.
Ketika hidup dibaca sebagai rangkaian sinyal dari-Nya, hati tidak lagi mudah goyah. Kepahitan tidak selalu berarti keburukan, dan kesenangan tidak selalu berarti kebaikan. Yang menentukan adalah apakah peristiwa itu mendekatkan atau justru menjauhkan diri dari Allah.
Baca juga: Hati-hati dengan Hati |












































Komentar Terbanyak
Prabowo Deal Produk AS Bebas Masuk RI Tanpa Sertifikasi Halal, MUI Kritik Keras
Israel Serang Gaza dengan Senjata Pemusnah Tubuh, MUI Pertanyakan Peran Board of Peace
Waketum MUI Soroti Kesepakatan Dagang RI-AS: Ini Perjanjian atau Penjajahan?