Hati-hati dengan Hati

detikKultum Asar Bersama Ustaz Koh Dennis Lim

Hati-hati dengan Hati

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Senin, 23 Feb 2026 15:30 WIB
Jakarta -

Sore ini, detikKultum bersama Ustaz Koh Dennis Lim kembali hadir dengan tema "Hati-Hati dengan Hati". Banyak orang yang tentunya ingin pulang ke surga Allah, ingin akhir yang baik, ingin selamat saat hisab. Namun menurut Ustaz Koh Dennis Lim, sering kali fokus hanya tertuju pada mengumpulkan pahala, bukan menjaga sumbernya.

Beliau memberi ilustrasi tentang ember pahala. Setiap salat Subuh, sedekah, tilawah, dan amal baik lainnya diibaratkan seperti air yang dituang ke dalam ember.

Setiap hari diisi, bahkan ada yang merasa embernya sudah hampir penuh. Akan tetapi jarang ada yang memeriksa apakah ember tersebut bocor. Jika bocor, sebanyak apa pun air yang dimasukkan, hasilnya tetap kosong.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ustaz Koh Dennis Lim lalu mengingatkan tentang golongan muflis yang disebut oleh Nabi, yaitu orang yang bangkrut. Mereka datang pada hari akhir dengan membawa pahala salat, puasa, dan sedekah. Namun pahala itu habis karena lisan yang menyakiti, hati yang dipenuhi iri, kesombongan, dan kezaliman kepada orang lain.

"Apa yang paling banyak bikin pahala bocor? Masalah hati, penyakit-penyakit hati," ungkap Ustaz Koh Dennis Lim.

ADVERTISEMENT

Allah berfirman dalam Surah Asy-Syams ayat 9-10:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ۝٩ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ ۝١٠


"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya (9) Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (10)." (QS. As-Syams: 9-10)

Menurut penjelasan beliau, keberuntungan seseorang terletak pada kebersihan jiwanya. Amal yang banyak tidak cukup jika hati masih dipenuhi kesombongan dan niat yang salah.

Untuk menjelaskan hal tersebut, Ustaz Koh Dennis Lim menceritakan kisah seorang dermawan yang membeli kambing untuk dibagikan kepada masyarakat. Ia meminta bagian terburuk untuk dirinya. Setelah dibagikan, ia menerima hati dan lidah. Beberapa waktu kemudian ia kembali menyembelih kambing dan kali ini meminta bagian terbaik. Ternyata yang ia terima tetap hati dan lidah.

Dari kisah itu beliau menjelaskan bahwa hati dan lisan menentukan baik buruknya seseorang. Jika hati bersih dan lisan terjaga, seseorang bisa menjadi mulia. Namun jika hati rusak dan lisan tidak terkendali, ia bisa jatuh pada keburukan.

Beliau juga membandingkan penyakit fisik dan penyakit hati. Penyakit fisik, walau berat, bisa menjadi sebab gugurnya dosa. Seseorang yang sakit menjadi lemah dan terbatas sehingga terjaga dari banyak kesalahan. Ketika meninggal, penyakit itu tidak lagi dibawa.

Sebaliknya, penyakit hati sering tidak terasa. Kesombongan, iri, dan riya bisa tumbuh tanpa disadari. Bahkan ada yang merasa bangga ketika dipuji dan merasa diri lebih baik dari orang lain. Padahal semua kemampuan dan pencapaian terjadi karena pertolongan Allah.

"Dari sini kita harus mikir, mana yang lebih bahaya, penyakit kanker atau penyakit sombong," ujar Ustaz Koh Dennis Lim.

Menurut beliau, kesombongan lebih berbahaya karena dapat merusak amal dan hubungan dengan sesama. Dalam rumah tangga misalnya, ketika merasa diri paling benar dan paling berjasa, pertengkaran mudah terjadi. Sikap merasa sudah cukup baik bisa menutup diri dari introspeksi.

Di akhir tausiyahnya, Ustaz Koh Dennis Lim menekankan bahwa hati adalah raja. Jika hati baik, ibadah menjadi lurus dan lebih mudah diterima. Namun jika hati salah, meskipun tubuh rajin beribadah, amal tersebut bisa kehilangan nilai.

(inf/lus)
ramadan penuh hikmah

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads