Khutbah Jumat akhir Syawal tentang pentingnya menjaga istiqomah bisa menjadi salah satu referensi khatib saat salat Jumat. Hal ini lantaran mendekati akhir bulan Syawal, animo dan momentum masyarakat dari bulan Ramadan dapat dirasakan menurun dalam keistiqomahan beragama.
Berdasarkan ketetapan hasil sidang isbat Kementerian Agama (Kemenag), bulan Syawal berakhir pada 21 Mei 2023 mendatang.
Sementara itu, berdasarkan keputusan PP Muhammadiyah yang penentuan kalendernya menggunakan perhitungan dari posisi geometris bumi, matahari, dan bulan, Syawal berakhir pada 20 Mei 2023.
Istiqomah sendiri secara bahasa berarti konsisten, sikap teduh berpendirian khususnya dalam berkeyakinan. Al-Maraghi melalui buku Tafsir al Maraghi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan istiqomah adalah teguh dalam beriman sehingga tidak tergelincir, serta ibadah dan itikad-itikad nya tidak dilanggar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Allah SWT berulang kali menyinggung mengenai pentingnya beristiqomah khususnya dalam beragama. Salah satunya termaktub dalam Al-Qur'an Surah Hud ayat 112 yang berbunyi,
ÙÙØ§Ø³ÙتÙÙÙÙ Ù ÙÙÙ ÙØ§Ù اÙÙ ÙØ±Ùت٠ÙÙÙ ÙÙÙ ØªÙØ§ØšÙ Ù ÙØ¹ÙÙÙ ÙÙÙÙØ§ ØªÙØ·ÙغÙÙÙØ§Û اÙÙÙÙÙÙ ØšÙÙ ÙØ§ ØªÙØ¹ÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙ ØšÙØµÙÙÙØ±Ù
Arab Latin: "Fastaqim kamÄ umirta wa man tÄba ma'aka wa lÄ taá¹gau, innahÅ« bimÄ ta'malÅ«na baṣīr(un)."
Artinya: "Maka, tetaplah beristiqomahlah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Melihat pentingnya istiqomah dalam Islam, berikut ini adalah contoh naskah khutbah Jumat akhir Syawal dengan tema tanda orang istiqomah yang dilansir dari laman BDK Bandung Kemenag RI.
Contoh Teks Khutbah Jumat Akhir Syawal
Assalamualaikum Wr. Wb
Ø¥ÙÙ٠اÙÙØÙÙ ÙØ¯Ù ÙÙÙÙÙ ÙÙØÙÙ ÙØ¯ÙÙÙ ÙÙÙÙØ³ÙØªÙØ¹ÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ³ÙØªÙØºÙÙÙØ±ÙÙÙ ÙÙÙÙØ¹ÙÙÙØ°Ù ØšÙØ§ÙÙÙÙ Ù ÙÙÙ ØŽÙØ±ÙÙÙØ±Ù Ø£ÙÙÙÙÙØ³ÙÙÙØ§ ÙÙØ³ÙÙÙØŠÙØ§ØªÙ Ø£ÙØ¹ÙÙ ÙØ§ÙÙÙÙØ§ Ù ÙÙÙ ÙÙÙÙØ¯ÙÙ٠اÙÙÙÙ ÙÙÙØ§Ù Ù ÙØ¶ÙÙÙ ÙÙÙÙ ÙÙÙ ÙÙÙ ÙÙØ¶ÙÙÙÙÙ ÙÙÙØ§Ù ÙÙØ§Ø¯ÙÙÙ ÙÙÙÙ Ø£ÙØŽÙÙÙØ¯Ù Ø£ÙÙÙ ÙØ§Ù Ø¥ÙÙÙ٠إÙÙØ§Ù اÙÙÙÙ ÙÙØ£ÙØŽÙÙÙØ¯Ù Ø£ÙÙÙ Ù ÙØÙÙ ÙØ¯Ùا Ø¹ÙØšÙدÙÙÙ ÙÙØ±ÙسÙÙÙÙÙÙÙ
صÙÙÙÙ٠اÙÙÙ٠عÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙØ¹ÙÙÙ٠آÙÙÙÙ ÙÙØ£ÙØµÙØÙØ§ØšÙÙÙ ÙÙÙ ÙÙÙ Ø³ÙØ§Ø±Ù عÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ¬ÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù ÙÙØ¯ÙØ¹ÙØ§ Ø¥ÙÙÙÙ Ø§ÙØµÙÙØ±Ùاط٠اÙÙ ÙØ³ÙتÙÙÙÙÙ٠٠إÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙ Ù Ø§ÙØ¯ÙÙÙÙÙÙ ÙÙØ³ÙÙÙÙÙ Ù ØªÙØ³ÙÙÙÙÙÙ ÙØ§ ÙÙØ«ÙÙÙØ±Ùا
اÙÙÙÙÙÙ Ù٠عÙÙÙÙÙ ÙÙÙØ§ Ù ÙØ§ ÙÙÙÙÙÙØ¹ÙÙÙØ§Ø ÙÙØ§ÙÙÙÙØ¹ÙÙÙØ§ ØšÙÙ ÙØ§ عÙÙÙÙÙ ÙØªÙÙÙØ§Ø ÙÙØ²ÙدÙÙÙØ§ عÙÙÙÙ Ø§ÙØ ÙÙØ£ÙرÙÙÙØ§ Ø§ÙØÙÙÙÙ ØÙÙÙØ§Ù ÙÙØ§Ø±ÙزÙÙÙÙÙØ§ اتÙÙØšÙاعÙÙÙØ ÙÙØ£ÙرÙÙÙØ§ Ø§ÙØšÙاطÙÙÙ ØšÙØ§Ø·ÙÙØ§Ù ÙÙØ§Ø±ÙزÙÙÙÙÙØ§ Ø§Ø¬ÙØªÙÙÙØ§ØšÙÙÙ
Ma'asyirol muslimin rahimakumullah
Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 102,
ÙÙØ§ Ø£ÙÙÙÙÙÙØ§ اÙÙÙØ°ÙÙÙ٠آ٠ÙÙÙÙØ§ اتÙÙÙÙÙØ§ اÙÙÙÙÙÙ ØÙÙÙ٠تÙÙÙØ§ØªÙÙÙ ÙÙÙÙØ§ تÙÙ ÙÙØªÙÙÙ٠إÙÙÙÙØ§ ÙÙØ£ÙÙÙØªÙÙ Ù Ù ÙØ³ÙÙÙÙ ÙÙÙÙ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran: 102)
Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah dengan sempurna. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman.
Ma'asyirol muslimin rahimakumullah,
Sebelumnya ada dua adab penting pada hari Jumat saat mendengarkan khutbah Jumat yang perlu diterangkan. Pertama, diam dan tidak berbicara saat mendengar khutbah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda,
Ø¥ÙØ°Ùا ÙÙÙÙØªÙ ÙÙØµÙاØÙØšÙÙÙ ÙÙÙÙ٠٠اÙÙØ¬ÙÙ ÙØ¹Ùة٠أÙÙÙØµÙت٠. ÙÙØ§ÙØ¥ÙÙ ÙØ§Ù Ù ÙÙØ®ÙØ·ÙØšÙ ÙÙÙÙØ¯Ù ÙÙØºÙÙÙØªÙ
Artinya: Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, '"iamlah, khotib sedang berkhutbah!" Sungguh engkau telah berkata sia-sia." (HR Bukhari dan Muslim)
Kedua, dilarang al-habwah, yaitu duduk sambil memeluk lutut saat mendengarkan khutbah. Dari Sahl bin Mu'adz dari bapaknya (Mu'adz bin Anas Al-Juhaniy), ia berkata,
Ø£ÙÙÙÙ Ø±ÙØ³ÙÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙ -صÙ٠اÙÙ٠عÙÙÙ ÙØ³ÙÙ - ÙÙÙÙ٠عÙÙ٠اÙÙØÙØšÙÙÙØ©Ù ÙÙÙÙ٠٠اÙÙØ¬ÙÙ ÙØ¹Ùة٠ÙÙØ§ÙØ¥ÙÙ ÙØ§Ù Ù ÙÙØ®ÙØ·ÙØšÙ
Artinya: "Rasulullah SAW melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah." (HR Tirmidzi dan Abu Daud)
Kali ini kami akan mengangkat tema mengenai bagaimanakah tanda seseorang itu istiqomah. Karena setiap hari kita terus mengulang ayat ini di dalam salat,
اÙÙØ¯ÙÙÙØ§ Ø§ÙØµÙÙØ±Ùاط٠اÙÙÙ ÙØ³ÙتÙÙÙÙÙ ÙØµÙØ±ÙØ§Ø·Ù اÙÙÙØ°ÙÙÙ٠أÙÙÙØ¹ÙÙ ÙØªÙ عÙÙÙÙÙÙÙ٠٠غÙÙÙØ±Ù اÙÙÙ ÙØºÙضÙÙØšÙ عÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù ÙÙÙÙØ§ Ø§ÙØ¶ÙÙØ§ÙÙÙÙÙÙ
Artinya: "Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah: 6-7).
Ayat ini berisi perintah untuk meminta terus istiqomah di atas jalan yang lurus. Shirathal mustaqim menurut Ibnu Katsir adalah:
Mengikuti jalan Nabi
Mengikuti generasi salaf dari para sahabat seperti Abu Bakar dan 'Umar
Mengikuti kebenaran
Mengikuti Islam
Mengikuti Al-Qur'an
Ibnu Katsir rahimahullah mengungkapkan bahwa semua pengertian di atas itu benar dan semua makna di atas itu saling terkait. Siapa yang mengikuti Nabi Muhammad SAW dan mengikuti sahabat sesudahnya yaitu Abu Bakar dan Umar, maka ia telah mengikuti kebenaran. Siapa yang mengikuti kebenaran, berarti ia telah mengikuti Islam. Siapa yang mengikuti Islam, berarti ia telah mengikuti Al-Qur'an (Kitabullah), itulah tali Allah yang kokoh. Itulah semua termasuk ash-shirothol mustaqim (jalan yang lurus). Semua pengertian di atas itu benar saling mendukung satu dan lainnya. Walillahil hamd. (Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, 1:213.)
Bagaimana kita bisa istiqomah pada jalan yang lurus? Syafiq Al-Balji rahimahullah berkata bahwa ada empat cara untuk istiqomah,
1. Tidak Meninggalkan Perintah Allah Akibat Musibah
Pertama, tidak meninggalkan perintah Allah karena sedang mengalami musibah. Tetap istiqomah walaupun mendapatkan musibah. Allah Ta'ala berfirman dalam surah Al Insyirah ayat 5,
ÙÙØ¥ÙÙÙÙ Ù ÙØ¹Ù اÙÙØ¹ÙØ³ÙØ±Ù ÙÙØ³ÙØ±ÙØ§
Artinya: "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."
Ayat ini pun diulang setelah itu dalam surah Al Insyirah ayat 6,
Ø¥ÙÙÙÙ Ù ÙØ¹Ù اÙÙØ¹ÙØ³ÙØ±Ù ÙÙØ³ÙØ±ÙØ§
Artinya: "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."
Tentang ayat di atas, Qatadah rahimhuallah berkata, "Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan."
Ingatlah hikmah di balik musibah sungguh luar biasa. Pertama, musibah itu sebagai ujian, siapakah yang mampu bersabar.
Kedua, mntuk membersihkan hati manusia dan supaya lepas dari sifat-sifat buruk karena ketika musibah datang, maka kesombongan, ujub, hasad berubah menjadi ketundukan kepada Allah. Ketiga, iman seorang mukmin menjadi kuat.
Keempat, musibah menunjukkan kuatnya Allah dan lemahnya manusia. Kelima, dengan adanya musibah, kita jadi semangat berdoa dengan ikhlas.
Keenam, musibah itu untuk membangunkan seseorang yang sedang lalai. Ketujuh, nikmat itu baru dirasakan kalau kita mengetahui lawannya. Kita baru rasakan nikmat sehat ketika kita mendapatkan sakit.
Kedua, tidak meninggalkan perintah Allah karena kesibukan dunia. Ketiga, tidak mengikuti komentar orang lain dan mengedepankan hawa nafsu sendiri. Keempat, beramal sesuai Al-Qur'an dan sunnah nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. (Hilyah Al-Auliya', 8:17, dinukil dari At-Tadzhib Al-Maudhu'i li Hilyah Al-Auliya', hlm. 50).
2. Tidak Meninggalkan Perintah Allah Akibat Sibuk Dunia
Tidak meninggalkan perintah Allah walaupun sibuk dengan urusan dunia. Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menceritakan tentang salat pada suatu hari di mana beliau bersabda,
Ù ÙÙÙ ØÙاÙÙØžÙ عÙÙÙÙÙÙÙØ§ ÙÙØ§ÙÙØªÙ ÙÙÙÙ ÙÙÙØ±Ø§Ù ÙÙØšÙرÙÙÙØ§Ùا٠ÙÙÙÙØ¬Ùاة٠ÙÙÙÙ٠٠اÙÙÙÙÙÙØ§Ù ÙØ©Ù ÙÙÙ ÙÙÙ ÙÙÙ Ù ÙÙØÙØ§ÙÙØžÙ عÙÙÙÙÙÙÙØ§ ÙÙÙ Ù ÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙ ÙÙÙØ±Ù ÙÙÙØ§Ù ØšÙØ±ÙÙÙØ§ÙÙ ÙÙÙØ§Ù ÙÙØ¬Ùاة٠ÙÙÙÙØ§ÙÙ ÙÙÙÙ٠٠اÙÙÙÙÙÙØ§Ù ÙØ©Ù Ù ÙØ¹Ù ÙÙØ§Ø±ÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ±ÙعÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ§Ù ÙØ§ÙÙ ÙÙØ£ÙØšÙÙÙÙ ØšÙÙÙ Ø®ÙÙÙÙÙ
Artinya: "Siapa yang menjaga salat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nantinya di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir'aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf." (HR Ahmad)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Ash-Shalah wa Hukmu Taarikihaa (hlm. 37-38) mengenai hadits di atas,
Siapa yang sibuk dengan hartanya sehingga melalaikan salatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Qarun.
Siapa yang sibuk dengan kerajaannya sehingga melalaikan salatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir'aun.
Siapa yang sibuk dengan kekuasaannya sehingga melalaikan salat, maka ia akan dikumpulkan bersama Haman (menterinya Fir'aun).
Siapa yang sibuk dengan perdagangannya sehingga melalaikan salat, maka ia akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf.
3. Tidak Ikut Komentar Orang Lain
Tidak mengikuti komentar orang lain dan mengedepankan hawa nafsu sendiri. Dalam hadits disebutkan,
Ù ÙÙ٠اÙÙØªÙÙ ÙØ³Ù Ø±ÙØ¶Ùاء٠اÙÙÙÙÙÙ ØšÙØ³ÙØ®ÙØ·Ù اÙÙÙÙØ§Ø³Ù ÙÙÙÙØ§Ù٠اÙÙÙÙÙÙ Ù ÙØ€ÙÙÙØ©Ù اÙÙÙÙØ§Ø³Ù ÙÙÙ ÙÙ٠اÙÙØªÙÙ ÙØ³Ù Ø±ÙØ¶Ùاء٠اÙÙÙÙØ§Ø³Ù ØšÙØ³ÙØ®ÙØ·Ù اÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙ٠اÙÙÙÙÙ٠إÙÙÙ٠اÙÙÙÙØ§Ø³Ù
Artinya: "Barangsiapa yang mencari ridha Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridha manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia." (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
4. Beramal sesuai Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.
Allah Ta'ala berfirman dalam surah Al Hasyr ayat 7,
ÙÙÙ ÙØ§ Ø¢ÙØªÙاÙÙÙ Ù Ø§ÙØ±ÙÙØ³ÙÙÙÙ ÙÙØ®ÙذÙÙÙÙ ÙÙÙ ÙØ§ ÙÙÙÙØ§ÙÙ٠٠عÙÙÙÙÙ ÙÙØ§ÙÙØªÙÙÙÙØ§ ÙÙØ§ØªÙÙÙÙÙØ§ اÙÙÙÙÙ٠إÙÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙ ØŽÙØ¯ÙÙØ¯Ù اÙÙØ¹ÙÙÙØ§ØšÙ
Artinya: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya."
Dalam hadits Al-'Irbadh bin Sariyah disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda,
ÙÙØ¥ÙÙÙÙØ§ÙÙÙ Ù ÙÙÙ ÙØÙØ¯ÙØ«ÙØ§ØªÙ Ø§ÙØ£ÙÙ ÙÙØ±Ù ÙÙØ¥ÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙ Ù ÙØÙØ¯ÙØ«ÙØ©Ù ØšÙØ¯ÙØ¹ÙØ©Ù ÙÙÙÙÙÙÙ ØšÙØ¯ÙØ¹ÙØ©Ù ضÙÙØ§ÙÙÙØ©
Artinya: "Hati-hatilah dengan perkara baru dalam agama. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat." (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasa'i)
Demikian tanda kita bisa istiqomah, kesimpulannya adalah tidak meninggalkan perintah Allah tatkala kita tertimpa musibah, tidak meninggalkan perintah Allah karena kesibukan dunia, tidak mengikuti komentar orang dan hawa nafsu sendiri, beramal sesuai Al-Qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.
Ø£ÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙØ°Ùا ÙÙØ§Ø³ÙØªÙØºÙÙÙØ±Ù اÙÙÙÙ ÙÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙ Ù ÙÙÙÙØ³ÙØ§ØŠÙØ±Ù اÙÙ ÙØ³ÙÙÙÙ ÙÙÙÙ٠إÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙ Ø§ÙØ³ÙÙ ÙÙÙØ¹Ù Ø§ÙØ¹ÙÙÙÙÙÙ Ù
Khutbah Kedua
Ø§ÙØÙÙ ÙØ¯Ù ÙÙÙÙ Ø±ÙØšÙÙ Ø§ÙØ¹ÙاÙÙ ÙÙÙÙÙ ÙÙØ§ÙصÙÙÙØ§Ùة٠ÙÙØ§ÙسÙÙÙØ§Ù٠٠عÙÙÙÙ Ø£ÙØŽÙØ±ÙØ§ÙÙ Ø§ÙØ£ÙÙÙØšÙÙÙØ§Ø¡Ù ÙÙØ§ÙÙ Ø±ÙØ³ÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙØšÙÙÙÙÙÙØ§ Ù ÙØÙÙ ÙÙØ¯Ù ÙÙØ¹ÙÙÙ٠آÙÙÙÙ ÙÙØµÙØÙØšÙÙÙ Ø£ÙØ¬ÙÙ ÙØ¹ÙÙÙÙÙ
اÙÙ ÙÙØ§ ØšÙØ¹Ùد٠: ÙÙÙÙØ§Ø§Ù ÙÙÙÙÙØ§Ø§ÙÙÙÙØ§Ø³Ù !! Ø§ÙØªÙÙÙÙÙØ§Ø§ÙÙÙÙ ØªÙØ¹ÙاÙÙÙ. ÙÙØ°ÙرÙÙØ§ÙÙÙÙÙÙØ§ØÙØŽÙ Ù ÙØ§ØžÙÙÙØ±ÙÙÙÙ ÙØ§ØšÙØ·ÙÙÙ. ÙÙØÙØ§ÙÙØžÙÙÙØ§Ø¹ÙÙÙÙ Ø§ÙØ·ÙÙØ§Ø¹Ùة٠ÙÙØÙØ¶ÙÙÙØ±Ù اÙÙØ¬ÙÙ ÙØ¹Ùة٠ÙÙØ§ÙÙØ¬ÙÙ ÙØ§Ø¹ÙØ©Ù. ÙÙØ§Ø¹ÙÙÙÙ ÙÙÙØ§Ø§ÙÙÙ٠اÙÙÙ٠اÙÙ ÙØ±ÙÙÙÙ Ù ØšÙØ£ÙÙ ÙØ±Ù ØšÙØ¯ÙØ£Ù ÙÙÙÙÙÙ ØšÙÙÙÙÙØ³ÙÙÙ. ÙÙØ«ÙÙÙÙÙ ØšÙÙ ÙÙØ§ÙØŠÙÙÙØ©Ù ÙÙØ¯ÙسÙÙÙ. ÙÙÙÙØ§ÙÙ ØªÙØ¹ÙاÙÙÙ ÙÙÙÙÙ Ù ÙÙØ²ÙÙÙ ÙÙØ§ØŠÙÙØ§ÙعÙÙÙÙÙÙ ÙØ§: اÙÙÙ٠اÙÙÙÙ ÙÙÙ ÙÙØ§ÙØŠÙÙÙØªÙÙÙ ÙÙØµÙÙÙÙÙÙÙ٠عÙÙÙ٠اÙÙÙÙØšÙÙÙ ÙÙØ§Ù ÙÙÙÙÙØ§Ø§ÙÙÙØ°ÙÙÙÙ٠آ٠ÙÙÙÙÙØ§ØµÙÙÙÙÙÙØ§Ø¹ÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙØ³ÙÙÙÙÙ ÙÙÙØ§ ØªÙØ³ÙÙÙÙÙÙ ÙØ§
اÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù٠صÙÙÙ٠عÙÙÙÙ Ù ÙØÙÙ ÙÙØ¯Ù ÙÙØ¹ÙÙÙ٠آÙÙ Ù ÙØÙÙ ÙÙØ¯Ù ÙÙÙ ÙØ§ صÙÙÙÙÙÙØªÙ عÙÙÙÙ Ø¥ÙØšÙØ±ÙØ§ÙÙÙÙÙ Ù ÙÙØ¹ÙÙÙ٠آÙÙ Ø¥ÙØšÙØ±ÙØ§ÙÙÙÙÙ ÙØ Ø¥ÙÙÙÙÙÙ ØÙÙ ÙÙÙØ¯Ù Ù ÙØ¬ÙÙÙØ¯Ù. ÙÙØšÙارÙÙ٠عÙÙÙÙ Ù ÙØÙÙ ÙÙØ¯Ù ÙÙØ¹ÙÙÙ٠آÙÙ Ù ÙØÙÙ ÙÙØ¯Ù ÙÙÙ ÙØ§ ØšÙØ§Ø±ÙÙÙØªÙ عÙÙÙÙ Ø¥ÙØšÙØ±ÙØ§ÙÙÙÙÙ Ù ÙÙØ¹ÙÙÙ٠آÙÙ Ø¥ÙØšÙØ±ÙØ§ÙÙÙÙÙ ÙØ Ø¥ÙÙÙÙÙÙ ØÙÙ ÙÙÙØ¯Ù Ù ÙØ¬ÙÙÙØ¯Ù
اÙÙÙÙÙ Ù٠اغÙÙÙØ±Ù ÙÙÙÙÙ ÙØ³ÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙ ÙÙØ§Ù٠سÙÙÙÙ ÙØ§ØªÙ ÙÙØ§Ù٠؀ÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙØ§Ù٠؀ÙÙ ÙÙÙØ§ØªÙ Ø§ÙØ£ÙØÙÙÙØ§Ø¡Ù Ù ÙÙÙÙÙÙ Ù ÙÙØ§ÙØ£ÙÙ ÙÙÙØ§ØªÙ Ø¥ÙÙÙÙÙ٠سÙÙ ÙÙÙØ¹Ù ÙÙØ±ÙÙÙØšÙ Ù ÙØ¬ÙÙÙØšÙ Ø§ÙØ¯ÙÙØ¹ÙÙÙØ©Ù
Ø±ÙØšÙÙÙÙØ§ ÙÙØ§ ØªÙØ²Ùغ٠ÙÙÙÙÙØšÙÙÙØ§ ØšÙØ¹ÙØ¯Ù Ø¥ÙØ°Ù ÙÙØ¯ÙÙÙØªÙÙÙØ§ ÙÙÙÙØšÙ ÙÙÙÙØ§ Ù ÙÙÙ ÙÙØ¯ÙÙÙÙÙ Ø±ÙØÙÙ ÙØ©Ù Ø¥ÙÙÙÙÙ٠أÙÙÙØªÙ اÙÙÙÙÙÙÙØ§ØšÙ
اÙÙÙÙÙÙÙ Ù٠إÙÙÙÙØ§ ÙÙØ³ÙØ£ÙÙÙÙ٠اÙÙÙØ¯ÙÙ ÙÙØ§ÙتÙÙÙÙÙ ÙÙØ§ÙعÙÙÙØ§ÙÙ ÙÙØ§ÙغÙÙÙÙ
اÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙ Ø£ÙØÙØ³ÙÙÙ Ø¹ÙØ§ÙÙØšÙتÙÙÙØ§ ÙÙÙ Ø§ÙØ£ÙÙ ÙÙØ±Ù ÙÙÙÙÙÙÙØ§ ÙÙØ£ÙØ¬ÙØ±ÙÙÙØ§ Ù ÙÙÙ Ø®ÙØ²ÙÙÙ Ø§ÙØ¯ÙÙÙÙÙÙØ§ ÙÙØ¹ÙØ°ÙØ§ØšÙ Ø§ÙØ¢Ø®ÙØ±ÙØ©Ù
اÙÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙ Ø£ÙØµÙÙÙØÙ ÙÙÙÙØ§Ø©Ù Ø£ÙÙ ÙÙÙØ±ÙÙÙØ§Ø اÙÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù ÙÙÙ ÙØ§ ÙÙÙÙÙ٠صÙÙÙØ§ØÙÙÙÙ Ù ÙÙØµÙÙÙØ§ØÙ اÙÙØ¥ÙسÙÙÙØ§Ù Ù ÙÙØ§ÙÙÙ ÙØ³ÙÙÙÙ ÙÙÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙ Ø£ÙØšÙØ¹ÙØ¯Ù عÙÙÙÙÙÙ Ù ØšÙØ·ÙاÙÙØ©Ù Ø§ÙØ³ÙÙÙÙØ¡Ù ÙÙØ§ÙÙÙ ÙÙÙØ³ÙدÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ±ÙÙØšÙ Ø¥ÙÙÙÙÙÙÙ٠٠أÙÙÙÙ٠اÙÙØ®ÙÙÙØ±Ù ÙÙØ§ÙÙÙÙØ§ØµÙØÙÙÙÙÙ ÙÙØ§ Ø±ÙØšÙ٠اÙÙØ¹ÙاÙÙÙ ÙÙÙÙÙ
Ø±ÙØšÙÙÙÙØ§ ÙÙØšÙ ÙÙÙÙØ§ Ù ÙÙÙ Ø£ÙØ²ÙÙÙØ§Ø¬ÙÙÙØ§ ÙÙØ°ÙرÙÙÙÙÙØ§ØªÙÙÙØ§ ÙÙØ±ÙÙØ©Ù Ø£ÙØ¹ÙÙÙÙÙ ÙÙØ§Ø¬ÙعÙÙÙÙÙØ§ ÙÙÙÙÙ ÙØªÙÙÙÙÙÙ٠إÙÙ ÙØ§Ù ÙØ§
Ø±ÙØšÙÙÙÙØ§ آتÙÙÙØ§ ÙÙÙ Ø§ÙØ¯ÙÙÙÙÙÙØ§ ØÙسÙÙÙØ©Ù ÙÙÙÙ٠اÙÙØ¢Ø®ÙØ±ÙØ©Ù ØÙسÙÙÙØ©Ù ÙÙÙÙÙÙØ§ Ø¹ÙØ°Ùاؚ٠اÙÙÙÙØ§Ø±Ù
ÙÙØµÙÙÙÙ٠اÙÙÙ٠عÙÙÙÙ ÙÙØšÙÙÙÙÙÙØ§ Ù ÙØÙÙ ÙÙØ¯Ù ÙÙØ¹ÙÙÙ٠آÙÙÙÙ ÙÙØµÙØÙØšÙÙÙ ÙÙ ÙÙÙ ØªÙØšÙعÙÙÙÙ Ù ØšÙØ¥ÙØÙØ³ÙØ§Ù٠إÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙ Ù Ø§ÙØ¯ÙÙÙÙ
ÙÙØ¢Ø®ÙØ±Ù Ø¯ÙØ¹ÙÙÙØ§ÙÙØ§ Ø£ÙÙ٠اÙÙØÙÙ ÙØ¯Ù ÙÙÙ Ø±ÙØšÙ٠اÙÙØ¹ÙاÙÙÙ ÙÙÙÙÙ
(rah/rah)












































Komentar Terbanyak
MUI: Nikah Siri Sah tapi Haram
Tolak Mundur dari Ketum PBNU, Gus Yahya Kumpulkan Ulama Malam Ini Tanpa Rais Aam
Gus Yahya Kumpulkan Alim Ulama di PBNU Malam Ini, Rais Aam & Sekjen Tak Diundang