Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) memaparkan, proses penilaian merupakan salah satu faktor mengapa hasil Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) baru bisa diberikan satu bulan setelah tes rampung. Penilaian dalam SNBT melibatkan proses scoring dan pembobotan. Kedua proses tersebut juga dilakukan oleh tim yang berbeda.
"Makanya, mengapa pelaksanaan UTBK itu ini kami sudah berusaha untuk padatkan dan 871.496 peserta UTBK (2026) itu selesai tanggal 2 Mei, pengumuman 25 Mei. Kami menggunakan sistem yang berbeda antara scoring dan bobot," ungkap Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Prof Dr Ir Eduart Wolok, dalam Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja (RDP Panja) Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru bersama Komisi X DPR RI, disiarkan melalui YouTube TVR Parlemen, ditulis Minggu (7/6/2026).
Perbedaan Scoring dan Pembobotan UTBK SNBT 2026
Eduart mengatakan panitia SNPMB akan melakukan validasi ulang jawaban per soal setelah UTBK selesai dilaksanakan. Panitia kemudian melakukan scoring. Namun, tim yang melakukan scoring pun tidak tahu nama dan nomor peserta yang sedang di-scoring.
"Jadi kalau saya di tim scoring, saya tidak tahu siapa nih yang saya periksa," ujar Ketua Majelis Rektor PTN Indonesia (MRPTNI) itu. Ia menegaskan bahwa tidak mungkin ada kecurangan dalam penilaian UTBK.
Setelah dilakukan scoring, panitia akan melakukan pembobotan berdasarkan ranking. Proses ini juga dilakukan oleh tim yang berbeda.
"Yang pasti skornya sekian, baru kemudian akan cocokkan ke tim untuk pembobotan. Itu tim yang berbeda," ucapnya.
Skor Tiap Subtes Dirinci
Pada sertifikat UTBK SNBT 2026, terdapat perincian skor dari setiap subtes. Sebagai contoh, dalam tes literasi dalam bahasa Indonesia (LBI), dipaparkan skor saintek dan soshum.
Pemecahan skor LBI khususnya, menurut Eduart, merupakan kebijakan berdasarkan evaluasi UTBK tahun lalu. Ia menyebut ada banyak masyarakat yang menganggap peserta dengan latar belakang saintek lebih diuntungkan ketika memilih prodi soshum.
"Untuk literasi dalam bahasa Indonesia itu kita turunkan dalam dua nilai, saintek dan soshum. Ini juga berdasarkan evaluasi tahun lalu, yang memunculkan pertanyaan bahwasanya misalnya anak-anak dari saintek itu akan lebih diuntungkan ketika memilih prodi soshum dan sebagainya," terang Eduart dalam konferensi pers Hasil SNBT yang digelar secara hybrid pada Senin (25/5/2026).
"Itu tidak akan terjadi. Semua sudah kita antisipasi dan agar supaya proses seleksi ini fair," lanjutnya.
Simak Video "Video Pelaku Curang UTBK di Unsulbar Beraksi Pakai Decoder dan KTP Palsu"
(nah/faz)