Dosen Unesa Sulap Limbah Daun Nanas Jadi Bahan Tekstil, Kok Bisa?

ADVERTISEMENT

Dosen Unesa Sulap Limbah Daun Nanas Jadi Bahan Tekstil, Kok Bisa?

Nikita Rosa - detikEdu
Kamis, 30 Jul 2026 06:00 WIB
Inty Nahari, dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
Inty Nahari, dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa). (Foto: Laman Resmi Unesa)
Jakarta -

Inty Nahari, dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa), berhasil mengembangkan limbah daun nanas menjadi bahan tekstil ramah lingkungan. Seperti apa prosesnya?

Pengajar di Program Magister Industri Kreatif FakultasVokasi itu awalnya melihat nasib daun nanas yang kerap berakhir sebagai limbah setelah buah dipanen. Faktanya, daun nanas menyimpan potensi sebagai material berkelanjutan di dalam industri kreatif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cara pandang inilah yang menjadi pijakan riset melalui karya tekstil Barik. Bagi Inty, riset ini bukan sekadar menghasilkan sebuah karya seni, tetapi juga menunjukkan bahwa material lokal Indonesia memiliki kemampuan dalam pemanfaatan limbah pertanian dan keberlanjutan.

Nama Barik berasal dari bahasa Jawa yang berarti garis. Namun bagi Inty, garis itu bukan sekadar unsur visual, tetapi juga menggambarkan jejak lingkungan tempat tanaman tumbuh.

ADVERTISEMENT

Ia mempertahankan keberagaman tekstur, warna, dan ketebalan setiap serat. Kemudian serat tersebut dipadukan dengan teknik tenunkluwung.

"Pertemuan antara pola tenun yang teratur dan karakter alami serat menghasilkan permukaan tekstil yang unik dan sulit direplikasi secara identik," ujarnya dalam laman Unesa dikutip Selasa (28/7/2026).

Inty memamerkan karya tekstil Barik itu di dalam pameran seni internasional "Becoming: Prakriti-Pustaka-Padma" yang berlangsung di Agung Rai Museum of Art (ARMA), di Bali.

Menurutnya, tekstil Barik yang berasal dari lingkungan lokal ini mampu menjawab percakapan global.

"Serat daun nanas dari kawasanKelud merupakan material yang sangat lokal, tetapi dapat membicarakan isu yang sedang menjadi perhatian dunia, seperti keberlanjutan, limbah pertanian, hubungan manusia dengan alam, serta perlunya menghargai kembali pengetahuan tradisional," terangnya.

Hasil penelitian tersebut membuka peluang yang jauh lebih luas dari karya pameran. Serat daun nanas berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari aksesori, elemen interior, hingga produk kriya.

Ke depan, Inty ingin memperluas jejaring riset mengenai serat alam Indonesia. Ia juga ingin mengembangkan pusat dokumentasi dan laboratorium yang mengkaji karakter material, teknik pengolahan, serta peluang hilirisasinya.



(nir/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads