Sekolah di Malaysia Tutup Akibat Asap Karhutla

ADVERTISEMENT

Sekolah di Malaysia Tutup Akibat Asap Karhutla

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 12 Okt 2026 15:30 WIB
A pedestrian crosses a street as the Prime Ministers Office is shrouded in haze from regional wildfires in Putrajaya, Malaysia, October 7, 2026. REUTERS/Hasnoor Hussain
Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain/Asap dari karhutla di Indonesia menyelimuti wilayah Malaysia.
Jakarta -

Asap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera telah meluas hingga ke Singapura dan Malaysia. Gangguan asap pekat mengakibatkan sekolah-sekolah di Malaysia terpaksa tutup karena kualitas udara yang buruk.

Menurut laporan The Straits Times, Kementerian Pendidikan Malaysia melakukan penutupan sekolah dan lembaga pendidikan di Negeri Sembilan, Selangor, Malaka, Johor, Pahang, dan Kuala Lumpur mulai Jumat (9/10/2026). Kebijakan ini ditetapkan usai sejumlah wilayah mencatatkan kualitas udara yang "tidak sehat" menurut Indeks Polusi Udara (API), sehingga kesehatan dan keselamatan siswa menjadi prioritas.

Dalam sebuah pernyataan, Departemen Pendidikan negara bagian mengatakan sekolah dialihkan ke pengajaran dan pembelajaran berbasis rumah (PdPR).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lembaga pendidikan yang terdampak harus menerapkan PdPR untuk memastikan keberlanjutan pembelajaran siswa," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Sekolah Dibuka Bertahap di Beberapa Wilayah

Mengutip Free Malaysia Today, sekolah-sekolah di sejumlah wilayah akan mulai dibuka pada Selasa (13/10/2026). Namun, sekolah di wilayah Johor dan empat distrik di Kuala Lumpur dan Selangor masih tetap ditutup karena asap.

ADVERTISEMENT

Menurut laporan Menteri Pendidikan Fadhlina Sidek, distrik yang terkena dampak yaitu Bangsar dan Pudu di Kuala Lumpur, serta Hulu Langat, Gombak, dan Petaling Perdana di Selangor. Kebijakan ini akan terus diperbarui oleh Kementerian Pendidikan seiring dengan membaiknya kualitas udara.

Meski begitu, berdasarkan Indeks kualitas udara (AQI) dan polusi udara PM2.5 di Malaysia per Senin 12 Oktober 2026 pukul 11.03, sejumlah wilayah masih mencatatkan kualitas udara yang "tidak sehat":

1. Klang

AQI US: 123 (Tidak sehat bagi kelompok sensitif)

2. Kuala Selangor

AQI US: 117 (Tidak sehat bagi kelompok sensitif)

3. Kuala Lumpur

AQI US: 113 (Tidak sehat bagi kelompok sensitif)

Singapura Juga Terdampak

Sementara itu, Singapura juga merasakan hal yang sama. Pada Jumat (9/10/2026), kualitas udara berada pada kisaran "tidak sehat". Kondisi ini membuat National Environment Agency (NEA) menyarankan warga Singapura untuk memeriksa tingkat PM2.5 setiap jam jika ingin melakukan aktivitas luar ruangan.

Pihak NEA menjelaskan bahwa kabut asap berasal dari Sumatera bagian selatan dan tengah serta Kalimantan Barat

"Dengan angin yang bertiup dari arah tenggara atau selatan, kabut asap mungkin akan terus bergerak menuju Singapura," ungkap NEA.

Risiko Asap Karhutla Masih Tinggi

Berdasarkan laporan dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) per Minggu (11/10/2026), hotspot masih terdeteksi di Sumatera dan Kalimantan. Kabut asap juga masih bergerak ke arah Malaysia dan Singapura.

Menurut peneliti ahli muda PRIMA, Ardhi Adhary Arbain, arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting dalam menyebarkan asap karhutla. Misalnya, hasil simulasi BRIN pada Agustus 2026 menunjukkan arah angin bergerak dominan menuju negara tetangga.

"Pada Agustus 2026, angin dominan bergerak dari tenggara dan berbelok ke arah timur laut setelah melewati ekuator. Pola tersebut memungkinkan PM2.5 dari sumber kebakaran di Indonesia terbawa menuju wilayah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina dan Thailand," terangnya, dikutip dari laman BRIN.



(faz/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads