Langit Kalimantan Merah Pekat Akibat Karhutla, Begini Penjelasan Ahli

ADVERTISEMENT

Langit Kalimantan Merah Pekat Akibat Karhutla, Begini Penjelasan Ahli

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 22 Sep 2026 12:00 WIB
Langit merah saat karhutla di Kalimantan
Langit merah Kalimantan. (Foto: Screenshot video X)
Jakarta -

Langit di sejumlah wilayah Kalimantan terlihat merah pekat berbarengan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, warna merah yang muncul bukan berarti langit berubah berwarna merah.

Jika dilihat secara sains, ada proses fisika di balik fenomena tersebut. Kondisi ini disebut dengan hamburan Mie atau Mie scattering.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada karhutla di Jambi di 2019 silam, Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Profesor Thomas Djamaluddin, menjelaskan fenomena langit memerah disebabkan oleh cahaya Matahari yang tidak bisa menembus asap.

"Hanya gelombang panjang (kuning dan merah) yang bisa menembusnya, lalu dihamburkan oleh partikel-partikel asap. Jadilah langit terlihat berwarna merah kekuningan," ujar profesor Djamal, yang saat itu menjabat sebagai Kepala LAPAN, dikutip dari arsip detik.com, Senin (21/9/2026).

ADVERTISEMENT

Nama hamburan Mie sendiri diciptakan oleh fisikawan Jerman, Gustav Adolf Feodor Wilhelm Ludwig Mie. Ia mengembangkan teori untuk menjelaskan hamburan cahaya oleh partikel berbentuk bola.

Warna Lain di Langit

Tidak hanya merah, cahaya Matahari juga mengalami jenis hamburan lain. Profesor Djamal menjelaskan, cahaya Matahari juga mengalami hamburan Rayleigh.

Kondisi ini terjadi ketika molekul-molekul udara menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek secara lebih kuat. Inilah salah satu alasan langit pada siang hari tampak biru.

Tapi saat cahaya Matahari melewati atmosfer yang dipenuhi partikel asap akibatkarhutla, hamburan Mie lebih berperan. Ukuran partikel asap yang mendekati panjang gelombang cahaya menyebabkan berbagai warna cahaya mengalami hamburan dengan karakteristik berbeda sehingga langit dapat terlihat kuning, jingga, hingga merah.

Jika partikel yang berada di udara berukuran lebih besar, hamburan dapat berlangsung lebih merata pada berbagai panjang gelombang. Kondisi ini disebut hamburan nonselektif.

Saat langit Kalimantan memerah saat karhutla, warna tersebut merupakan efek interaksi cahaya Matahari dengan partikel-partikel di atmosfer. Semakin tebal dan pekat asap, akan semakin kuat pengaruhnya terhadap cahaya.



(nir/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads