×
Ad

Indonesia Nomor 1 Gunakan AI untuk Belajar, AS dan China Lewat!

Kalila Untsa - detikEdu
Jumat, 11 Sep 2026 08:01 WIB
Ilustrasi penggunaan AI Foto: Getty Images/Prae_Studio
Jakarta -

Penggunaan perangkat kecerdasan buatan (AI) untuk pendidikan dan belajar menjadi salah satu pemanfaatan AI yang paling populer. Di Indonesia, proporsi responden yang menggunakan perangkat AI untuk kebutuhan pendidikan dan pembelajaran bahkan menjadi yang tertinggi dibandingkan sembilan negara lain dalam survei .

"Penggunaan AI untuk pendidikan paling banyak ditemukan di Indonesia dan India. Sebaliknya, penggunaannya relatif lebih rendah di negara-negara seperti Jerman dan Amerika Serikat," seperti dikutip detikEdu dari Statista, Jumat (11/9/2026).

Data survei Statista Consumer Insights menunjukkan 61 % responden di Indonesia menggunakan AI untuk pendidikan dan belajar dalam kehidupan pribadi. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi pertama, disusul India sebesar 57 % dan Afrika Selatan 56 %.

Di bawahnya terdapat Brasil dengan 44 %, China 42 %, Spanyol 30 %, Australia 26 %, Jerman 25 %, Amerika Serikat (AS) 22 %, dan Belanda 14 %. Survei tersebut dilakukan terhadap 500-4.300 responden berusia 18-64 tahun di masing-masing negara pada Januari-Juni 2026.

Berdasarkan Statista Consumer Insights, pendidikan dan pembelajaran termasuk dalam tiga besar penggunaan AI untuk kebutuhan pribadi seperti ChatGPT di sebagian besar negara yang disurvei.

Perbedaan persentase antarnegara juga lebih banyak mencerminkan tingkat penggunaan AI secara keseluruhan dibandingkan perbedaan jenis pemanfaatannya.
Di Amerika Serikat dan Jerman, misalnya, pendidikan dan pembelajaran menjadi penggunaan AI pribadi kedua yang paling populer setelah riset atau pencarian informasi secara daring.

Survei Statista penggunaan AI untuk belajar Foto: Dok. Statista

AI Bukan untuk Menggantikan Proses Berpikir

Seperti disampaikan Andreas Schleicher, Direktur Pendidikan dan Keterampilan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), dalam pengantarnya untuk laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2025

"Teknologi AI dapat memperkuat proses pembelajaran yang sudah ada, tetapi hanya jika siswa dibekali kemampuan kognitif dan metakognitif untuk menggunakannya secara bijak," kata Schleicher.

Dalam penggunaan AI, kemampuan kognitif membuat siswa tidak sekadar menerima jawaban yang diberikan mesin. Mereka perlu memahami persoalan, mengolah informasi yang diperoleh, membandingkan berbagai informasi, serta menilai apakah jawaban yang diberikan AI masuk akal dan didukung bukti.

Sementara kemampuan metakognitif agar siswa tidak langsung menerima jawaban AI sebagai kebenaran. Mereka menyadari bahwa AI adalah alat yang dapat membantu proses berpikir, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa, dipertanyakan, dan dievaluasi.

Schleicher juga menekankan, AI seharusnya digunakan sebagai alat untuk membantu berpikir, bukan menggantikan proses berpikir.



Simak Video "Video AI Bikin Konsumsi Air Dunia Melejit: Dampaknya Bisa Kekeringan!"


(pal/pal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork