×
Ad

Fenomena Scroll Society Pada Generasi Muda RI Disorot, Apa Itu?

Devita Savitri - detikEdu
Sabtu, 07 Mar 2026 14:00 WIB
Ilustrasi Foto: DW (News)
Jakarta -

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti soroti fenomena scroll society yang terjadi pada generasi muda di Indonesia. Fenomena apa itu?

Scroll society dijelaskan sebagai kebiasaan terus menggulir layar ponsel untuk mengonsumsi informasi, bermain, dan berinteraksi sosial daring secara terus-menerus. Akibatnya, seseorang tidak memahami makna informasi yang mereka dapat di ranah digital secara utuh.

Kebiasaan ini menciptakan budaya instan, di mana konten yang dicari biasanya singkat, padat, dan berujung memicu kecanduan. Kecanduan pada konten instan ini menurut Menteri Mu'ti merupakan ancaman nyata bagi generasi muda.

Proses berpikir anak-anak bisa menjadi lambat akibat terbiasa dengan informasi singkat tanpa analisis yang jelas. Selain itu, mereka juga akan lamban dalam mengeksekusi dan kehilangan inisiatif di dunia.

ti sebut generasi muda terancam oleh fenomena scroll society, apa itu?" title="Mendikdasmen Abdul Mu'ti" class="p_img_zoomin" />Mendikdasmen Abdul Mu'ti sebut generasi muda terancam oleh fenomena scroll society, apa itu? Foto: BKHM Kemendikdasmen

Pada akhirnya, generasi muda bisa menjadi generasi yang lemah atau mudah menyerah. Alih-alih mencari solusi konkret, mereka akan memilih mengadu di media sosial.

"Masyarakat saat ini mahir mengusap layar namun tidak mencerna makna, yang berujung pada rendahnya Digital Civility Index," kata Menteri Mu'ti pada keterangan tertulisnya dikutip, Sabtu (7/3/2026).

Digital Civility Index

Melansir laman Indonesia Baik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Digital Civility Index (DCI) merupakan laporan yang dikeluarkan Microsoft pada 2020. Laporan itu mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya.

Sebanyak 16 ribu responden dari 32 negara ikut ambil peran dalam laporan tersebut. Dari jumlah tersebut, sebanyak 503 responden survei berasal dari Indonesia.

Proses penelitian dilakukan pada April dan Mei 2020, namun baru dipublikasi Mei 2021. Selama survei berlangsung, responden ditanyai soal keterpaparan mereka terhadap 21 risiko online di empat kategori, yakni perilaku, seksual, reputasi, dan pribadi/mengganggu.

Hasilnya, dijabarkan bila netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara. Artinya, warganet Indonesia merupakan netizen paling tidak sopan di Asia Tenggara.

Indonesia memiliki poin 76 dari skala 100, di mana semakin tinggi angkanya, tingkat kesopanan dinilai semakin buruk. Netizen paling sopan di Asia Tenggara berdasarkan laporan ini berasal dari Singapura yang juga menempati peringkat keempat secara global.

Rendahnya DCI menurut Mu'ti karena adanya ketimpangan budaya atau cultural lag. Ketimpangan ini mengartikan kondisi di mana kecanggihan teknologi tidak dibarengi dengan kedewasaan perilaku digital.



Simak Video "Video: Fenomena Scroll Society pada Generasi Muda RI Disorot, Apa Itu?"

(det/pal)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork