Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti soroti fenomena scroll society yang terjadi pada generasi muda di Indonesia. Fenomena apa itu?
Scroll society dijelaskan sebagai kebiasaan terus menggulir layar ponsel untuk mengonsumsi informasi, bermain, dan berinteraksi sosial daring secara terus-menerus. Akibatnya, seseorang tidak memahami makna informasi yang mereka dapat di ranah digital secara utuh.
Kebiasaan ini menciptakan budaya instan, di mana konten yang dicari biasanya singkat, padat, dan berujung memicu kecanduan. Kecanduan pada konten instan ini menurut Menteri Mu'ti merupakan ancaman nyata bagi generasi muda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses berpikir anak-anak bisa menjadi lambat akibat terbiasa dengan informasi singkat tanpa analisis yang jelas. Selain itu, mereka juga akan lamban dalam mengeksekusi dan kehilangan inisiatif di dunia.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti sebut generasi muda terancam oleh fenomena scroll society, apa itu? Foto: BKHM Kemendikdasmen |
Pada akhirnya, generasi muda bisa menjadi generasi yang lemah atau mudah menyerah. Alih-alih mencari solusi konkret, mereka akan memilih mengadu di media sosial.
"Masyarakat saat ini mahir mengusap layar namun tidak mencerna makna, yang berujung pada rendahnya Digital Civility Index," kata Menteri Mu'ti pada keterangan tertulisnya dikutip, Sabtu (7/3/2026).
Digital Civility Index
Melansir laman Indonesia Baik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Digital Civility Index (DCI) merupakan laporan yang dikeluarkan Microsoft pada 2020. Laporan itu mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya.
Sebanyak 16 ribu responden dari 32 negara ikut ambil peran dalam laporan tersebut. Dari jumlah tersebut, sebanyak 503 responden survei berasal dari Indonesia.
Proses penelitian dilakukan pada April dan Mei 2020, namun baru dipublikasi Mei 2021. Selama survei berlangsung, responden ditanyai soal keterpaparan mereka terhadap 21 risiko online di empat kategori, yakni perilaku, seksual, reputasi, dan pribadi/mengganggu.
Hasilnya, dijabarkan bila netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara. Artinya, warganet Indonesia merupakan netizen paling tidak sopan di Asia Tenggara.
Indonesia memiliki poin 76 dari skala 100, di mana semakin tinggi angkanya, tingkat kesopanan dinilai semakin buruk. Netizen paling sopan di Asia Tenggara berdasarkan laporan ini berasal dari Singapura yang juga menempati peringkat keempat secara global.
Rendahnya DCI menurut Mu'ti karena adanya ketimpangan budaya atau cultural lag. Ketimpangan ini mengartikan kondisi di mana kecanggihan teknologi tidak dibarengi dengan kedewasaan perilaku digital.
Dihadapi dengan Deep Learning
Fenomena tersebut menurut Menteri Mu'ti bisa dihadapi dengan transformasi sistem pendidikan nasional. Penyampaian materi pada murid bukan hanya dilakukan di "permukaan".
Murid seharusnya bisa memahami materi secara mendalam. Untuk itu, hadirlah kebijakan Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning.
Deep learning menekankan kedalaman pemahaman murid terhadap materi yang dipelajari melalui tiga prinsip. Ketiga prinsip tersebut adalah mindful (berkesadaran), meaningful (bermakna), dan joyful (menggembirakan).
"Kita mendorong agar siswa tidak mengejar banyaknya materi saja, yang lebih penting adalah memastikan siswa benar-benar memahami apa yang dipelajari," ujarnya.
Menteri Mu'ti tak bisa memandang sebelah mata kebutuhan dunia kerja saat ini. Menurutnya, murid perlu memiliki kemampuan dasar, seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.
Selain itu, mereka juga penting memiliki kemampuan berpikir analitis dan kemampuan khusus lain, seperti bidang artificial intelligence (AI) dan koding.
"Oleh sebab itu, kita ajarkan hal ini sejak di sekolah", imbuhnya.
Melalui deep learning, pendidikan diharapkan bisa membuat murid tidak hanya terbiasa mengonsumsi informasi secara cepat. Tetapi, mereka juga diharapkan mampu memahami maknanya.
"Pendidikan diharapkan melahirkan peserta didik yang tidak hanya terbiasa mengonsumsi informasi secara cepat, tetapi juga mampu berpikir kritis, memahami secara mendalam, dan menghasilkan solusi bagi tantangan masa depan," tandas Menteri Mu'ti.
Simak Video "Video: Fenomena Scroll Society pada Generasi Muda RI Disorot, Apa Itu?"
[Gambas:Video 20detik]
(det/pal)












































