ADVERTISEMENT

Inovasi Kepala SD Inpres, Bikin Market Day agar Anak Pedagang Kembali Sekolah

Nikita Rosa Damayanti - detikEdu
Rabu, 15 Jun 2022 11:00 WIB
Pemkab Brebes larang sekolah pakai plastik di kantin sekolah, Rabu (2/10/2019).
Ilustrasi suasana kantin sekolah. Foto: Imam Suripto/detikcom
Jakarta -

Pertemuan Tatap Muka telah dimulai, berbagai cara telah sekolah tempuh untuk mengajak murid kembali belajar. Salah satunya SD Inpres di Makassar, Sulawesi Selatan.

Kepala sekolah SD Inpres, Asia Bau, menjelaskan sulitnya mengajak siswa kembali bersekolah. Ia menuturkan bahwa siswa-siswanya berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah.

"Siswa sebagian besar adalah pekerja pemulung dan pekerja serabutan," ujar Asia Bau dalam Webinar Pemulihan Layanan Pendidikan Dampak Pandemi Covid-19 via Youtube Kemendikbud RI, Selasa (14/6/2022).

Lanjutnya, antusiasme dan motivasi belajar siswa sangatlah kurang terlebih setelah pandemi Covid-19. Siswa lebih memilih membantu orang tuanya dengan berjualan dibanding berangkat ke sekolah. Untuk mengatasi hal ini, Asia bersama rekan-rekan guru melakukan sosialisasi guna mengajak anak-anak kembali ke sekolah dengan kegiatan Market Day.

"Karena kami adalah salah satu sekolah penggerak, jadi kami mencoba kegiatan salah satunya adalah kegiatan Market Day yaitu menggalang, menghimpun siswa-siswa kami yang penjual-penjual itu melakukan penjualannya di sekolah," tutur Kepala Sekolah SD Inpres itu.

Guru-guru kemudian menyiapkan fasilitas berupa meja tempat para siswa bisa menjajakan penjualannya. Mereka mengusung konsep 'Kantin Kejujuran'. Siswa akan menyimpan dagangannya di tempat yang tersedia kemudian siswa lain yang akan membeli.

Sayangnya, dengan jumlah siswa yang sedikit tidak memberikan keuntungan yang signifikan bagi siswa yang berjualan. Akhirnya siswa-siswa tersebut tetap mencari nafkah keluar dan meninggalkan pembelajaran di kelas.

Dalam Webinar yang dihadiri oleh Jumeri selaku Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen PAUD Dikdasmen Kemendikbud), Jumeri memberikan apresiasi dan solusi bagi permasalahan yang dihadapi SD Inpres.

"Saya salut dengan ikhtiar ibu untuk inovasi pembelajaran. Memang untuk menghadapi anak-anak yang mengalami putus sekolah saja tidak mudah, tapi langkah yang diambil oleh ibu sudah betul yaitu door to door. Memanggil kembali anak datang ke sekolah," apresiasi Jumeri.

Ia kemudian menyarankan SD Inpres untuk mengajukan Program Indonesia Pintar (PIP) bagi siswa yang terhalang biaya untuk melanjutkan sekolah. Seperti dikutip dalam laman resminya, PIP adalah bantuan berupa uang tunai, perluasan akses, dan kesempatan belajar dari pemerintah yang diberikan kepada peserta didik dan mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin atau rentan miskin untuk membiayai pendidikan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP).

"Nah boleh jadi ibu bisa mengajukan kuota PIP Program Indonesia Pintar apabaila anak itu belum mendapatkan PIP dan orang tuanya tidak mampu," jelas Jumeri.

Kemudian untuk mengajak anak sekolah, Ditjen PAUD Dikdasmen itu mengusulkan pembelajaran yang lebih bervariasi.

"Artinya apa? bervariasi itu kalau anak hanya itu jualan di pagi hari coba kita layani [ajak belajar] di siang hari," ujar Jumeri.

Ia menceritakan terdapat sekolah dengan sistem serupa yaitu Sekolah Terminal Bus di Tegal. Anak-anak yang belajar di sana dipersilahkan untuk jualan dahulu sebelum mengikuti kelas.

"Kemudian tadi ada ibu sebagai Sekolah Penggerak, tentu telah menerapkan Kurikulum Merdeka. Pembelajaran lebih transformatif, lebih variatif, metodologinya lebih menarik anak- anak. Harapan yang bisa juga menarik anak-anak untuk lebih senang di sekolah," jelas Jumeri.

Lanjutnya, metodologi pembelajaran bisa disesuaikan dengan kearifan lokal. Jika daerah erat dengan usaha perdagangan, maka guru bisa mencoba project based learning.

"Kita [bisa] menciptakan project base learning, pembelajaran berbasis proyek tetapi mengarah kepada sektor ekonomi," tandas Jumeri.



Simak Video "Prilly Latuconsina Ungkap Impian yang Belum Terwujud"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia