Kisah Sukses Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di Kota Sorong, Papua Barat

Rosmha Widiyani - detikEdu
Kamis, 01 Apr 2021 16:11 WIB
School students  using hand sanitizer after entering a classroom.
Foto: Getty Images/izusek/Kisah Sukses Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di Kota Sorong, Papua Barat
Jakarta - Pembelajaran Tatap Muka atau PTM terbatas adalah opsi yang wajib diberikan sekolah pada murid dan orang tuanya, jika semua guru dan tenaga kependidikan sudah divaksinasi. Kewajiban ini tertuang dalam SKB empat menteri yang dijelaskan Mendikbud pada Selasa (30/3/2021).

PTM terbatas ternyata telah diselenggarakan di SD Inpres Klasaman, Kota Sorong, Provinsi Papua Barat. Penerapan PTM terbatas dilaksanakan sejak 17 Maret 2021 sebelum SKB empat menteri tentang akselerasi pembelajaran tatap muka diterbitkan pemerintah.

"Kami sejak 17 Maret 2021 sudah membuka sekolah tatap muka berdasarkan surat edaran bapak wali kota hingga sekarang. Sebagai guru, saya antusias dengan kebijakan yang diambil bapak menteri dan walikota," kata guru olahraga SD Inpres Klasaman Aswin Anwar Kadir, SPd.

Kebijakan PTM terbatas tentunya tidak dilaksanakan jika kondisi sekolah tidak kondusif. Aswin mengatakan, pihaknya membuat kesepakatan lebih dulu dengan orang tua. Orang tua kemudian menandatangani surat pernyataan tidak atau bersedia mengembalikan anaknya ke sekolah.

Hasilnya 98 persen orang tua setuju anaknya kembali ke sekolah. Dengan dasar itulah PTM terbatas resmi dilaksanakan di SD Inpres Klasaman. Dalam praktik PTM terbatas sehari-hari, sekolah membagi siswanya menjadi shift pagi dan siang.

"Shift pagi jam 07.30-09.30 untuk siang pukul 09.45-11.45. Maksimal 1 shift 16 siswa. Karena satu kelas ada 40 siswa, kita membaginya menjadi tiga kelompok," kata Aswin dalam siaran YouTube berjudul Dialog Produktif Kabar Kamis Persiapan Pembelajaran Tatap Muka, Kamis (1/4/2021).

Siaran tersebut yang ditayangkan di channel YouTube FMB9ID_ IKP. Dengan pembagian tersebut, tiap kelompok bergantian datang ke sekolah sesuai jadwalnya. Kelas 1, 2, dan 3 dijadwalkan masuk sekolah pada Senin, Rabu, dan Jumat.

Kelas 4 dan 5 masuk sekolah di hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Sedangkan kelas 6 yang akan menghadapi ujian kelulusan harus masuk setiap hari. Dengan penjadwalan dan selang waktu antar shift, sekolah berusaha menekan risiko anak bertemu teman-temannya saat masuk sekolah.

Aswin mengatakan, awalnya sekolah was-was saat kali pertama membuka kembali sekolah dengan metode PTM terbatas. Pasalnya, sekolah harus bisa mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan para guru, murid, dan tenaga kependidikan. Protokol harus dilakukan dengan disiplin untuk mencegah penularan COVID-19.

"Kita sangat deg-degan. Pemkot sudah menghimbau supaya kita datang sebelum siswa. Kita datang jam 6, siapkan dulu jaga jarak sejak mau masuk sekolah. Lalu suhu diukur, dalam kelas dibatasi, cuci tangan, jika sudah lengkap maka siap tatap muka," kata Aswin.

Persiapan dan disiplin yang dilakukan SD Inpres Klasaman didukung pemerintah setempat. Menurut Aswin tiap hari pasti ada unsur pemerintah, legislatif, atau satgas COVID-19 yang mengunjungi dan mengawasi sekolah. Dengan upaya saling menjaga, PTM terbatas bisa dilakukan di sekolah.

Simak Video "Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Tetap Dilaksanakan, Namun..."
[Gambas:Video 20detik]
(row/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia