Kisah Nesti Dirikan Taman Baca di Kediri hingga Dikira Jualan Buku

Anatasia Anjani - detikEdu
Kamis, 05 Mei 2022 14:00 WIB
Taman Baca Halaman Baca
Taman Baca Halaman Baca.Foto: Nesti C Nagari
Jakarta -

Anak-anak di Kediri masih belum memiliki akses untuk membaca buku-buku berkualitas. Mereka hanya mengetahui buku-buku pelajaran saja tanpa tahu jenis bacaan buku lainnya.

Itulah yang mendasari Nesti C. Nagari bersama empat rekannya yakni, Elvara Ika Yandini, Fadhlin Ahda Sabila, Yusuf Kurniawan, dan Ikhbal Mustofa untuk mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM) di Kediri. Pendirian TBM Halaman Baca ini dilakukan sejak tahun 2017.

"Aku dulu merasa banyak berkegiatan sosial di Malang tapi merasa belum punya kontribusi nyata untuk kampung halaman," ujar Nesti kepada detikEdu, Kamis (28/4/2022).

Nesti dan keempat kawannya juga merasa hanya ia yang memiliki akses terhadap buku bacaan berkualitas. Hal itu berlangsung dari dirinya kecil hingga dewasa.

"Dulu saat kecil, rasanya cuma aku yang punya akses ke buku-buku berkualitas. Soalnya saat itu langganan beberapa majalah dan selalu punya agenda rutin belanja buku ke Kota Kediri atau Malang teman-temanku tidak punya privilese yang sama," papar Nesti.

Mirisnya setelah berjalan belasan tahun, anak-anak di Kediri masih kesulitan mendapatkan buku bacaan berkualitas. Mereka hanya tahu buku-buku pelajaran saja atau buku-buku lama di perpustakaan sekolah.

"Selain sulitnya akses, juga tidak ada pembaharuan metode mengenalkan bacaan kepada anak-anak. Pada awalnya, aku bergerak bersama sekitar 4 temanku SD/SMP/SMA yang sebenarnya sama-sama merantau untuk kuliah tapi sepakat berkegiatan bersama saat pulang kampung," ujar Nesti.

Sering Dikira Jualan Buku

Taman Baca Halaman BacaTaman Baca Halaman Baca Foto: Nesti C Nagari

Selain membuka TBM, salah satu kegiatan Halaman Baca adalah melapak buku-buku anak pada akhir pekan. Lucunya, Nesti bercerita mereka sering dikira berjualan buku dan menghasut anak-anak agar membeli buku di lapak Halaman Baca.

"Yang paling sering sih dikira jualan buku dan dikira menghasut anak-anak orang buat ke lapak kami dan orang tua mereka mengira biar anak-anak mereka beli buku kami. Jadi anaknya dilarang ke lapak atau perpustakaan kami," papar Nesti.


Adapun, Nesti bercerita kegiatan TBM Halaman Baca cukup beragam seperti melapak di beberapa tempat. Ada juga mendongeng, membuka bioskop mini, piknik di lapangan desa, dan melakukan kolaborasi kegiatan bersama komunitas-komunitas lain.

Walaupun sudah berjalan 4 tahun, TBM ini masih jauh dari bantuan pemerintah.

"Sejauh ini belum ada bantuan dari pemerintah. Namun kemarin sempat melakukan diskusi rencana kegiatan bersama dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Kediri, cuma belum ada tindak lanjut," ujar Nesti.

Antusiasme Anak-Anak Terhadap TBM

Nesti bercerita anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan di TBM. Meskipun begitu, antusiasme anak-anak sempat terhalang karena adanya pandemi.

"Sejauh ini anak-anak antusias ketika mengikuti kegiatan di TBM. Namun, semenjak pandemi ini kami seperti memulai lagi dari awal promosi-promosi kegiatan ke anak-anak. Karena anak-anak banyak yang lebih sering bermain dengan gawai," ujar Nesti.

Saat ini tim Taman Baca Masyarakat sedang merancang kembali kegiatan-kegiatan yang lebih kreatif untuk menarik perhatian anak-anak. Ia berharap kedepannya anak-anak terus memiliki semangat baca.

"Saya berharap anak-anak memiliki pengetahuan dan wawasan lebih dari apa yang mereka dapatkan selama ini. Baik melalui buku, film-film berkualitas, maupun interaksi dengan kakak-kakak penggerak TBM Halaman Baca," papar Nesti.



Simak Video "Cerita Horor Aksi Pelaku Pembacokan Membabi Buta di Kediri"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/rah)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia