Universitas Indonesia (UI) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja penelitian di tengah keterbatasan pendanaan riset pemerintah. Salah satunya dengan menjajaki sumber pembiayaan alternatif untuk menopang kegiatan penelitian di lingkungan kampus.
Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI Hamdi Muluk mengatakan, penguatan ekosistem riset menjadi salah satu fondasi utama dalam upaya tersebut. Ia mengakui, UI masih perlu memperkuat transformasi untuk menjadi universitas riset atau research university.
"UI selama ini masih belum sepenuh hati untuk melakukan transformasi menjadi research university," ujarnya dalam podcast UI bersama sejumlah perwakilan media, Kamis (8/10/2026)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam konsep research university, dosen tidak hanya menjalankan tugas pengajaran, tetapi juga aktif mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penelitian. Dosen sebagai akademisi atau scholar harus terus memperbarui pengetahuan dan menyampaikan hasil penelitiannya kepada mahasiswa.
Hal ini diperlukan agar materi pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, baik secara teoretis maupun dalam penerapannya.
"Nah, jadi kalau research university, dosen itu ya harusnya menjadi scholar. Scholar artinya dia mengajar juga, pasti mengajar dan mengajarkan hasil risetnya di kelas, tapi yang lebih utama dia eager untuk terus memperbarui pengetahuan, mencari pengetahuan baru, meriset lagi karena ilmu pengetahuan berkembang terus," kata Hamdi.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, UI mendorong seluruh dosen untuk bergabung dengan kelompok riset atau laboratorium pada 2025. Kebijakan ini diperkuat melalui Peraturan Rektor UI Nomor 6 Tahun 2025 tentang Kelompok Riset/Laboratorium UI.
Keberadaan kelompok ini diharapkan menjadi wadah bagi dosen untuk menjalankan penelitian sekaligus membangun kolaborasi dengan peneliti lain. Namun, menurut Hamdi, pembentukan kelompok riset perlu diiringi dengan dukungan pendanaan yang memadai.
"Jadi dia (dosen) harus meneliti. Pendanaannya kita carikan," ujarnya.
Pendanaan Riset Pemerintah Terbatas
Hamdi menilai keterbatasan pendanaan penelitian menjadi tantangan bagi perguruan tinggi Indonesia. Ia membandingkan belanja riset Indonesia dengan negara-negara maju yang mengalokasikan porsi produk domestik bruto (PDB) lebih besar untuk kegiatan penelitian dan pengembangan.
Menurut Hamdi, alokasi dana riset Indonesia yang pernah berada di sekitar 0,24% dari PDB masih jauh dibandingkan negara maju yang, menurut keterangannya, dapat mengalokasikan sekitar 4-5% dari PDB untuk riset.
Ia juga mencontohkan besarnya belanja penelitian di sejumlah universitas di Hong Kong dan China. Hamdi menyebut satu universitas di kawasan tersebut dapat mengeluarkan dana riset sekitar Rp 30 triliun hingga Rp 40 triliun.
Sementara itu, menurut Hamdi, total dana riset di Indonesia sekitar Rp 11 triliun dan harus dibagi ke banyak perguruan tinggi.
"Rp 30-40 triliun sendiri satu universitas. Nah, kita satu republik ini cuma Rp 11 triliun, itu pun dibagi-bagi ke sekian ribu universitas," ujarnya.
Hamdi mengakui UI tetap membutuhkan dukungan pendanaan pemerintah. Namun, dengan keterbatasan anggaran yang tersedia, universitas perlu memperluas sumber pembiayaan agar kegiatan penelitian tetap berjalan dan berkembang.
Perkuat Pusat dan Klaster Riset
Salah satu strategi UI adalah memperkuat pusat dan klaster riset, kemudian membangun reputasinya agar mampu bersaing memperoleh hibah penelitian berskala besar, termasuk dari lembaga pendanaan internasional.
Hamdi menjelaskan, UI memiliki lingkungan pendukung riset melalui Science Techno Park. Fasilitas tersebut diarahkan untuk membantu menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri sehingga riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah.
Dari kerja sama tersebut, UI berpeluang memperoleh pemasukan melalui kolaborasi riset dengan industri, lisensi kekayaan intelektual, serta penjualan produk hasil penelitian. Pemasukan itu kemudian dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan riset.
"Dari situ kita dapat pemasukan dari hasil kolaborasi riset industri, ada intellectual property kita lisensikan, ada hak-hak intelektual, ada produk yang kita jual. Itu untuk kembali lagi ke biaya riset," kata Hamdi.
Melalui strategi tersebut, UI ingin membangun kelompok riset yang memiliki reputasi dan kapasitas memadai untuk mengajukan proposal hibah penelitian berskala besar. Reputasi yang kuat diharapkan dapat menarik minat lembaga pendanaan asing untuk mendukung penelitian di laboratorium UI.
"Itu strategi yang membuat performance riset kita di baik di THE WUR maupun QW WUR cukup naik bagus. Ke depan kami akan tingkatkan lagi reputasi ini. Supaya nanti pemberi dana mancanegara tertarik untuk memberikan dana riset grand ke lab-lab UI ini. Karena kita sudah melakukan transformasi, kita sudah siap menjadi research university," ujar Hamdi.
Seperti diketahui, peringkat UI dalam sistem pemeringkatan Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027 naik signifikan. Sebelumnya UI masuk dalam klaster 801-1000, pada THE WUR 2027 naik ke kelompok 651-700.
Dalam pemeringkatan THE WUR, aspek penelitian dinilai melalui dua pilar utama, yakni research quality (kualitas penelitian) dan research environment (lingkungan penelitian). Pada kedua indikator tersebut, UI mencatat peningkatan skor dibandingkan tahun sebelumnya. Skor UI untuk pilar research quality naik 7,5 poin, sedangkan skor research environment meningkat 5,2 poin.
Jajaki Pendanaan dari CSR dan Dana Abadi
Selain itu, UI berupaya memperluas kolaborasi dengan industri dan pemerintah. Kerja sama tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan produk, tetapi juga mendorong penelitian yang dapat digunakan untuk menyusun kebijakan publik.
Hamdi mengatakan, UI mendorong kajian kebijakan serta penelitian yang melibatkan masyarakat atau community engagement. Menurut dia, riset perguruan tinggi perlu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus membuka peluang memperoleh dukungan pendanaan dari berbagai pihak.
Salah satu sumber yang dapat dijajaki adalah dana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility(CSR). Dana tersebut berpotensi mendukung penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat maupun program perusahaan.
Hamdi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk ikut mendukung pembiayaan riset UI, termasuk melalui dana abadi universitas. Menurut dia, dana abadi dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan jangka panjang, dengan sebagian hasil pengelolaannya dialokasikan untuk mendukung penelitian.
Simak Video "Video Pakar UI Bicara Penguatan Kontra Intelijen Nasional"
[Gambas:Video 20detik] (pal/faz)
