Isu UI Prioritaskan Lulusan Pesantren, Kampus Buka Suara

ADVERTISEMENT

Isu UI Prioritaskan Lulusan Pesantren, Kampus Buka Suara

pal - detikEdu
Jumat, 09 Okt 2026 11:30 WIB
Ilustrasi Kampus UI, Depok
Kampus UI, Depok Foto: Grandyos Zafna/detikFOTO
Jakarta -

Universitas Indonesia (UI) menanggapi pernyataan Suzie Sudarman yang menyebut kampus tersebut memprioritaskan calon mahasiswa lulusan pesantren dalam penerimaan mahasiswa baru.

Isu tersebut mencuat setelah Suzie, yang pernah menjadi dosen Ilmu Hubungan Internasional UI, menyampaikan pernyataan dalam sebuah siniar atau podcast bersama Gita Wirjawan. Dalam perbincangan itu, Suzie mengklaim lulusan pesantren mendapat prioritas untuk masuk UI.

"Kriteria masuk UI adalah pesantren harus dinomorsatukan masuk. Masyaallah. Sudah enggak ada testing-testing," kata Suzie dalam siniar tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan itu turut menyinggung kebocoran soal dalam proses penerimaan mahasiswa baru oleh sebuah institusi bimbingan belajar.

ADVERTISEMENT

Menanggapi pernyataan tersebut, Wakil Rektor UI Bidang Riset dan Inovasi Prof Dr Hamdi Muluk, MSi menegaskan pendapat yang disampaikan oleh individu tidak serta-merta mewakili sikap resmi universitas.

"UI menjamin setiap civitas akademika atas nama pribadi punya opini, punya pendapat. Itu susah kita misalnya kita hentikan, enggak boleh ngomong, kan enggak bisa juga. Harus saya disclaimer sekarang, itu pasti bukan pernyataan UI," ujar Hamdi dalam sebuah siniar UI dengan media pada Kamis (8/10/2026).

Hamdi juga menyebut Suzie telah pensiun dari UI pada 2017. Menurut dia, hal tersebut perlu menjadi konteks dalam menilai pernyataan yang disampaikan Suzie, terutama jika berkaitan dengan kondisi kampus saat ini.

"Tapi yang penting sudah pensiun 2017. Nah, orang pensiun berarti kan tidak banyak lagi engagement-nya dengan UI. Tidak update-lah," kata guru besar Fakultas Psikologi UI tersebut.

Hamdi mengaku tidak mengetahui dasar yang digunakan Suzie untuk menyampaikan klaim tersebut. Ia juga mempertanyakan apakah pernyataan itu bersumber dari informasi yang dapat diverifikasi atau sekadar kabar yang beredar.

"Saya tidak tahu juga ini apakah dasar beliau ngomong itu apakah mendengar hanya selentingan. Tapi saya sempat lihat podcast-nya itu kayak bawa-bawa teori konspirasi cara berpikirnya gitu loh," ujar Hamdi.

Menurut Hamdi kehidupan akademik harus berbasiskan pada bukti dan data, bukan rumor yang kemudian disebarluaskan tanpa verifikasi. "Kalau enggak ada evidence-nya, enggak bisa, jadinya rumor. Terus digoreng-goreng," katanya.

Proses penerimaan mahasiswa baru tidak dapat dinilai berdasarkan kabar yang belum memiliki bukti pendukung. Setiap kursi yang didapatkan oleh mahasiswa UI didasarkan oleh prinsip penerimaan yang berintegritas. "Jadi jangan menghembuskan isu-isu yang tidak berdasar," ujarnya.

Hamdi menegaskan, UI menjunjung prinsip inklusivitas. Praktik penerimaan mahasiswa yang mengistimewakan suatu kelompok tentu saja tidak sejalan dengan prinsip tersebut. Menurutnya, praktik semacam itu juga dapat merusak reputasi kampus.

"Yang jelas per hari ini reputasi UI itu sudah terbukti nyata. Itu enggak mungkin kalau itu terjadi, itu pasti memengaruhi reputasi UI. Reputasi UI hancur itu. Karena itu berarti tidak memenuhi syarat inklusivitas," ujarnya.

Prinsip penerimaan mahasiswa baru di UI telah diatur melalui Peraturan Rektor UI Nomor 9 Tahun 2022. Aturan tersebut menyebut terdapat empat prinsip yang menjadi dasar proses tersebut, yakni objektif, transparan, akuntabel, dan pemerataan.

Ia juga menanggapi pernyataan mengenai dugaan kelompok tarbiyah menguasai kegiatan mahasiswa serta adanya lembaga yang memperoleh keistimewaan dalam penerimaan mahasiswa baru dan dosen.

Hamdi menyebut tidak mengetahui apakah isu tersebut merujuk pada peristiwa masa lalu atau kondisi yang diklaim terjadi saat ini. "Saya tidak tahu ya apakah itu mungkin flashback-nya panjang lagi. Oh, itu mungkin kejadian 20 tahun yang lalu. Ya sudah, enggak tahu saya," katanya.

Ia menjelaskan UI merupakan ruang akademik yang mempertemukan mahasiswa dan dosen dari berbagai daerah, latar belakang suku, serta keyakinan. Lingkungan tersebut, menurut Hamdi, harus dijaga agar seluruh sivitas akademika memperoleh kesempatan yang setara.

"UI itu harus berdiri di atas semua golongan, apa pun keyakinannya, mau apa pun agama, sukunya. Karena ini Indonesia, tempat melting pot. Semua orang ketemu," kata Hamdi.



(pal/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads