Publikasi di Jurnal 'Predator', Dosen UI Bisa Kena Sanksi?

ADVERTISEMENT

Publikasi di Jurnal 'Predator', Dosen UI Bisa Kena Sanksi?

Pasti Liberti Mappapa - detikEdu
Jumat, 09 Okt 2026 19:31 WIB
Ilustrasi Kampus UI, Depok
Kampus UI Depok Foto: Grandyos Zafna/detikFOTO
Jakarta -

Universitas Indonesia (UI) memperketat kebijakan publikasi ilmiah dengan membatasi pendanaan riset internal untuk jurnal bereputasi tinggi, yakni jurnal top-tier atau kuartil pertama (Q1). Tak hanya itu, dosen yang menerbitkan artikel di jurnal predator juga terancam mendapat sanksi, meski menggunakan biaya sendiri.

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI Hamdi Muluk mengatakan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya kampus meningkatkan kualitas penelitian dan reputasi akademik agar mampu bersaing di tingkat global.

"Jadi sekarang kita lebih keras. Dan kadang-kadang ini kita agak diprotes juga dari dosen muda yang merasa dia sulit menembus jurnal-jurnal top-tier," ujar Hamdi dalam podcast UI yang mengundang sejumlah media, Kamis (8/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hamdi menegaskan, UI tidak lagi memberikan ruang bagi publikasi di jurnal predator atau jurnal abal-abal. Dosen yang diketahui menerbitkan karya ilmiah di jurnal semacam itu akan dipanggil dan dikenai konsekuensi.

"Tidak ada ruang untuk yang tadi predator. Predator atau jurnal abal-abal itu sudah tidak ada. Jadi sekarang kalau mereka ketahuan, saya punish," kata Hamdi.

ADVERTISEMENT

Menurut Hamdi, kebijakan tersebut tidak hanya menyasar publikasi yang menggunakan dana riset internal UI. Dosen yang menerbitkan artikel di jurnal predator atas inisiatif sendiri tanpa pendanaan kampus pun tetap akan dipanggil.

"Walaupun dia enggak dapat funding dari kampus, lalu inisiatif sendiri, ya tetap kita panggil. Jadi enggak ada ruang lagi untuk itu," ujar guru besar Fakultas Psikologi UI itu.

Pendanaan Riset UI Difokuskan ke Jurnal Bereputasi

Hamdi menjelaskan, pendanaan riset internal UI kini diprioritaskan untuk mendukung publikasi di jurnal top-tier atau Q1. Adapun dosen yang ingin mengajukan pendanaan melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) masih dapat memperoleh dukungan untuk publikasi di jurnal kuartil kedua (Q2), sesuai skema yang ia jelaskan.

"Kita hanya mendanai dua (kelompok) jurnal itu doang. Jadi hanya kesempatan dosen kalau mau apply dana riset, ya, dari dana kita, either itu top-tier atau Q1. Tapi dosen-dosen tersebut masih bisa apply dana Dikti, karena Dikti masih mau berikan untuk Q2," tuturnya.

Hamdi menjelaskan, pengetatan kebijakan publikasi penelitian merupakan bagian dari strategi UI untuk memperkuat reputasi akademik di tingkat internasional.

Seperti diketahui, peringkat UI dalam sistem pemeringkatan Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027 naik signifikan. Sebelumnya UI masuk dalam klaster 801-1000, pada THE WUR 2027 naik ke kelompok 651-700.

THE WUR memberikan bobot yang signifikan pada riset baik itu faktor kualitas penelitian (research quality) maupun lingkungan penelitian (research environment). Untuk pilar kualitas penelitian, UI mencetak kenaikan 7,5 poin dibanding tahun sebelumnya. Begitu juga untuk pilar lingkungan riset naik 5,2 poin.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah citation impact atau dampak sitasi, yakni sejauh mana karya ilmiah dirujuk oleh peneliti lain. Menurut Hamdi, semakin kuat pengaruh suatu penelitian di kalangan ilmuwan, semakin besar peluang karya tersebut berkontribusi terhadap reputasi riset universitas.

"Memang usaha kita yang lebih tough untuk mulai bersaing dengan (kampus) elite dunia itu adalah meningkatkan reputasi, meningkatkan influence, sehingga itu tercermin dari citation impact. Jadi kalau karya kita itu disitasi sama ilmuwan-ilmuwan hebat, skor bisa cepat naik," ujarnya.

Hamdi mengakui, perguruan tinggi Indonesia masih tertinggal dari universitas terkemuka dunia dalam sejumlah aspek penelitian. Kondisi tersebut, menurutnya, tidak hanya menjadi tantangan bagi UI, tetapi juga bagi perguruan tinggi Indonesia secara umum.

Meski demikian, ia menilai peningkatan reputasi akademik tidak bisa dicapai secara instan. Universitas membutuhkan waktu untuk membangun ekosistem penelitian yang kuat, meningkatkan kemampuan peneliti, serta memperbaiki produktivitas dan kualitas publikasi ilmiah.

"Memang kita ketinggalan jauh. Bukan UI saja seluruh republik ini. Bayangkan UI aja yang paling depan masih ketinggalan apalagi yang lain. Nah tapi nggak bisa juga kita simsalabim tiba-tiba sudah sama posisinya hari ini sama dengan NTU (Nanyang Technological University). NTU juga butuh berapa puluh tahun juga sampai ke posisi itu," katanya.

"Yang penting iklim riset kita kondusif, environment-nya bagus, dosen senang bergairah meneliti, kapabilitasnya kita meningkatkan terus, produktivitasnya kita meningkatkan terus, kualitasnya makin meningkat. Munculnya nanti kalau research quality-nya bagus, sitasinya akan datang sendiri," imbuhnya.

Strategi Cepat tapi Mahal

Selain meningkatkan kualitas penelitian dosen yang sudah ada, Hamdi menyebut perekrutan peneliti unggul dari luar negeri dapat menjadi strategi untuk mempercepat peningkatan reputasi universitas.

Salah satu caranya adalah merekrut peneliti sebagai peneliti pascadoktoral (postdoctoral researcher atau postdoc) untuk bekerja dan melakukan penelitian bersama di kampus.

Hamdi mengatakan, universitas terkemuka memanfaatkan strategi tersebut karena peneliti dengan rekam jejak kuat berpotensi menghasilkan publikasi yang mendapat perhatian dan sitasi dari komunitas ilmiah internasional.

Namun, strategi ini membutuhkan anggaran besar. Hamdi mengakui keterbatasan dana masih menjadi kendala bagi UI untuk bersaing melalui perekrutan peneliti unggul.

"Universitas yang banyak duit itu gencar pakai strategi ini. Kayak transfer pemain bola aja biar cepat reputasi naik. Nah, untuk melakukan itu kita agak sulit karena dana masih terbatas," ujarnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Mahasiswa UI Sambangi Polda Metro, Minta Delpedro Dibebaskan"
[Gambas:Video 20detik] (pal/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads