Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto beri pesan kepada para rektor perguruan tinggi agar tak banyak memiliki atau membuka banyak program studi (prodi). Ia menyebut hal ini akan mempermudah proses administrasi terutama terkait pengurusan akreditasi.
"Tolong jangan kebanyakan prodi, pegel ngurus akreditasi ya kan," tuturnya dalam pembukaan Konvensi Pendidikan Indonesia XII Tahun 2026 di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali pada 2 Oktober 2026 dikutip dari tayangan ulang pada laman YouTube Undiksha, Senin (5/10/2026).
Dibanding menghadirkan prodi baru, Brian menyarankan bila rektor menggabungkan jurusan yang serupa. Namun, ia menekankan merger ini tidak boleh mengurangi jumlah mahasiswanya.
"Kalau perlu digabung-gabung aja, merger kan lebih singkat, yang penting jumlah mahasiswa tidak berkurang," sampainya lagi.
Brian memberi contoh, jika ada lima prodi dengan jumlah mahasiswa masing-masing 100 orang, sehingga jumlahnya 500 orang. Ketika digabungkan menjadi satu prodi, jumlah mahasiswa tidak perlu berkurang dan tetap 500 orang.
"Administrasi mudah, akreditasi yang tadinya lima kali dalam 5 tahun tinggal satu kali. Manajemennya juga enggak banyak gitu ya, sehingga lebih simpel," beber Brian.
Ingatkan Tak Batasi Diri pada Prodi
Lebih lanjut, Brian mencontohkan, dahulu hanya ada prodi teknik elektro. Namun, kini prodi tersebut terpecah-pecah menjadi teknik telekomunikasi, teknik biomedik, teknik informatika, dan seterusnya.
Menurutnya, jika hanya ada satu prodi yang bisa memberikan mahasiswa beragam keterampilan, mahasiswa tersebut punya kesempatan yang lebih luas dalam mencari pekerjaan setelah lulus. Baginya, program studi S1 seharusnya tidak memberikan bidang yang dipersempit.
"Karena kita masih S1, Bapak-Ibu sekalian. Tidak perlu terlalu sempit, bidangnya selalu lebar," jelas Brian.
Ia juga menjelaskan ada sebuah tren di negara Eropa yang hanya memiliki jurusan engineering (teknik) saja. Ketika mahasiswa sudah berada di tingkat/semester 4, mereka diberikan keleluasaan untuk memilih bidang keahlian.
"Ada yang ke teknik sipil, ada yang ke teknik elektro. Di Eropa ada satu negara yang sudah mempraktikkan hal tersebut, ya mungkin kita tidak terlalu ekstrem ya," ungkapnya.
Melihat hal itu, Brian kembali mengingatkan para rektor untuk tak senang membuka prodi baru. Alih-alih prodi, menurutnya yang harus terus dikembangkan adalah keilmuan.
"Prodi itu hanya administrasi. Jangan kita mempersempit keilmuan dengan sekat administrasi," tegasnya.
Mendikti juga menyinggung jika ada pendapat seseorang yang merasa sebuah keahlian harus menjadi prodi, lebih baik tak perlu ditindaklanjuti. Ia menekankan, perguruan tinggi tidak boleh membatasi diri pada prodi dan terus mengembangkan keilmuan.
"Nah, jadi saya titip pesan Bapak-Ibu, kalau perlu, merger aja Pak prodinya, supaya lebih gampang. Administrasi lebih mudah, akreditasi juga murah ya kan? Nanti, akreditasi mahal, saya juga yang dikomplain," guraunya.
"Jadi, itu kita harus membuat paradigma jangan tersekat-sekat dengan administrasi," ujar Brian lagi.
Simak Video "Video: Prabowo Yakin Ada Kekuatan yang Tak Suka Indonesia Bangkit"
(det/twu)