Sentil Riset Menumpuk di Rak, Mendikti: Inovasi Jangan Cuma Hidup di Jurnal!

ADVERTISEMENT

Sentil Riset Menumpuk di Rak, Mendikti: Inovasi Jangan Cuma Hidup di Jurnal!

Cicin Yulianti - detikEdu
Jumat, 02 Okt 2026 20:00 WIB
Mendiktisaintek Brian Yuliarto
Mendiktisiantek. Foto: Dok Kemdiktisaintek
Jakarta -

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyoroti fenomena hasil riset perguruan tinggi yang banyak berakhir pada laporan atau jurnal. Ia mengingatkan perguruan tinggi agar mampu mentransformasikan inovasi menjadi produk nyata.

Pesan tersebut disampaikan Mendiktisaintek dalam sambutannya yang dibacakan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Komersialisasi dan Kemitraan Kemdiktisaintek, Adhi Indra Hermanu sebagai perwakilan dalam pembukaan acara UI Innovation Festival (UIIF) 2026.

"Inovasi tidak boleh hanya hidup di laboratorium dan jurnal ilmiah. Jadi harus hadir di tengah masyarakat: dikenal, dirasakan, dan memberi manfaat," kata Brian diwakili Adhi di Mall Gandaria City, Jakarta Selatan pada Jumat (2/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Brian menyebut perguruan tinggi punya peran penting dalam kemajuan teknologi dan riset suatu negara. Kampus harus mampu menyelesaikan dan mencari solusi lewat riset.

"Kita harus terbuka pada tantangan nyata. Indonesia memiliki banyak peneliti hebat dan riset-riset yang bermutu, namun terlalu banyak riset yang berhenti di publikasi, prototipe, dan tumpukan di rak laporan," tutur Brian.

ADVERTISEMENT

Kendala Pengembangan Riset di Indonesia

Dalam isi pidatonya, Brian menyoroti fakta bahwa Indonesia sejatinya memiliki banyak peneliti hebat dengan riset bermutu tinggi. Meski demikian, masih banyak hasil inovasi yang kandas di tengah jalan dan tidak sampai dikomersialisasi.

Ia membeberkan sejumlah faktor yang menjadi tantangan nyata riset di tanah air seperti belanja riset masih minim, alokasi anggaran penelitian dan pengembangan Indonesia diakui masih tertinggal jauh dibanding negara-negara maju hingga jurang lembah kematian (valley of death).

"Hilirisasi tidak dapat dibebankan hanya kepada peneliti seorang diri. Kita membutuhkan sebuah ekosistem yang terintegrasi," kata Brian.

Peneliti Diminta Keluar dari Zona Nyaman

Brian kemudian mengajak seluruh sivitas akademika bergerak dari riset dasar menuju riset berdampak. Ia juga menegaskan, jalur hilirisasi harus dirancang jelas sejak awal.

Mulai dari laboratorium menuju prototipe, berlanjut menjadi produk siap pakai. Kemudian, produk bisa menembus pasar hingga melahirkan dampak ekonomi dan sosial nyata.

"Kepada para peneliti dan perguruan tinggi, silakan keluar dari zona nyaman penelitian. Jangan takut membawa hasil riset ke luar laboratorium, dengarkan masalah industri dan masyarakat," ajak Brian.

Pesan serupa juga ia titipkan kepada generasi muda khususnya mahasiswa, dan perintis startup. Ia mendorong agar mereka tidak takut mengalami kegagalan saat berinovasi.

Kepada mahasiswa dan startup, beranilah mencoba, "beranilah gagal, dan beranilah mengambil peran dalam mencari masalah nyata di sekitar kita. Jadilah bukan hanya pengguna, tetapi juga pencipta teknologi," kata Mendikti.

"Kepada Bapak, Ibu mitra industri, silakan datang ke kampus. Hari ini bisa berbicara dengan banyak akademisi di sini, sampaikan persoalan nyata dan kebutuhan solusi teknologi. Kepada investor, lihatlah potensi inovasi yang lahir dari perguruan tinggi Indonesia dan jadikan mereka rekan bertumbuh, bukan hanya pembeli lisensi semata," imbuhnya.



(cyu/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads