Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath mengatakan pendidikan tinggi dan riset sebagai pilar utama hubungan bilateral negaranya dengan Indonesia. Melalui program Kolaborasi untuk Pengetahuan, Inovasi, dan Teknologi Australia-Indonesia (KONEKSI), Kamath menyatakan pihaknya dapat mendukung prioritas pembangunan RI.
"Dan juga aspirasinya (RI) menjadi pusat pendidikan tinggi dan riset di kawasan dan global," kata Kamath pada wartawan di sela pembukaan Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit di Shangri-La Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (28/54/206).
Ia merinci, lebih dari 20 ribu pelajar Indonesia menempuh pendidikan di Australia. Pendidikan dan biayanya salah satunya didukung lewat program Australia Awards.
Sementara itu, tiga kampus cabang dari perguruan tinggi Australia di Indonesia menurutnya juga menjadi dukungan jangka panjang bagi Indonesia untuk menjadi pusat pendidikan global. Sedangkan melalui New Colombo Plan, lebih dari 3.500 mahasiswa Australia telah belajar dan magang di Indonesia.
Kamath menambahkan, dalam bidang riset, Australia merupakan salah satu mitra kolaborasi Indonesia dengan lebih dari 8.500 publikasi bersama.
"Melalui KONEKSI, lebih dari 100 proyek riset dan inovasi telah dilaksanakan di isu-isu strategis seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, energi terbarukan, kendaraan listrik, dan transformasi digital. Hasil-hasil riset tersebut menunjukkan bahwa ketika Australia dan Indonesia bekerja sama, kita mampu menghasilkan solusi yang relevan, inklusif, dan berdampak luas," tuturnya.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Fauzan Adziman mengatakan, selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mengusung prioritas pengembangan sektor SDM, kerja sama RI-Australia yang sudah berjalan tidak hanya di level pemerintahan, tetapi juga partisipasi aktif dari berbagai institusi, perguruan tinggi dan industri kedua negara.
Hal ini salah satunya tampak melalui komitmen dan keberadaan perguruan tinggi Australia di Indonesia yang berkontribusi pada pengembangan sektor pendidikan.
"(Australia) menjadi rumah kedua, terutama bagi para mahasiswa Indonesia yang menaruh minat sebegitu besarnya terhadap sektor pendidikan tinggi, sains dan teknologi Australia," kata Fauzan membuka KIE Jakarta Summit.
"Kerja sama ini diharapkan turut juga dapat memberikan sumbangsih dan peran positif dalam pengembangan kapasitas perekonomian nasional melalui hilirisasi kemitraan dan relasi antar dunia industri serta sektor pendidikan," ucapnya pada kesempatan yang sama.
Pemanfaatan Riset RI-Australia
Untuk memastikan hilirisasi, hasil penelitian sendiri salah satunya harus dimulai dari masalah yang ada di tengah masyarakat, industri, dan didukung pemda.
"Publikasi tetap kunci, tetapi kita hilirkan lagi supaya bermanfaat. Jadi dimulai dari masyarakat dan industri. Kemudian, setelah kita proses, kita kembalikan lagi ke masyarakat dan industri, sehingga riset dari awal sudah terlihat siapa off-taker-nya, siapa yang akan menggunakannya. Nah, ini akan mempermudah proses hilirisasi riset kita," ucapnya pada wartawan.
KIE Jakarta Summit menampilkan 12 riset dari bidang kategori prioritas yang meliputi pendidikan, teknologi, kesehatan, air, pangan, dan energi. Pada ajang ini, sebanyak 38 proyek riset bidang lingkungan dan perubahan iklim Indonesia-Australia yang didukung KONEKSI dan rampung pada 2025 juga didorong untuk diterapkan secara lebih luas melalui pertemuan antara sekitar 300 pejabat senior lintas kementerian, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat sipil.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Febrian Alphyanto Ruddyard mengatakan, pihaknya memanfaatkan temuan-temuan riset bidang lingkungan dan perubahan iklim dari kolaborasi peneliti RI-Australia ini dalam proses perencanaan jangka pendek, panjang, dan menengah.
"Perubahan iklim satu hal yang perlu diantisipasi tidak saja secara kreatif, tapi juga dari perencanaan. Bappenas memanfaatkan hasil-hasil ini tidak saja dalam konteks aplikasi ke lapangan, tapi kita juga memasukkan dalam proses perencanaan, monitoring, dan evaluasi," ucapnya.
Ia menambahkan, hasil riset dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan pemerintah.
"Di konteks perencanaan, kita selalu mulai dari data dan diakhiri dengan data. Dan itu hanya bisa diselesaikan kalau menggunakan riset yang kredibel," ucapnya.
Simak Video "Video: Demi DNA Purba, Peneliti RI Ini Jalani Hari 'Tanpa Malam' di Antartika"
(twu/nwk)