Waka BRIN Jelaskan Kenapa Mobil Bisa Berhenti di Tengah Rel Kereta Api

ADVERTISEMENT

Waka BRIN Jelaskan Kenapa Mobil Bisa Berhenti di Tengah Rel Kereta Api

Devita Savitri - detikEdu
Selasa, 28 Apr 2026 15:30 WIB
Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amarulla Octavian dalam acara BRIN 5.0: Inovasi untuk Negeri, di Ruang Jirap, Gedung BJ Habibie BRIN Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026).
Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amarulla Octavian dalam acara BRIN 5.0: Inovasi untuk Negeri, di Ruang Jirap, Gedung BJ Habibie BRIN Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026). Foto: Devita Savitri/detikcom
Jakarta -

Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amarulla Octavian beri penjelasan kenapa mobil bisa berhenti di tengah rel kereta api. Hal ini dijabarkannya untuk merespons kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek yang menabrak kereta rel listrik (KRL) di Bekasi Timur.

Amarulla menyebut BRIN memiliki kajian riset terkait hal itu. Berdasarkan hasil kajian, kendaraan bermotor bisa berhenti di tengah-tengah rel kereta api karena terpengaruh oleh medan magnet yang besar.

"Dari data-data teknis sebelumnya (ditemukan) tidak hanya mobil listrik, tapi mobil dengan bahan bakar juga banyak yang tidak cukup tahan terhadap pengaruh medan magnet besar ketika kereta api itu akan lewat," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini disampaikan Amarulla dalam acara BRIN 5.0: Inovasi untuk Negeri, di Ruang Jirap, Gedung BJ Habibie BRIN Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026).

ADVERTISEMENT

Medan Magnet di Rel Kereta Api

Ketika kereta api akan lewat, sebuah medan magnet besar tercipta yang bersumber dari lokomotifnya. Akibatnya, listrik magnet terhantar sampai ke rel kereta api.

Saat mobil melintas di rel saat kereta api sudah dekat, listrik medan magnet itu bisa menyambar pada mesin. Mesin yang terganggu kemudian bisa mati mendadak dan sulit untuk bisa dihindari.

"Jadi medan magnet yang besar itu dihasilkan oleh kereta api yang mau lewat. Jadi karena sumbernya itu di lokomotif itu besar sekali, listriknya, magnetnya itu terhantar sampai ke rel kereta api ke depan," urainya.

Melihat keadaan ini, Amarulla menilai perlu ada kajian lebih lanjut untuk mengetahui cara menetralisir medan magnet di sekitar lintasan kereta api. Dengan begitu, lalu lintas mobil yang akan lewat tidak akan terganggu.

Selain itu, BRIN juga akan melanjutkan riset-riset tentang sistem jaring keamanan dalam penggunaan lintasan kereta api. Seluruh langkah ini menjadi upaya BRIN untuk menekan angka kecelakaan kereta api di masa mendatang.

"Kita akan melanjutkan riset-riset terkait dengan menerapkan sistem jaring keamanan untuk penggunaan lintasan kereta api. Seberapa jauh sebetulnya sistem deteksi itu bisa diketahui secara otomatis oleh masinis di gerbong kereta api," paparnya lebih lanjut.

Sebelumnya dikabarkan sebuah kecelakaan kereta terjadi di Stasiun Bekasi Timur yang melibatkan kereta api jarak jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line lintas Cikarang pada Senin, (27/4/2026) malam.

Kecelakaan diduga diawali oleh mobil taksi listrik yang tertabak KRL karena melintang di atas rel. Tabrakan ini kemudian mengganggu perjalanan KRL selanjutnya yang menuju Cikarang.

KRL itu berhenti di jalur yang sama dengan KA Argo Bromo Anggrek. Lantaran erornya sinyal yang diberikan, KA Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang KRL arah Cikarang tersebut hingga menembus gerbong wanita KRL.

Dikutip dari detikNews, data terbaru menunjukkan jumlah korban meninggal dunia mencapai 14 orang dan 84 korban luka-luka. Seluruh korban yang meninggal dunia dilaporkan berjenis kelamin perempuan yang berada di gerbong wanita KRL.



(det/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads