Banyak Riset Bagus Tapi Masih Jauh dari Komersialisasi, Bagaimana Solusinya?

ADVERTISEMENT

Banyak Riset Bagus Tapi Masih Jauh dari Komersialisasi, Bagaimana Solusinya?

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 28 Apr 2026 20:30 WIB
ilustrasi riset
Ilustrasi. Foto: thinkstock
Jakarta -

Isu hilirisasi riset masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Hal ini disoroti oleh Mariam Kartikatresni, National President Indonesia Australia Business Council.

Menurutnya, meski jumlah riset di Indonesia terus meningkat, hanya sebagian kecil yang berhasil dikembangkan menjadi produk komersial, paten, atau bisnis berskala besar. Kondisi ini bahkan terjadi pada riset-riset yang sebenarnya memiliki kualitas baik.

"Jadi ada mungkin pembicaraan di antara bisnis, seperti itu, yang melihat bahwa hasil riset itu banyak yang bagus, tapi masih jauh dari komersialisasi," ucapnya pada Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit di Shangri-La Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (28/4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mendorong Riset Komersial dengan Industri

Mariam menilai, selain dukungan kebijakan dan insentif dari pemerintah, perlu ada dorongan untuk menghasilkan riset yang lebih aplikatif dan berorientasi pasar. Di sisi lain, keterlibatan sektor industri dalam proses penelitian juga harus diperkuat.

ADVERTISEMENT

Ia menekankan pentingnya membangun komunikasi yang intens antara peneliti dan pelaku industri. Kolaborasi ini dinilai krusial untuk merumuskan persoalan nyata di lapangan sekaligus menghadirkan solusi berbasis riset yang relevan.

Terkait kendala biaya riset yang kerap dianggap tinggi oleh industri, Mariam menawarkan skema kolaborasi sebagai jalan keluar. Ia mencontohkan, sebuah projek riset dibuat langsung antara universitas yang juga mempunyai dana riset bersama suatu perusahaan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, hubungan antara kampus dan industri perlu diperkuat secara sistematis. Salah satu upayanya yaitu dapat melalui mentoring periset oleh pihak industri secara langsung, yang sudah dipraktikkan di Australia.

Ia mencontohkan, bentuk sederhananya yakni dilakukan oleh perusahaan dan perguruan tinggi yang dinaunginya.

"Saya rasa ini bisa kita coba terapkan sehingga dananya juga di-support, tidak hanya oleh perusahaan, tapi juga oleh perguruan tinggi, mungkin dari pemerintah," sambungnya.

Mariam mengatakan, RI dan Australia juga bisa bekerja sama menumbuhkan modal ventura Australia dan startup Indonesia untuk memicu komersialisasi.

"Ini salah satu yang bisa kita coba jalankan," ujarnya.

Scale Up

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dirjen Risbang Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman mengatakan scale up secara terus menerus dalam proses pengembangan riset merupakan kunci agar hasilnya bisa dikomersialisasi.

"Rata-rata hasil riset yang bisa dikomersialisasi ini bukan hitungan 1-2 tahun, tapi lebih 10-15 tahun," ucapnya.

"Jadi tidak one-off. Jadi memang harus ada continuity, kelanjutan," ucapnya.

Dalam hal scaling up, ia mencontohkan, Danantara salah satunya tengah berperan untuk mendukung pelatihan SDM dan pengembangan industri semikonduktor di Indonesia.

"Saat ini kami membuka pelatihan semikonduktor bersama Danantara. Kemudian, nanti hasil dari pelatihan nanti akan kita bangunkan ekosistem industri di sana," ucapnya.

Ia menambahkan, adapun produk-produk semikonduktor dari Indonesia dikembangkan lebih lanjut, sementara hasil riset dari perguruan tinggi dalam negeri dikerjasamakan dengan Australia hingga Belanda.

"Harapannya terus mendorong agar industri kita tadi terus berjalan," jelasnya.

Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit digelar Selasa-Rabu, 28-29 April 2026. Mendorong penerapan 38 hasil riset RI-Australia dalam konteks yang lebih luas, summit ini mempertemukan sekitar 300 akademisi, pelaku industri, masyarakat sipil, dan pejabat lintas kementerian.




(twu/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads