Tangis Haru Warga Maluku Lepas Kepulangan Mahasiswa KKN UGM, Apa Rahasianya?

Tangis Haru Warga Maluku Lepas Kepulangan Mahasiswa KKN UGM, Apa Rahasianya?

Rahma Harbani - detikEdu
Senin, 22 Agu 2022 14:45 WIB
Momen kebersamaan KKN-PPM UGM dengan warga Maluku Tenggara
Momen perpisahan tim mahasiswa KKN-PPM UGM dengan warga Ohoi Dani, Maluku Tenggara di Bandara Karel Sudsuitubun. (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Tim Kuliah Kerja Nyata atau KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) di Desa atau Ohoi Dian, Kecamatan Hoat Sorbay, Maluku Tenggara meninggalkan kesan tersendiri bagi warganya. Terbukti, kepulangan mereka ke Jogja diwarnai isak haru dari warga setempat.

Hal tersebut diamini oleh salah satu warga Ohoi Dian, George Meturan dalam unggahan video di akun TikTok-nya. Bukan tanpa alasan, alasan utama tangis pecah warga saat harus melepas mahasiswa KKN-PPM UGM tersebut adalah sikap dan perilaku mahasiswa yang dikenal baik.

"Yang membuat kami nangis, termasuk saya juga kemarin nangis sampai mata bengkak, karena yang pertama mereka good attitude (bersikap baik). Attitude mereka sangat baik. Number one (nomor satu)," ungkap George.

Pemilik akun TikTok @george_meturan ini sudah mengizinkan detikEdu mengutip unggahannya. George juga menjelaskan, sikap baik dari mahasiswa tercermin saat mereka mudah berbaur dengan masyarakat dalam segala jenis usia, baik orang tua, pemuda, hingga anak-anak.

"Di luar proker (program kerja) pun mereka tetap berbaur dengan masyarakat, hidup sama seperti dengan kami di kampung," katanya.

Ditambah lagi, kata George, mahasiswa Kristen KKN asal UGM itu juga rutin menghadiri ibadah di Gereja setiap hari Minggu sekaligus bersosialisasi dengan warga. "Yang Muslim dan Hindu pun ikut. Itu yang membuat masyarakat begitu sayang dengan mereka," tutur dia.

Faktor lainnya, diakui George, proker yang diusung mahasiswa KKN tersebut bermacam-macam. Diketahui, memang ada 100 proker yang dikerjakan mereka dengan total 48 proker tunggal.

Sejumlah proker unggulan tim KKN-PPM UGM tersebut di antaranya pelatihan produksi tempe dari kacang tanah, budidaya maggot pengurai sampah organik, penanaman mangrove, perbaikan administrasi pemerintahan, donasi buku, perbaikan lampu jalan, hingga layanan pemeriksaan kesehatan gratis.

Momen kebersamaan KKN-PPM UGM dengan warga Maluku TenggaraMomen kebersamaan tim mahasiswa KKN-PPM UGM dengan warga Ohoi Dani, Maluku Tenggara. (Foto: Dok. Pribadi)

Tips Sukses KKN ala Tim KKN-PPM UGM

Kepada detikEdu, Julungpujud Segarawisesa selaku Koordinator Tim KKN-PPM UGM Kecamatan Hoat Sorbay mengaku tidak memiliki persiapan khusus yang dilakukan kelompoknya dalam berbaur dengan warga Ohoi Dian. Persiapan yang dilakukannya hanya berfokus pada komunikasi secara internal dan eksternal.

"Kami satu tim dari awal selalu membangun komunikasi yang baik secara internal maupun eksternal," kata dia, Senin (22/8/2022).

Menurut Igo, begitu ia disapa, komunikasi menjadi hal penting bagi kelompok KKN-nya mengingat tiap anggota timnya belum mengenal satu sama lain dengan baik. Begitu pun dengan warga di lokasi tempat mereka mengabdi yang jauh lebih asing lagi.

1. Sewa Kontrakan Demi Bonding

Igo mengatakan, timnya yang beranggotakan 30 orang tersebut sebelumnya tidak saling mengenal satu sama lain. Maksudnya, tim KKN mereka terbentuk atas dasar kenalan teman, bukan kenalan secara langsung.

"Beda dari kelompok lain yang mungkin sudah kenal satu sama lain," kata dia.

Untuk itu, Igo dan teman-temannya sepakat untuk merutinkan bonding atau kegiatan mengakrabkan diri antar anggota kelompok minimal 2-3 kali dalam seminggu. Bahkan, untuk mendukung kegiatan itu mereka menyewa sebuah kontrakan bersama di dekat kampus.

"Kami sampai urunan kontrakan di Jogja dekat UGM, supaya kami bisa kumpul 30 orang, main games bareng, seru-seruan, supaya kami bisa kenal satu sama lain," terangnya.

2. Biasakan Empati

Sebagai koordinator kelompok, Igo juga kerap mengingatkan teman-temannya untuk melatih manajemen emosi dengan baik. Terutama dalam hal empati.

"Saya selalu bilang ke teman-teman harus manajemen emosi dengan baik agar bisa memposisikan diri seperti orang lain atau empati," tuturnya.

Hal ini juga tidak hanya berlaku untuk lingkup antar anggota kelompok KKN. Igo juga mengajak temannya menerapkan hal itu dalam lingkup berinteraksi dengan warga.

"Kita harus menempati diri sendiri di orang lain, sebelum ngomong bakal melukai hati warga tidak?" kata Igo.

3. Jadi Pendengar yang Baik

Menurut Igo, perlakuan orang lain pada kita tercermin dari hal yang kita lakukan pada orang lain, seperti berlaku sopan santun. Sikap sopan santun ini ditanamkan Igo dan teman-temannya sepanjang mengabdi di Ohoi Dian selama 50 hari.

"Sesimpel menyapa orang-orang saat ketemu Mama-mama atau Ibu-ibu di jalan. Itu mereka akan menyapa kita balik dan menganggap kita ramah," terangnya.

Lebih lanjut, Igo juga mengingatkan, pentingnya skill mendengarkan orang lain selama menjalani KKN. "Ketika ada masyarakat mengutarakan pendapat, jangan langsung mendebat, meluruskan, dan menyanggah," ujar Igo.

"Kita harus belajar dengarkan pelan-pelan apa yang mau diomongin, arahnya kemana, lalu ditelaah. Baru kita tentukan sikap mau diluruskan atau biarkan saja supaya tidak ada miskomunikasi," lanjutnya.

4. Rajin "Nongkrong" dan Belajar Bahasa

Terakhir, Igo dan teman-temannya kerap kali menyempatkan diri untuk bersosialisasi dengan warga setempat. Salah satu cara yang dilakukannya, kata Igo, menyempatkan diri duduk selama 5-10 menit bersama warga yang ditemuinya di jalan.

"Sempetin mampir bentar 5-10 menit ajak ngobrol, Kita tanya basa-basi aja. Tidak harus proker. Mereka senang digituin," terang dia.

Mengagendakan pertemuan rutin dengan pemuda setempat juga dapat membantu dalam mengakrabkan diri dengan warga. "Kalau sudah akrab, nanti bisa dicariin orang buat proker misalnya, jadi membantu banget," katanya.

Momen kebersamaan KKN-PPM UGM dengan warga Maluku TenggaraMomen kebersamaan tim mahasiswa KKN-PPM UGM dengan warga Ohoi Dani, Maluku Tenggara. (Foto: Dok. Pribadi)

Rajin bersosialisasi ini juga menurut Igo menjadi kunci "penghancur" tembok pembatas perbedaan bahasa antara warga dan mahasiswa. Untuk itu, dirinya meminta teman sekelompoknya untuk belajar berbicara bahasa Kei dalam sehari-hari.

"Kita lambat laun bisa adaptasi, salah satunya dengan harus sering ngobrol dengan mereka," ungkap Igo.

"Kalau kita (bicara) pakai dialek sana, mereka senang gitu. 'Oh ini anak-anak dari UGM mau adaptasi dengan orang sini' mereka merasa dihargai. Supaya warga juga merasa lebih dekat sama kita," tandasnya lagi.



Simak Video "'KKN di Desa Penari Extended Version' Siap Tayang Desember! "
[Gambas:Video 20detik]
(rah/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia